Ijazah Tidak Berguna?


Ijazah tidak berguna. Benarkah? Ya. Ijazah tidak berguna, jika pemiliknya tidak memiliki keahlian yang memadai sebagai konsekuensi dari kepemilikan atas ijazah tersebut.

Keahlian, skills, untuk bisa survive di era revolusi industri 4.0 ini memang lebih penting daripada sekadar selembar kertas bernama ‘ijazah’.

Mungkinkah orang yang lulus sekolah, kuliah tidak punya keahlian yang mumpuni?

Bisa saja, jika selama sekolah atau kuliah tidak terdapat sosialisasi skills yang tertanam sebagai PENGALAMAN YANG MEMAMPUKAN subjek belajar!

Memampukan, berarti, menggunakan pikiran sebagai alat analisis kritis dan berpikir kreatif untuk berkarya-cipta.

https://miracleways.com/2015/12/01/soft-skills-dan-kesuksesan-hidup/

Inilah yang harus diperhatikan oleh lembaga pendidikan kita, yang di sini membutuhkan peran guru dan dosen dalam pendidikan di era revolusi industri 4.0.

https://miracleways.com/2017/03/26/mendesain-karir-untuk-pelajar-dan-mahasiswa/

 

Ini pulalah yang menjadi tantangan perguruan tinggi di era industri 4.0!

Saya setuju jika yang harus DIPENTINGKAN dan DIUTAMAKAN adalah: KEAHLIAN, yang diibarengi dengan KREATIVITAS. Bukan (sekadar) IJAZAH.

https://miracleways.com/2011/02/02/creative-thinking-skills/

Memang, terbetik berita bahwa IBM, Apple, Google, dan beberapa perusahaan raksasa multi nasional tidak lagi memperhatikan dan memerlukan IJAZAH dalam perekrutan karyawannya, tetapi berdasarkan SKILLS! Yang penting orang bisa mengerjakan apa-apa yang dibutuhkan.

Berita ini yang kemudian menghebohkan jagad pendidikan terutama pendidikan tinggi, yang sering disebut-sebut sebagai produsen tenaga ahli. Dan, viral-lah pesan-pesan WA dll tentang berita ini: bahwa PERGURUAN TINGGI TELAH MATI!

Dulu, di era Orba, Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad membuat gebrakan yang sangat membahagiakan lulusan perguruan tinggi ber-IP rendah. Yakni: Departemen Keuangan TIDAK mensyaratkan IP (Index Prestasi) dalam perekrutan pegawai di Depkeu. Perekrutan didasarkan HASIL TES LANGSUNG! Pak Mar’ie memang cerdas, hebat, dan visioner!

https://miracleways.com/2015/12/01/creative-thinking-skills-lancarkan-karir/

Nah, benarkah perguruan tinggi benar-benar telah berada di ambang kematiannya? Sudah bubar? Bisa saja, jika mereka tidak meng-update keilmuan bagi para mahasiswanya! Demikian pula sekolah-sekolah. Bisa juga ditinggalkan orang, kecuali mereka yang hanya membutuhkan selembar kertas bernama “IJAZAH”.

Karena di negeri ini, hingga tulisan ini diunggah, ijazah masih diperlukan, masih berguna. Tetapi bukan tidak mustahil, jika REVOLUSI INDUSTRI 4.0 ini suatu saat telah mengubah total dunia beserta persepsi dan kebutuhannya! Yakni ijazah benar-benar tidak dipakai.

Karena yang dibutuhkan adalah: KEAHLIAN, SKILLS. Yang penting orang punya keahlian, skills, punya ilmu, bisa diterima di perusahaan, bisa menghasilkan duit, bisa bertahan hidup.

https://wkuswandoro.wordpress.com/2017/08/05/perubahan-sosial-dampak-teknologi-informasi-terhadap-modal-sosial/

keahlian abad 21 untuk melengkapi ijazah untuk menolak ijazah tidak bergunaYang diperlukan adalah KEAHLIAN ABAD 21! Keahlian Era Revolusi Industri 4.0. Sekolah-sekolah, perguruan tinggi harus segera berbenah diri menangkap perubahan social ini. Praktik-praktik yang selama ini kurang support terhadap penguatan kemampuan subjek belajar, harus segera diubah!

https://wkuswandoro.wordpress.com/2017/07/27/cyberspace-dalam-kajian-sosial-politik-untuk-memahami-realitas-sosial-kontemporer/

Karena produk sekolah pada jenjang pendidikan menengah-lah yang menjadi input bagi perguruan tinggi! (Dan, pendidikan menengah mendapat input dari pendidikan dasar…) 🙂

https://miracleways.com/2017/05/02/penguatan-energi-belajar-menyikapi-cacat-bawaan-praktik-pendidikan-persekolahan/

Menyesuaikan diri dengan karakter Abad 21, era Industri 4.0 merupakan keniscayaan. Apalagi sekolah dan kuliah, mahal. Bisa saja orang kemudian “sekolah” di Google Search atau YouTube saja. Cuman modal paketan hehe… 😀

Karena ilmu sekarang ini berada di mana-mana. Google, Youtube telah menyediakan semuanya. Kita tinggal mencari, klik sana sini, dapat. Kita tinggal melatih diri menggunakan ILMU-ILMU yang tersebar di INTERNET, di Google, di Youtube, dsb.

menolak anggapan bahwa ijazah tidak berguna karena punya skills abad 21Benarkah ilmu berada di mana-mana dan tinggal comot saja?

Dan inilah yang dikatakan sebagai lonceng kematian perguruan tinggi (mungkin juga sekolah)?

Yang terserak di Google (Google Search) dan YouTube, juga yang lain, itu adalah SUMBER BELAJAR, BAHAN BELAJAR. BUKAN ILMU.

Orang boleh saja memiliki suatu ‘keahlian tertentu’ yang dicomotnya di Google atau YouTube. Tepatnya, KEBISAAN tertentu. Tetapi, apakah orang tersebut punya ‘ILMU’? Tidak.

Karena ILMU adalah ‘seperangkat system kebisaan, keahlian, pengetahuan’ yang TERSTRUKTUR dan SISTEMATIS dalam DIRI seseorang pembelajar, yang menyatu dalam DIRI-nya, menjelma dalam KEDIRIAN-nya: punya KEAHLIAN, SISTEM PENGETAHUAN dan SISTEM NILAI.

Ini tidak bisa ditempuh tanpa GURU (Dosen juga guru).

Bertumbuhkembangnya ILMU dalam DIRI dan KEDIRIAN seseorang, membutuhkan PROSES yang sistematis dan terstruktur hingga membentuk pribadi sang pembelajar: tertanam di PIKIRAN dan di HATI.
https://miracleways.com/2017/08/03/bekerja-dengan-hati-dan-pikiran-positif/

GURU (juga DOSEN)-lah yang MEN-SISTEMATIKA-KAN, MEN-STRUKTURKAN ‘aneka pengetahuan’ dan ‘aneka kebisaan’ yang sumbernya terserak di Google, YouTube dsb itu.

Google, YouTube adalah sumber belajar, BUKAN GURU. Sehingga, menyetarakan fungsi Google, YouTube dengan fungsi GURU adalah ketidakmengertian akan arti dari “GURU”, pembimbing, pemandu.

Guru adalah pemandu bagi kemajuan seorang pembelajar. Selebihnya, sang pembelajarlah yang melanjutkan sendiri cara hidupnya.

Atau, menganggap bahwa aparatus online seperti Google, YouTube sebagai satu-satunya sumber belajar tempat belajar ilmu sehingga menganggap sekolah, kampus (berikut gurunya tentunya) menjadi tidak penting lagi, juga merupakan kesimpulan yang tergesa-gesa. Grusa-grusu.

Itu kondisi pertama, sebagai jawaban mengapa aparatus online tidak cukup mumpuni menggantikan fungsi institusi pendidikan.

Institusi pendidikan tidak hanya berarti sekolah, kampus secara formal. Praktik informal di masyarakat di mana terjadi transfer ilmu pengetahuan dari seorang yang ahli di suatu bidang kepada orang lain, adalah sebuah praktik pendidikan, adalah sebuah institusi pendidikan.
Dan, seorang ahli, tidak harus memiliki gelar akademis. Seorang peternak yang sukses dan memahami seluk beluk peternakan dan “karakter” ternak, adalah seorang yang ahli. Bisa jadi ia mendapatkan “ilmu” peternakan tidak dari Fakultas Peternakan Universitas Anu, tetapi dari pengalaman praktik selama bertahun-tahun bersama keluarganya yang juga peternak atau ikut juragan peternak yang sukses.

Kondisi kedua, adalah karakter yang melekat pada aparatus online itu sendiri yang tidak selalu memungkinkan setiap orang akan menemukan “ilmu” apa yang ingin dikuasainya.

Misal begini. Seseorang ingin menguasai “ilmu” atau tepatnya “cara” (how-to) menanam dan merawat bonsai. Lalu ia searching di Google, termasuk googling di Yahoo (minjem Cak Lontong 🙂 ). Ada ribuan situs yang sama-sama menawarkan “ilmu” -tepatnya, informasi- tentang merawat bonsai.

Pertanyaannya, apakah semua situs tersebut terpercaya? Banyak website, blog hasil copy writing, asal comot artikel dari website, blog lain, kadang langsung unggah tanpa editing, kadang pakai rewriting atau semacam ‘parafrase’. Asal kalimatnya berbeda dari sumber aslinya.

Ada ribuan website, blog hasil copy writing yang bertujuan untuk mengumpulkan traffic saja. Mungkin untuk tujuan monetizing, mengais dollar dengan menampung iklan.

Termasuk channel YouTube. Tidak semuanya menawarkan “ilmu” yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sumber-sumber online seperti ini jelas dan pasti tidak kredibel.

Lalu, bagaimana sang pembelajar freelancer online ini mendapatkan “ilmu yang benar, kredibel” di antara ribuan bahkan jutaan sumber informasi di belantara internet?

Ini baru “ilmu menanam dan merawat bonsai”. Belum lagi jika ia mencari “ilmu” tentang “digital marketing”, “bagaimana menjadi pembicara publik yang baik”, atau “membuat analisis sosial”, dsb.

Sumber online sangat membantu setiap orang yang ingin belajar, yang ingin menguasai sesuatu “ilmu”, tepatnya “sesuatu cara bagaimana untuk” (how-to). Namun, ia harus sadar dan waspada, bahwa banyak hoax di belantara internet!

Ada kemungkinan memang, seseorang bisa berhasil menguasai sesuatu ‘kebisaan’ tertentu, dengan belajar dari sumber di Google atau YouTube. Namun, ia sebatas “bisa melakukan X”. Bukan “memiliki ilmu X”.

Sangat berbeda, ‘ilmu’, dengan ‘kebisaan’. Lihat pembahasan di atas.

Adapun, terjadinya pendangkalan pemikiran yang cenderung menganggap “di aparatus online” telah selesai, karena “semua ada di situ” lumrah terjadi pada era industri 4.0 di mana terdapat diskursus mekanisasi manusia. Yakni, manusia adalah spare part mesin besar industri.

Hal ini bisa dipahami, karena teknologi informasi telah mengubah pikiran banyak orang. Teknologi informasi telah berhasil “memaksa” orang-orang yang menghuni zaman ini untuk berpikir mekanis, seragam, yang menempatkan subjek belajar laksana spare-part pendukung mesin besar industri di bawah bayang-bayang adi kuasa kapitalisme global.

KIta hidup di bawah dominasi diskursus mekanisasi manusia hasil samping revolusi industri 4.0

https://wkuswandoro.wordpress.com/2017/08/05/perubahan-sosial-dampak-teknologi-informasi-terhadap-modal-sosial/

Dan kita hidup di zaman yang seperti ini. Bagaimana kemudian, seseorang membuat tafsir atas dirinya, dunianya serta bagaimana ‘cara hidup’ dan ‘untuk apa dia hidup’ di zaman ini.

https://wkuswandoro.wordpress.com/2017/08/30/modal-sosial-manajemen-pengetahuan-dan-peran-teknologi-informasi/

Tentang ILMU.

Seorang pembelajar, pencari ilmu, TETAP MEMBUTUHKAN GURU, untuk MENSTRUKTURKAN dan MEN-SISTEMATIKA-KAN aneka pengetahuan dan aneka kebisaan tersebut.

Karenanya, GURU, DOSEN, harus UPDATE! Jangan KUDET.. hehe…. 😀

Dan, sekolah, kampus, adalah wahana pelatihan secara holistik, terstruktur, sistematis dan masif untuk proses belajar ini.

Yakni, proses belajar yang memampukan subjek belajar secara manusia: berilmu dan beretika.

Google, YouTube dan sarana-sarana berbasis online lainnya, adalah sumber media belajar, -sangat layak dimanfaatkan-, untuk melengkapi sumber-sumber belajar yang ada, untuk DIOLAH dalam TATA SISTEM KEILMUAN, dalam METODOLOGI untuk ‘MEMBENTUK SANG PEMBELAJAR’, ‘MEMBENTUK SUBJEK’.

Bagaimana proses Pembentukan Subjek?

https://wkuswandoro.wordpress.com/2017/09/02/rekayasa-sosial-human-factor-dan-teori-subjek-lacan/

 

Revolusi Industri 4.0 telah mengubah wajah dunia. Maka, dunia pendidikan pun harus mengubah wajah dirinya!

https://miracleways.com/2017/08/03/bekerja-dengan-hati-dan-pikiran-positif/

 

Teruslah belajar, agar dunia ini merendah di hadapanmu

 

Gu jiang tong yu jiu bian zhi li zhe, zhi yong bing yi
“Kemampuan melakukan perubahan dan beradaptasi akan berujung pada keuntungan”
(Sun Zi)

 

Wawan E. Kuswandoro

www.wkuswandoro.wordpress.com/
www.wkwk.lecture.ub.ac.id/
www.MiracleWays.com
www.MiracleWayStore.com
www.facebook.com/hatipikiranpositif

bekerja dengan hati dan pikiran positif untuk menghilangkan imaji ijazah tidak berguna

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s