gurindam kekuatan kata kata

Gurindam: Kekuatan Kata-kata Melebihi Kata Mutiara


kekuatan kata kata dalam pelatihan soft competency trainingTopik kekuatan kata-kata telah saya tulis tahun lalu. The power of words. Kata-kata, termasuk kata mutiara, kata hikmah, kata motivasi, atau apapun namanya, memiliki pengaruh pada cara pikir, cara kerja dan cara hidup seseorang. Dan, kata-kata yang dipilih dan digunakan seseorang, menunjukkan pikiran, cara kerja dan cara hidup dia.

Tulisan ini bicara tentang kekuatan kata-kata dalam gurindam, yang bagi saya melebihi kata mutiara. Tulisan ini muncul terinspirasi dari kegiatan saya di Pekanbaru pekan lalu. Sejak kedatangan saya di Pekanbaru atas undangan PTPN 5 Pekanbaru untuk mengisi pelatihan soft competency, saya mendadak teringat karya sastra klasik Nusantara. Pantun. Pantun jenaka muncul duluan…. Hehe… 😀

Bagi saya,  Riau adalah nenek moyang bahasa Indonesia, asal muasal bahasa Indonesia yang kita gunakan kini. Mungkin karena pikiran saya melayang ke masa lampau, maka begitu kaki saya menginjak tanah Pekanbaru, hidung saya menghirup udara Pekanbaru, terbayanglah masa keemasan bahasa Indonesia zaman itu. Bahasa Melayu.

Dan muncullah beberapa penggal sajak-sajak lama yang sempat terekam. Perjalanan dari bandara Sultan Syarif Kasim II ke Hotel Pangeran tempat kami menginap, isi kepala saya justru berputar-putar bayangan sajak-sajak lama itu.

Pak Riko, supir yang menjemput kami, rupanya cukup paham tatkala jarang saya ajak bicara. Asisten saya yang lebih aktif berbicara dengannya. Saya sesekali menimpali sembari membicarakan lokasi-lokasi menarik di Pekanbaru.

Sajak-sajak lama peninggalan pelajaran SD terbit kembali. Pantun Jenaka ini yang muncul pertama kali. Mungkin karena saya tak mengerti maksudnya sehingga menjadi PR berkepanjangan haha… ingat terus..

 

Di sini kosong di sana kosong

Tak ada batang tembakau

Bukan aku berkata bohong

Ada katak memikul kerbau

 

Sungguh, hingga kini pun saya tak mengerti maksud bagian ‘arti’ dari pantun ini:

 

Bukan aku berkata bohong

Ada katak memikul kerbau

 

Mana ada katak memikul kerbau? Dan itu dikatakan “bukan aku berkata bohong”?

Nah….

 

Mungkin ini semacam satire, sindiran. Bukan aku berkata bohong, ada katak memikul kerbau. Nalar normal pasti menolak itu. Itu dikatakan “bukan aku berkata bohong”?

Hoax lah itu…

Ternyata sekarang, banyak ya.. yang menyebar hoax sambil berkata “bukan aku berkata bohong”… hehe… 😀

 

Pantun memang sarat makna. Ringkas, bernas, sarat makna. Akhirnya pantun jenaka ini saya berdayakan menjadi salah satu pemicu pikiran peserta dalam pelatihan saya.

Ya, pelatihan saya, soft competency training, memang salah satunya bicara tentang ‘makna bahasa’, ‘makna kata’ dalam aktivitas berpikir dan mengambil keputusan dalam bekerja.

Bagaimana kata-kata memainkan peran sangat penting dalam pekerjaan. Diksi, pilihan kata, yakni ‘kata’ yang (dipilih untuk) digunakan dalam bertutur, mencerminkan keputusan pikiran.

Ia berisi tentang pengetahuan penuturnya, maksud penuturnya, dan kepentingan penuturnya.

Mengapa ia menggunakan kata itu, bukan yang lain, untuk mengutarakan maksud yang sama.

Setiap kata memiliki makna. Ada makna lugas, ada makna kontekstual. Ada pula makna ‘political’.

Kita bisa membedah pikiran seseorang dengan membedah kata-kata yang diucapkan. Bahkan maksud tersembunyi pun dapat diketahui.

Tentu saja, dalam pelatihan soft competency ini, saya lebih banyak membedah kata-kata yang digunakan penuturnya, dalam kaitannya dengan kenyamanan seseorang bekerja, untuk memperbaiki struktur berpikirnya.

Karena, penggunaan  kata-kata ini langsung berefek pada orang yang bertutur, yakni kepada diri sendiri.

Kata-kata yang digunakan dalam bertutur (dan berpikir) menentukan cara dia bekerja, cara dia mempersepsi keadaan dan lingkungan sosialnya.

Di lingkungan kerja, karyawan tidak selalu memiliki persepsi yang sama dengan para pemimpin perusahaan. Dan ini sangat berpotensi mengganggu kinerja.

Adanya naik turun semangat kerja dan motivasi kerja berawal dari timbul tenggelamnya motivasi diri. Dan ini berawal dari persepsi yang tidak selalu sejalan antara pegawai dan bos… Tentu saja ya.. hehe… 😀

Semua itu bisa kita deteksi dari diksi yang digunakan. Setiap kata memiliki makna.

Bukan hanya makna atau maksud pembicaraan penuturnya, tetapi yang lebih penting adalah bahwa ‘kata-kata’ yang diucapkan itu memiliki pertalian erat dengan emosi penuturnya.

Kata-kata yang diucapkan memiliki efek pada perubahan emosi bahkan fisikal penuturnya!

Ini yang saya bedah dan ajarkan cara perbaikannya kepada peserta.

Di sinilah bukti nyata dari kekuatan kata-kata terhadap diri seseorang. Bahkan, ‘kata-kata’ dapat menentukan nasib seseorang, disamping menentukan ‘cara kerja’-nya!

Inilah sangat pentingnya kata-kata!

Dan, kata-kata yang tersusun secara cermat, sistematis, memiliki daya sugesti yang sangat kuat mempengaruhi pikiran.

Bagi pengguna bahasa Melayu, bahasa Indonesia, kata-kata yang tersusun sebagaimana dapat kita tengok pada syair-syair klasik, pantun, gurindam, sangat elok.

Disamping sangat elok, mereka ini berisi makna dahsyat.

Terlebih gurindam.

Saya sangat suka gurindam, karena ringkas, bahasanya padat, penuh makna. Benar-benar sangat kualitatif!

Sejak gurindam diajarkan di SMP (tahun 1980-an), saya telah terpukau dengannya, walaupun tak sepenuhnya mengerti artinya. Apalagi maknanya! Maklum, masih bocah.

Namun, susunan kata yang ringkas dan indah, meninggalkan kesan mendalam hingga kini.

Terlebih Gurindam Dua Belas!

Gurindam gubahan Raja Ali Haji ini sarat tuntunan ajaran agama (Islam). Mungkin karena habitus Raja Ali Haji. Beliau hidup di masa kesultanan Islam, yang sangat kental bertradisikan praktik-praktik ajaran agama. Ajaran agama inilah yang menjiwai isi gurindam dua belas yang terkenal itu.

Dalam “ilmu kata-kata”, saya justru tidak terlalu focus pada “isi pesan” yang dimuat oleh Gurindam Dua Belas.

Tetapi pada susunan kata-kata yang membentuk sebuah maksud.

 

Baiklah, saya terangkan dulu ciri-ciri dan susunan kata dalam gurindam ya…

 

Gurindam terdiri dari 2 baris dalam setiap baitnya.

 

Setiap baris terdiri dari 10 – 14 kata.

 

Antar baris mempunyai hubungan sebab akibat.

 

Menggunakan rima atau sajak a-a, b-b, c-c, dan seterusnya.

 

Umumnya berisi muatan filosofi hidup, “kata-kata mutiara”,dan nasihat-nasihat.

 

Maksud dari isi gurindam, terletak pada baris kedua.

 

 

Susunan yang ringkas dan tertata seperti ini, akan mudah masuk pikiran bawah sadar kita.

Kita mudah ingat, terpesona dengan isinya, dan akhirnya ingat pesan-pesan yang termuat dalam gurindam.

Masuk.

Masshhookk…

 

Bagi saya, kedahsyatan kata dalam gurindam, melebihi kata-kata mutiara. Kata-kata mutiara itu hanyalah percikan atau pecahan atau biasan cahaya dari kemilau kristal gurindam.

 

Yuk kita tengok Gurindam Dua Belas gubahan Raja Ali Haji di bawah ini ya…

 

Terasa sekali betapa indahnya kata-kata yang tertata dalam untaian rima atau sajak yang digunakan. Masih ingat apa itu ‘rima’ atau ‘sajak’ kan… Tu, bunyi akhir dalam setiap baris. Ada kesamaan bunyi.

Keindahan bunyi rima dalam gurindam, menambah kesan positif yang diterima pikiran.

Sungguh hebat pujangga kita ya…

 

Raja Ali Haji, dalam khazanah kesusasteraan Indonesia, dikelompokkan dalam kategori pujangga angkatan “Balai Pustaka”.

Dan saya bersyukur, karena beruntung pernah mendapatkan materi pelajaran kesusasteraan, termasuk kesusasteraan klasik, dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Disamping pengetahuan tentang kesusasteraan, ada praktik membuat karya sastra walaupun tingkat pemula..  Menyusun puisi, gurindam.

Tidak tahu ya.. apakah pelajaran Bahasa Indonesia zaman now ini masih ada pelajaran kesusasteraan klasik ya…

 

Yookk… Ini dia Gurindam Dua Belas.

 

Gurindam Dua Belas

Digubah oleh:

Raja Ali Haji

 

Gurindam Pasal 1

Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang yang ma’rifat

Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang teperdaya.

Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.

 

Gurindam Pasal 2

Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.

Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua termasa.

Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.

Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

 

Gurindam Pasal 3

Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.

Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.

Apabila terpelihara lidah,
niscaya dapat daripadanya paedah.

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.

Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi’il yang tiada senunuh.

Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.

 

Gurindam Pasal 4

Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau lalim segala anggotapun rubuh.

Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.

Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.

Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.

Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.

Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.

Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.

Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketor.

Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

 

Gurindam Pasal 5

Jika hendak mengenai orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.

Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.

Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.

Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

 

Gurindam Pasal 6

Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.

Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.

Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh dimenyerahkan diri.

Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.

Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,

 

Gurindam Pasal 7

Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.

Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah landa hampirkan duka.

Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.

Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.

Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.

Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.

Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.

Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.

Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.

Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.

Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

 

Gurindam Pasal 8

Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.

Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.

Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.

Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar dan pada orang datangnya khabar.

Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syarik mengaku kuasa.

Kejahatan diri sembunyikan,
kebalikan diri diamkan.

Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

 

Gurindam Pasal 9

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaitulah syaitan.

Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.

Kepada segala hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.

Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.

Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

 

Gurindam Pasal 10

Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.

Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.

Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.

Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.

Dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kafill.

 

Gurindam Pasal 11

Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.

Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.

Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.

Hendak marah,
dahulukan hajat.

Hendak dimulai,
jangan melalui.

Hendak ramai,
murahkan perangai.

 

Gurindam Pasal 12

Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.

Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.

Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.

Kasihan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.

Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.

Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.

Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.

 

 

Padanan beberapa kata yang jarang kita jumpai:

 

Bakhil: kikir, pelit
Balai: rumah tempat menanti raja (di antara kediaman raja-raja)
Bachri: hal mengenai lautan (luas)
Berperi: berkata-kata
Cindai: kain sutra yang berbunga-bunga
Damping: dekat, karib, akrab
Fi’il: tingkah laku, perbuatan
Hujjah: tanda, bukti, alasan, argument.
Inayat: pertolongan atau bantuan
Kafill: majikan atau orang yang menanggung kerja
Kasa: kain putih yang kasar.
Ketor: tempat ludah (ketika makan sirih), peludahan.
Ma’rifat: tingkat penyerahan diri kepada Tuhan yang setahap demi setahap sampai pada tingkat keyakinan yang kuat (“ma’rifat” secara harfiah berarti “mengenal”). Orang yang ma’rifat, artinya telah ‘mengenal’ (Allah), mata hatinya telah terbuka, melek. Mungkin dari kata “ma’rifat” ini terbentuklah kata “mripat” (bahasa Jawa, yang artinya “mata”).
Menyalah: melakukan kesalahan
Mudarat: sesuatu yang tidak menguntungkan atau tidak berguna
Pekong (pekung): penyakit kulit yang berbau busuk
Penggawa: kepala pasukan, kepala desa
Perangai: sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatan
Senonoh: perkataan, perbuatan, atau penampilan yang tidak patut (tidak sopan)
Tegah: menghentikan
Teperdaya: tertipu
Termasa: tamasya
 

Keterangan singkat perihal Raja Ali Haji

Raja Ali Haji, seorang sejarawan keturunan Bugis, adalah Pujangga Kerajaan di Kesultanan Lingga, Riau, pada masa pemerintahan Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah, Sultan pertama Kesultanan Lingga (1824 – 1911).

Raja Ali Haji merupakan pelopor pengembang bahasa dan kesusasteraan Melayu di masa itu, sehingga bahasa Melayu pada masa kesultanan Abdul Rahman Muazzam Syah (Sultan Lingga) menjadi bahasa standard yang sejajar dengan bahasa-bahasa lain di dunia.

Sultan Lingga ini adalah pewaris dari Sultan Johor, dengan wilayah mencakup Kesultanan Lingga dan Johor.

Sumber teks informasi tentang Raja Ali Haji:

Wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Lingga

Menilik perkembangan dan luasan cakupan pengunanya, bahasa Melayu dalam perkembangan berikutnya diadopsi menjadi bahasa pengantar yang digunakan oleh Bangsa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s