Inner Peace dan Penyembuhan Diri


Apa Itu Inner Peace

Inner Peace, kedamaian internal, atau ‘kedamaian di dalam’, adalah suatu kondisi ketenangan jiwa yang mendalam, lebih dalam dari ketenangan pikiran karena fase ini aktivitas berpikir dinon-aktifkan pada tahap awal. Tahap inipun dicapai setelah pencapaian kestabilan emosi dan mental. Sedikit penjelasan mengapa ‘pikiran dinonaktifkan’ (untuk sementara), adalah karena aktivitas pikiran adalah aktivitas ‘kesadaran luar’, penuh atribut, kepentingan, kebutuhan, analisis sehingga mengundang semakin banyak anasir luar. Padahal untuk mencapai ‘kesadaran internal’ sebagaimana penjelasan pengenalan awal pada bagian Tentang, diperlukan ketenangan sebagai pemicu awal. Sehingga, syarat permulaan adalah menanggalkan dan meninggalkan apa-apa yang bisa mengurangi ketenangan. Aktivitas pikiran memiliki wilayah “di luar”. Sedangkan inner peace berurusan dengan “menjenguk ke dalam” diri, ke relung hati dan kedalaman batin.

Kondisi inner peace berbeda dengan ketenangan pikiran, walaupun untuk menuju kondisi inner peace dibutuhkan ketenangan pikiran.

Tetapi, untuk mempraktikkannya nanti, kita tidak menggunakan terminologi “ketenangan pikiran” karena bisa mengundang kesalahan makna yang direspons beda oleh ‘kesadaran internal’ kita. Kondisi ini juga berbeda dengan “masuk ke bawah sadar” dalam terminologi hipnosis – hipnoterapi.

Masuk ke kondisi inner peace adalah menjenguk kesadaran internal atau kesadaran batin terdalam, melalui hati nurani.

Keselarasan Sistem Manusia dengan Sistem Alam Semesta

Kesadaran internal adalah kesadaran terdalam, letaknya di dalam hati nurani. Jadi untuk mencapai inner peace, kesadaran internal atau kesadaran terdalam, harus memasuki hati nurani sebagai pintu masuknya. Kondisi inner peace tempat bersemayamnya “kesadaran tertinggi” dalam hirarki kesadaran spiritual organisme hidup yang komplit, yang bernama ‘manusia’. Tempat bersemayamnya bahagia.Yang tinggi letaknya di kedalaman, di ceruk terdalam. Inilah port hati dalam sistem tubuh manusia yang siap terhubung dengan portkey dalam sistem alam semesta dan utilisasi kesadaran, yang dimaksud di bagian Tentang.

Dalam latihan inner peace ini, hati didahulukan ketimbang pikiran, tegasnya, pikiran di-non-aktif-kan, diganti dengan hati yang aktif. Mengapa? Karena pikiran berisi program buatan yang bermacam-macam, sedangkan hati sifatnya murni. [lihat di bagian Tentang]. Ketika hati aktif, maka pikiran atau otak pun mengikuti! Gelombang otakpun dengan sendirinya turun ke level alfa, yaitu tenang, sehingga sinyal dan frekuensi gelombang otak atau gelombang pikiran pun terkontrol dan selaras dengan hati. Getaran dan gelombang hati terpancar melalui pikiran/ otak (pintu keluar: ubun-ubun). Pada tahap tertentu pada ritme langkah ini, pikiran dan hati menyatu, tidak ada beda atau tidak terasa antara hati dan pikiran. Tetapi hal ini tidak perlu kita pusingkan karena malah membuat kita menjadi pusing. Cara yang paling mudah untuk mengontrol hati dan pikiran [penyempurnaan dari metode sebelumnya, dari http://www.MiracleWays.com] adalah dengan mengontrol perasaan. Apa yang kita rasakan saat itu adalah suasana atau kondisi (state) hati dan pikiran! Semakin tenang perasaan saat itu, artinya makin klik antara hati dan pikiran, begitu seterusnya. Berikut adalah “komunikasi” antara hati dan pikiran / otak.

Nah, karena hati dan pikiran (otak) nyambung atau menyatu, untuk mendeteksi getaran dan gelombang port hati (=pikiran) kita dengan alam semesta, adalah dengan “memeriksa” kesamaan antara keduanya. Bentuk dan pola struktur alam semesta dalam penciptaannya sama atau sebangun dengan bentuk sel otak manusia ! Benda-benda alam yang ada di sekitar kita hingga galaksi, universe, alam semesta, ternyata memiliki bentuk dan pola yang sama ! Perhatikan gambar berikut.

Ini adalah desain penciptaan alam semesta

Struktur sel otak manusia sama dengan struktur dan pola alam semesta !

dan… pikiran & emosi mampu mengubah DNA !

maka…

penyelarasan hati – pikiran – emosi dengan semesta

mampu mengubah apapun !

Penyelarasan hati – pikiran – emosi pada tingkatan tertentu membimbing kesadaran manusia ke dalam ‘kesadaran internal’, di dasar hati nurani, menembus area damai di dalam, yang disebut inner peace. Inilah tempat energi yang luar biasa. Di area ini tiada lagi “kesadaran luar yakni tubuh, pikiran, harapan, keinginan”, dsb. Semua kosong. Justru yang “kosong” ini isinya banyak luar biasa tak terpikirkan! Dalam konsep Confusian dikenal “yang kosong itu berisi, yang berisi itu kosong”. Keadaan (state) ini dalam kosmologi Jawa disebut “suwung gung lewang-lewung” (kosong, hampa tiada apapun). Dalam terminologi Sanskrit disebut “Sadhana”, setelah melampaui tahapan sebelumnya, yakni “kesadaran menengah” yang disebut “Krida”. Konteks budaya apapun boleh menamai keadaan (state) ini dengan sebutan apa saja. Ini menandakan konsep ini adalah universal, sebuah fenomena alami yang ada dalam penciptaan alam semesta. Sistem manusia (mikro) merupakan bagian (sub-sistem) dari sistem makro semesta.

Haruskah mencapai kondisi inner peace dulu untuk dapat melakukan ‘perubahan diri’?

Mencapai kondisi inner peace merupakan sebuah proses, yang pencapaiannya tidak sama bagi setiap orang. Pengalaman para klien Miracle Way menunjukkan justru mereka mendapatkan perubahan itu ketika selama berproses menuju inner peace itu. Ini uniknya.  Proses ini dilakukan berulang-ulang setiap hari, karena ini merupakan latihan, untuk melatih “tubuh non-fisik” yakni emosi – hati – pikiran. Kadang ada yang pada tahap kesadaran permukaan sudah mulai mendapatkannya. Ia merasakan perubahan ketika dalam proses menuju kesadaran menengah. Memang pada akhirnya yang hendak dituju adalah kondisi (state) inner peace itu, yakni pada level ‘kesadaran mendalam’. Malah ada yang masih pada tahap “persiapan” yakni pada jenjang “pembersihan mental” sudah merasakan dan mendapatkan perubahan. Hanya kadang, klien (mungkin karena belum terbiasa) menganggap misinya sudah selesai sehingga tidak rajin melatihnya setiap hari. Tentu saja, kualitas perubahan diri, juga macam perubahan diri yang didapatkan pada masing-masing tingkatan tersebut adalah berbeda, menurut tingkatan masing-masing, serta kondisi emosi – hati – pikiran pada masing-masing tingkatan itu.

Perlu diingat bahwa :

kehidupan alam semesta tidak pernah instant

selalu ada proses dan alasan yang membuat suatu kejadian itu terjadi atau hasil itu dapat dicapai

Yang kita lakukan adalah, menyelaraskan proses dalam sistem tubuh kita dengan bahasa (kode) sistem semesta tersebut. Dalam uraian berikutnya akan kami jelaskan.

Contoh Kasus

Miracle perubahan diri yang dialami oleh 2 orang klien ini hanyalah sebuah contoh saja, untuk melihat bagaimana pengalaman ‘proses perjalanan menuju kesadaran internal’ pun telah mampu secara powerful mengubah pikiran dan kata-kata (niat, kebutuhan, tujuan) menjadi kenyataan, yang mewujud dalam perubahan diri !

Kisah Miracle Nikko yang tak disadari

Kisahnya dapat diikuti di blog yang ia tulis, http://nikkoakbar.blogspot.com

Di salah satu artikel, ia menulis:

“Entah kenapa, akhirnya saya merasa telah menemukan keindahan dan kenikmatan tersendiri dalam belajar. Sebuah perasaan yang sudah lama saya cari-cari. Sebuah perasaan yang sempat menjadi bagian dari diri saya dahulu namun tiba-tiba menghilang. Dan sepertinya, kini saya telah menemukan salah satu kepingan dari diri saya yang sempat hilang dan terserak tercerai berai entah di mana. Sebuah perasaan yang sangat fantastis dan menakjubkan. Saya merasa dapat melakukan apa pun. Sebuah perasaan percaya diri yang sungguh berbeda dengan apa yang biasanya saya alami.“

Nikko menjalani prosedur metode MiracleWays pada saat dia kelas 2 SMP, dan ia melakukan heart maintenance setiap hari, untuk pemberdayaan diri (kisahnya di sini). Perubahan diri yang ia alami berjalan secara alamiah sehingga ia sendiripun tidak menyadarinya. Miracle! Proses algoritmik dalam sistem dirinya yang mengiringi personal changing, tidak pernah dapat dirasakan dan disadari olehnya. Hasil datang sendiri!

Lain lagi pengalaman miracle klien bernama N di kota J di Jawa Timur ini (identitas disamarkan), berasal dari kelas menengah, pendidikan tinggi, pekerjaan dan penghasilan bagus. Ia mengalami peristiwa luar biasa dalam kehidupannya: psikosomatis, cemas berlebihan, insomnia, dikejar-kejar bayangan dan ‘kuasa gelap’ hingga ia merasa tertekan dan putus asa. Prosedur Miracle Way ia jalani secara distance therapy 3 kali dan langsung 1 kali, ia telah terbebas dari keluhannya. Kisahnya di bagian Inner Peace dan Penyembuhan Diri.

Contoh pengalaman dua orang klien ini menunjukkan bahwa ‘elemen kesadaran internal’ mampu membuat perubahan diri secara signifikan. Tergantung niat dan kebutuhannya.

klien N di J

Pengalaman klien Miracle Way, Nikko dan Sdr. N di atas, menunjukkan bahwa mereka sedang berproses menuju inner peace, yang tentu saja agenda tiap orang tentu tidak sama.

Contoh kedua…

Pengalaman klien di Malang, Jawa Timur ini, tergolong unik. Seorang direktur di sebuah lembaga yang bergerak di sektor sosial (identitas disamarkan) mengalami shock sesaat, yang bermula dari pengalamannya di masa lalu terkait “kehilangan seseorang yang sangat dicintainya”. Pengalaman ini cukup membuat emosinya kadang tidak stabil walaupun tidak berlangsung lama tetapi sering muncul. Perasaan tidak nyaman itu sering datang dan pada suatu ketika membuat semangat kerjanya terganggu, konsentrasinya kacau. Ia mengaku merasa sulit fokus pada pekerjaan, atau hal-hal yang dihadapi. Ia sangat terganggu. Hingga pada suatu saat, pada saat obrolan sore di wkatu hujan, kami perkenalkan metode Miracle Way (tanpa menyebut “merk”, tetapi sebuah “metode untuk kontrol emosi”). Singkatnya, sesi berlangsung sekitar 3 jam, karena diselingi ngobrol, penjelasan-penjelasan, evaluasi dan eksplorasi emosi. Selama sesi, beliau ditemani oleh salah seorang karyawan kantor yang juga ikut sesi (walaupun kami juga tidak tahu apa masalahnya. Pokoknya ikut saja.). Sesi dibagi 3 tahapan (disesuaikan dengan kondisi klien) untuk mengantar 2 beliau ini ke ‘state yang lebih mendamaikan emosinya’. Pada tahap 1 kami evaluasi, keduanya mengalami “sensasi emosi” yang nyaman, berbeda dari kenyamanan sebelumnya yang ia rasakan dalam aktivitas penenangan diri. Pada tahap 2, keduanya merasakan efek yang jauh lebih kuat dari tahap 1, bahkan sang direktur ini merasakan “kekuatan lain” yang belum pernah dirasakan dan alami sebelumnya, yakni kuat duduk bersila hingga lebih dari 30 menit! Biasanya, jangankan 30 menit, bersila selama 5 menit saja sudah kesemutan. Emosi yang ia rasakan makin nyaman dan kuat (merasa kuat dari dalam). Dan pada tahapan ke-3, sensasi rasa emosi yang mengalami penguatan menyeruak ke tubuh fisik. Beliau menuturkan bahwa beliau merasakan perbaikan di bagian punggung sebelah bawah yang memang menjadi masalah baginya (pada awalnya niatannya hanya untuk penenangan diri dan penguatan emosi saja). Yah, anggap saja itu bonus.

Sedangkan sang karyawan yang ikut juga dalam sesi dengan 3 tahapan juga, mengalami hal yang hampir sama, yakni kondisi emosi yang lebih stabil dan kuat, hanya bedanya ia merasakan degup jantungnya lebih cepat, yang kemudian ia rasakan saja tanpa melawan, maka ia “dapat berdamai dengan degup jantung yang mengencang itu”. Hanya kira-kira setengah menit degup jantung itu namun kemudian kembali tenteram. Secara tidak sengaja, beliau ini telah mempraktikkan ajaran “berdamai dengan ketidaknyamanan”.

Pengalaman kedua klien ini juga memberi pelajaran bagi kita bahwa:

“pelajaran baru” dari pengalaman spiritual (emosi – hati – pikiran) bisa kita dapatkan “tanpa sengaja”

Bolehkah tidak meneruskan hingga level kesadaran mendalam (inner peace) ketika seseorang sudah merasa cukup dan sesuai di level tertentu dan telah berhasil di level tersebut?

Boleh saja, asalkan tetap melatihnya sesuai levelnya. Semua tergantung kebutuhan masing-masing orang.

Temukan Miracle Way, Jalan Keajaiban Pada Diri Anda !

Iklan