Big Data


Dunia adalah kumpulan persepsi, kumpulan pikiran, kumpulan kata-kata.

Kata-kata positif, menebarkan energi positif dan kembali memantul kepada diri sendiri sebagai ‘timbal balik positif’ menjelma menjadi energi positif.

Demikian pula kata-kata negatif. Ia akan menebarkan energi negatif, dan kembali memantul kepada diri sendiri sebagai ‘timbal balik negatif’ menjelma menjadi energi negatif.

Sekumpulan kata-kata, baik positif maupun negatif, membentuk sebuah pemahaman bagi penghuni dunia. Membentuk pikiran. Pikiran akan membentuk tindakan. Tindakan membentuk cipta-rupa pada dunia yang kita tinggali ini.

Kata-kata macam apa sajakah yang beredar memenuhi atmosfir sosial di dunia-hidup kita? Di sekeliling kita? Di pikiran kita? Di dunia sosial kita? Di dunia politik kita?

Sadarkah anda jika kata-kata yang paling sering beredar dan kita terima akan mendominasi dan menguasai pikiran kita, menguasai kehidupan kita?

Saya telah banyak mengulas hubungan dan pengaruh kata-kata pada kehidupan kita, termasuk pada anak-anak kita, di situs ini. Bagaimana kata-kata itu, yang mencerminkan pikiran kita, cara berpikir kita, keyakinan kita, pengetahuan kita, kesadaran kita, kemudian membentuk diri kita. Dan saling terkait satu sama lain.

Itu hubungan dunia kata-kata (realitas eksternal) dengan dunia-pikir (realitas internal) kita.

Lantas, bagaimanakah dengan ‘kata-kata’ itu sendiri? Kata-kata yang beredar di dunia-hidup kita? Di manakah ‘kata-kata’ itu berada, beredar dan berasal? Dari mana pikiran kita menangkap dan mengkonsumsi ‘kata-kata’ itu?

Dunia-hidup kita, kini adalah ‘dunia cyber. Di situlah ‘pabrik kata-kata’, tempat kita mengkonsumsinya setiap hari, setiap saat!

Halaman ini, khusus membicarakan ‘pabrik kata-kata’ itu. Berikut ‘kata-kata’-nya.

Selanjutnya, terma ‘kata-kata’ disebut ‘ujaran’, ‘wacana‘, ‘data’. Dan data ini berseliweran di dunia cyber tempat kita hidup laksana samudera kata-kata, samudera informasi, samudera ujaran, samudera wacana, samudera data. Inilah ‘big data’ (data besar).

Kita bisa memilah dan memilih ‘kata’ dan ‘big data’ itu untuk keperluan kita. Sekedar memilah dan menelusuri si A bicara apa saja tentang sesuatu isu? Atau, si bagaimana pendapat si B dan si C dalam menanggapi tentang isu ‘pemilu 2019’ misalnya. Berbeda apa sejalan, dan di mana letak perbedaannya? Atau, bagaimana sih pendapat publik (public opinion) tentang sesuatu merk produk yang sedang diluncurkan atau yang sedang “trending topic”. Sesuatu merk produk tersebut cukup disukai atau bagaimana.

Bagaimana sih omongan si anu dan si anuwati tentang isu X pada waktu-waktu yang berjalan? dan berapa kali mereka mengucapkannya? Orang menyebutnya “jejak digital”. Dan dalam pengucapan (atau yang tulisan) itu, bagaimana keberpihakan orang-orang itu terhadap sesuatu isu yang ditanggapinya?

Atau, lebih dalam lagi, tak sekedar mengetahui (kepoisme) dan menelusuri, tetapi menganalisis lalu lintas kata-kata, ujaran, opini, wacana, yang berseliweran di dunia cyber. Menganalisis keberpihakan ucapan, ujaran yang diucapkan atau yang keluar dari statemen para tokoh, atau tanggapan atas sesuatu isu atau produk. Berapa kali diucapkan atau ditulis, dan seberapa sensitif sesuatu ucapan, ujaran itu terposisikan, terkait sesuatu isu atau masalah. Dan lain sebagainya.

Ini semua melibatkan jutaan kata-kata yang beredar di dunia cyber dan melibatkan ribuan portal data baik yang dapat dipercaya maupun yang abal-abal, juga yang tersebar .di media sosial seperti facebook, twitter, dsb. Dalam satu waktu! Mereka inilah yang siap menggilas kita jika kita tak siap.

Apa manfaatnya?

Mengantongi data ibarat mengantongi aset. Dan aset itu adalah “jutaan pikiran orang”! Jutaan pikiran orang dalam genggaman! Setidaknya, kita menyelamatkan diri sendiri, pikiran sendiri dari kebingungan digitalis akibat kebanjiran data digital yang memusingkan kepala. Kita sering bingung kan ketika membaca portal berita online tentang sesuatu isu? Di facebook? Di twitter? Media ini nulis gini, media itu nulis itu. Mana yang benar? Dan kita pun terjebak dalam pusaran arus digital dengan mencari dan menelusur berita-berita untuk memuaskan hasrat ‘pencarian kebenaran’ versi kita. Hasilnya? Tambah bingung, pikiran makin pusing.

Kenapa? Daya jangkau kita masih sangat dangkal untuk menelusuri ‘data kata’ atau berita atau ‘ucapan tokoh ini itu’ dalam lautan media sosial. Kita baru “untup-untup” atau memperoleh setitik aja dari samudera kata di jagad cyber! Bayangkan, ada samudera data, data besar (big data)! Teknologi analisis big data membantu kita memilih dan memilahnya secara elektronik dengan menarik jutaan data cyber yang kita cari. Sangat mengurangi kepusingan pikiran kita!

Untuk apa lagi?

Kemampuan membaca data cyber secara berimbang sangat  membantu kita. Dari jutaan data kita bisa meneropong dan memantau pergerakan dinamika sosial secara berimbang, tanpa pusing kepala. Kita “hanya” perlu fokus bagaimana menganalisis ‘data besar yang tersaji secara terpilah dan terkendali” ini. Menganalisis, untuk kebutuhan kita.

Menelusuri, memilah, memilih, mengelompokkan data besar (big data) itu, kita mendapat informasi akurat tentang sesuatu hal. Ini sangat berguna dalam dunia sosial, bisnis, politik, analisis kebijakan, analisis sosial, analisis politik, analisis wacana kritis dan pendidikan, terutama pendidikan masyarakat.

Dalam dunia sosial, kita bisa membuat analisis berbasis big data ini, misalnya tentang dinamika sosial terkait isu pembubaran ormas HTI, reklamasi pantai atau isu fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap USD. Bagaimana pendapat publik tentang pembubaran HTI, bagaimana keberpihakan pembuat ucapan itu, bagaimana sensitivitasnya, berapa kali ucapan atau pendapat itu muncul. Dan sebagainya.

Dalam dunia ekonomi bisnis, kita bisa membaca gerakan kompetitor bisnis, membaca respons pasar terkait produk tertentu, baik produk sendiri maupun produk kompetitor. Mengetahui trend pasar, selera pasar, opini yang berkembang, dsb.

Dalam dunia politik, kita bisa mengetahui opini publik yang berkembang terkait isu politik tertentu, opini tokoh, keberpihakan dan sensitivitas tokoh tersebut yang tercermin dalam ucapan-ucapannya maupun statement-nya. Dan sebagainya.

Nah.. secara individual dan teori pikiran, sajian analisis big data ini memperkecil risiko kepusingan pikiran. Pikiran kita kan kita gunakan untuk berpikir tentang apapun yang menjadi pekerjaan dan kesibukan kita to….

Nah, teknologi big data ini sangat membantu, sebagai tools, alat baca, alat teropong, alat pantau, alat pindai sosial, drone sosial, untuk membaca dan memantau dinamika dan perubahan sosial yang amat cepat (rapid social change). Sebuah keniscayaan dalam kehidupan di dunia cyber seperti sekarang ini.

Terlebih, untuk keperluan analisis sosial, ekonomi bisnis, politik, public opinions, public relations, analisis media, analisis wacana, dsb.

Teknologi analisis big data memungkinkan kita untuk mengenali kata-kata, ujaran, opini, berita dsb yang tersebar di jagad cyber, jagad online, jagad medsos itu dengan mengisikan kemampuan bahasa pada perangkat mesin komputasi big data. Bahasa sebagai sarana untuk memberi kemampuan pada perangkat sistem komputer untuk mengenali aktivitas dunia sosial manusia, dikenal dengan computational linguistics. Mudahnya, “perangkat mesin” kita “ajari” mengenali bahasa manusia: kata-kata, bunyi ujaran, terma, istilah, yang lazim digunakan manusia dalam berkomunikasi.  Termasuk dalam hal ini adalah ‘kata-kata alay‘ yang lazim digunakan anak-anak alay eh anak muda, bahasa gaul-lah gitu. Biar si mesin paham bahasa manusia gaul. Nah, tindakan “mengajari mesin” seperti ini, atau menambahkan kemampuan lain atau kecerdasan tambahan kepada perangkat mesin atau suatu sistem, lazim disebut “artificial intelligence” atau “kecerdasan buatan”. Sedangkan bahasa yang digunakan adalah computational linguistics tadi itu.

Nah, selebihnya, si mesin ini melakukan penjaringan dan penyaringan, pemilahan, identifikasi, dsb dan kemudian menyajikan profil data berbasis big data tadi kepada kita. Tarrraa..! Bahan baku analisis telah terhidang! Bukan berbentuk “data jadi” sih, masih “data mentah” namun dalam versi “data terpilah”. Ndak mentah banget (gelondongan), namun data yang telah siap untuk dianalisis, sesuai dengan perangkat analisis kita: analisis politik-kah, ekonomi bisnis, dsb. Kita tinggal baca dan analisis saja. Analis (manusia) lah yang kemudian mengolah “adonan setengah jadi” ini menjadi apa, sesuai kebutuhan. Misalnya, analisis teks dalam analisis wacana kritis, diperlukan analisis terhadap teks-teks yang ada. Teknologi big data membantu untuk mengumpulkan dan memilah teks-teks tersebut hingga siap dianalisis.

Di Indonesia, belum banyak pemain big data. Satu komunitas pengolah big data (aplikasi) yang sementara ini saya merasa cocok adalah  ‘drone emprit’ yang digagas oleh Mas Ismail Fahmi, Ph.D alumnus ITB dan Belanda. Dia ahli computational linguistics yang kemudian menciptakan aplikasi big data dengan merk “drone emprit”. Agak kocak, sekocak orangnya. Terma ‘drone’, dimaksudkan untuk mengatakan “mengintai dari atas”, yakni mengintai “kumpulan profil dan aktivitas orang-orang” seolah-olah drone. Lebih luas jangkauan pengintaiannya. dan “emprit”Emprit, ini nama burung kecil dalam bahasa Jawa, atau disebut “burung pipit”. Mengapa emprit? Karena dia sering mengintai profil dan aktivitas orang yang beredar di medsos emprit. Twitter! Twitter kan emprit to… hihi…  🙂

Nah, ini dulu sebagai pengantar ke dunia teknologi big data dalam membantu mengelola dunia-kehidupan kita, dunia cyber.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa situs Miracle Ways yang memuat pemberdayaan diri menaruh perhatian pada big data? Pertama, saya, pengasuh portal ini dan pengasuh Miracle Ways, secara pribadi berminat pada teknologi big data untuk membantu saya membuat analisis sosial dan politik, termasuk ekonomi politik. Ini terkait profesi saya sebagai dosen dan peneliti yang berminat pada kajian personal discourse, social and political discourse.

Kedua, pemberdayaan diri (personal development) erat kaitannya dengan social development. Seseorang yang terkena masalah psikis misal trauma, fobia, juga tak terlepas dari konteks sosial, bahkan konteks politik. Karenanya, saya selalu mengajak diskusi para klien saya dalam kaitannya dengan kehidupan sosial pasca terapi. Nah, konteks sosial (termasuk politik, ekonomi) kekinian, tak bisa lepas dari dunia cyber, dunia digital.

Adanya hoax yang memusingkan kepala dan sering mengacaukan analisis kan karena saking banyaknya data simpang siur yang berseliweran di dunia online, yang dengan mudah diproduksi oleh seseorang, dengan bantuan teknologi, yang dalam sekejap mampu menembakkan ribuan konten hoax. Orang banyak terkena stress dalam dunia yang serba memusingkan ini… 🙂

Kita hidup di dunia yang penuh peperangan wacana, peperangan kata-kata.
Kita hidup di sela-sela bombardir kata-kata, wacana, tidak tahu itu hoax ataukah beneran.
Dunia yang kita tinggali kini, adalah dunia penuh fitnah besar, fitnatul kubro. Hoax adalah fitnah besar itu.

Maka, teknologi big data, sebenarnya hanyalah instrumen kecil untuk dapat bermain-main dengan jutaan data kata, ujaran dsb itu yang beredar di dunia-hidup kita ini.

Gu jiang tong yu jiu bian zhi li zhe, zhi yong bing yi (Sun Zi)
“Kemampuan melakukan perubahan dan beradaptasi akan berujung pada keuntungan”