Pemberdayaan Diri dan Personal Changing


MiracleWays dalam metodenya menggunakan prinsip-prinsip keselarasan sistem tubuh (hati dan pikiran) dengan sistem kosmik untuk membuang dan melepaskan file-file yang tidak diperlukan, memperkuat file-file yang mendukung kinerja, dan mengisinya (installing) dengan program baru sehingga sistem tubuh mampu menampilkan performa kinerja yang lebih baik dan tangguh.

Pemberdayaan Diri, secara prinsip, dimulai (start-up) ketika kondisi tubuh telah terbebas dari file-file yang tidak diperlukan, mengalami penguatan atas file-file yang mendukung kinerja yang diperkokoh dengan instalasi program baru. Selanjutnya, adalah maintenance atas upaya start-up tersebut. Dalam konteks pelepasan sistem tubuh dari file-file yang tidak diperlukan, meliputi: melepaskan pikiran dan emosi yang tidak diperlukan atau membersihkan pikiran, melepaskan emosi negatif, penghancuran mental blocks, dsb. Sedangkan maintenance, meliputi pengelolaan emosi melalui treatment pada basis inner awareness dalam beberapa tahapan seperti yang dijelaskan pada bagian Tentang. Pada tingkat lanjut, pengelolaan inner awareness ini menyentuh area inner peace, yang pada tingkat tertentu juga bermanfaat untuk penyembuhan diri.

Capaian Pemberdayaan Diri di MiracleWays adalah pada level start-up dan maintenance itu. Ini merupakan penyiapan elementer (dasar) bagi upaya pemberdayaan diri secara praktikal atau teknikal seperti achievement, strategic thinking, leadership, soft skills, personal branding, performance management, dsb.

Pemberdayaan Diri dalam kurikulum MiracleWays lebih pada penyiapan faktor elementer, yakni pada penguatan struktur emosi dan mental, untuk men-support upaya-upaya pemberdayaan teknikal seperti achievement, strategic thinking, leadership, soft skills, personal branding, performance management, dsb.

Faktor elementer ini merupakan human factors yang melandasi semua aktivitas seseorang di ranah praktis, di bidang sosial, bisnis, pendidikan, politik, olahraga, dsb. Penguatan di ranah human factors elementer ini sangat diperlukan dalam segala aktivitas tersebut.

Contoh kasus di bawah ini menunjukkan bahwa kestabilan emosi dan ketahanan mental lebih penting daripada kepandaian akademik. Memang lebih baik jika kecerdasan (kecerdasan apapun yang dimiliki anak) dibarengi dengan kestabilan emosi dan ketahanan mental.

Pengalaman menarik salah seorang klien MiracleWays.

(telah mendapat persetujuan Nikko untuk ditulis)

Seorang pelajar SMP, namanya Nikko. Waktu itu (2010) usianya 14 tahun, cerdas, berpikiran positif, daya nalarnya di atas rata-rata temannya, banyak teman, sering menang lomba sains di kotanya. Suatu ketika Nikko terpilih menjadi peserta olimpiade sains tingkat nasional (OSN). Senang, tentu saja. Ini impiannya sejak lama, ingin ikut Olimpiade Sains Nasional. Hampir setiap hari Nikko membayangkan lomba itu, karena senangnya. Namun ketika ia tahu bahwa beberapa diantara peserta olimpiade sains nasional itu adalah pelajar-pelajar yang pernah menyabet medali perak pada olimpiade sebelumnya, Nikko tidak bisa menyembunyikan rasa was-wasnya. Rasa kawatir mulai menggelayuti pikirannya. Emosinya mulai goyah. Perasaan takut mulai menyerang. Perasaan takut kalah, mendapat lawan berat, dsb sehingga menurunkan semangat belajar dan daya juangnya. Singkatnya, Nikko menjalani prosedur Miracle Way berbarengan dengan persiapan-persiapan belajarnya, yakni salah satu metode untuk memperkuat energi belajarnya sekalian memperkuat mental dan emosi, yakni metode “Miracle Learning” atau lebih dikenal dengan “Smart Learning” dan diperkuat dengan teknik khusus sehari sebelum berangkat.

Penuturan Nikko seusai lomba, menyatakan bahwa ia menjadi tenang dan stabil emosi selama olimpiade. Ketakutan seperti ketika sebelum berangkat, menjadi sirna, sehingga ia bisa mengikuti lomba tersebut dengan mulus. Hanya saja Nikko belum berhasil memperoleh medali di ajang OSN tersebut. Namun pengalaman ini membuat Nikko menjadi sadar sehingga merevolusi cara belajarnya dengan “Smart Learning”, dan mengaplikasikan teknik Create the Future seusai olimpiade tersebut. Selama SMA ia menunjukkan perubahan luar biasa hingga pada bidang-bidang yang tidak diajarkan secara mayor pada jurusannya di sekolah, yakni kemampuan berbahasa dan menguasai bahasa asing dalam waktu relatif singkat, kemampuan memahami teks buku-buku secara cepat. Dan sejak tahun 2014 Nikko tercatat sebagai mahasiswa internasional di Chongqing Medical University, Tiongkok, program kedokteran (MBBS), dan menjadi presenter terbaik dan pemenang peringkat I pada event seminar dan kompetisi akademik di kampusnya.

Pelajarannya di sini adalah pengalaman ini menunjukkan kecakapan soft skills yang dibangun di atas fondasi ketahanan emosi dan mental. Kisah Nikko bisa dibaca di blognya: http://www.nikkoakbar.blogspot.com. Kisah capaian pengalaman miracle-nya ditulis oleh Nikko di sini.

Contoh studi kasus tersebut menjelaskan tentang urgensi penguatan human factors elementer. Penguatan ini sangat penting dilakukan untuk pelajar-pelajar Indonesia untuk membangun fondasi mental yang kokoh, tidak hanya menjelang UJIAN NASIONAL saja, tetapi menjadi kebiasaan yang menyatu dalam kurikulum dan sistem pembelajaran di sekolah. Demikian juga pada jenjang perguruan tinggi.

Inilah REVOLUSI MENTAL yang sebenarnya !

Pada dunia kerja, bisnis, politik, dsb, penguatan human factor elementer ini sangat mendukung produktivitas dan performa.

Sebagai contoh, pengalaman salah seorang klien Miracle Way yakni Ibu Anis, seorang pekerja sosial pendamping masyarakat (disebut “fasilitator kelurahan”, disingkat “faskel”) pada program Pemberdayaan Nasional Masyarakat Mandiri (PNPM), di kota P di Jawa Timur. Tidak ada masalah pada ibu ini baik secara individual maupun tim. Tugas-tugas pribadi dan tim selalu dapat diselesaikan dengan baik, walaupun pendampingan masyarakat dilakukan dengan menyesuaikan dengan jam kerja masyarakat dampingan yang memiliki jam kerja bebas, hingga malam hari. Tugas lapangan dan administrasi pada faskel ternyata sangat menguras energi karena bekerja penuh waktu, siang malam, dengan beban pendampingan masyarakat termsuk membantu menyelesaikan masalah jika terjadi konflik dsb, dan beban administrasi. Rata-rata para faskel mengalami kelelahan fisik dan psikis.

Singkatnya ibu Anis menjalani prosedur Miracle Way dan beliau melakukan maintenance pasca treatment. Penuturan ibu Anis, sehari pasca treatment, ia merasakan kebugaran dan vitalitas yang sangat baik yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Merasa bugar, berenergi, dan tidak merasakan beban dan kecemasan apapun dalam tekanan dan beban tugas. Teman-teman beliau, para faskel pun menyatakan keheranannya. Di mata teman-temannya, ibu Anis senantiasa tampak bugar tanpa ada gurat kelelahan di wajahnya. Pengalaman ibu Anis ini menunjukkan bahwa penguatan emosi sebagai human factor elementer mampu mengubah performanya.

(telah mendapatkan persetujuan dari Ibu Anis untuk ditulis di sini).

Pemberdayaan Diri, atau sering disebut self empowerment, personal development, pengembangan diri, dsb, pada prinsipnya merupakan upaya mengubah mindset, pola pikir, struktur mental agar menjadi lebih produktif dan support pada misi produktivitas kinerja baik secara individual maupun organisasional misalnya pada organisasi sosial, pendidikan, bisnis, politik, dsb.

training

Personal Changing, perubahan personal, adalah perubahan pola pikir, mindset yang membawa pada perubahan cara berpikir dan cara bertindak kepada yang lebih baik.

Perubahan mindset merupakan persoalan rumit dan tidak sederhana, akan tetapi bukan tidak mungkin. Proses perubahan ini tidak terjadi secara independen, namun terjadi secara holistik melibatkan elemen-elemen kesadaran dalam diri manusia. Diawali dari pembersihan pikiran, pembersihan rumah mental yang berisi file-file yang tak digunakan, memperkuatnya dan membuatnya permanen. Kondisi ini didapat pada Kesadaran Internal dan Inner Peace.

 

Iklan