Tidak Ada Anak Nakal


Tidak ada anak nakal. Yang ada hanya guru yang belum menemukan cara mendidik. Yang ada hanya guru yang belum menemukan potensi bagus pada mereka yang disebut “anak nakal” itu.

Hampir setiap orang akan mengatakan bahwa Liang Ming-Yi adalah anak nakal, sehingga pantas dihukum. Hingga pada suatu ketika, Pak Guru ini menemukan “sisi lain” dari kehidupan sang “murid nakal” ini. Pak Guru ini mendekati “murid nakal” ini dan melihat dari sisi positif yang ada pada diri si “murid nakal” ini.

Apa yang disebut “anak nakal” adalah anak manusia yang sedang mengalami sesuatu hal yang belum dapat dimengerti oleh akal pikirannya saat itu. Jika ada orang dewasa yang ikut-ikutan menghukumi “anak yang masih mencoba mencari dirinya” dengan label “anak nakal”, sungguh ia telah sama atau bahkan lebih rendah dari “si anak nakal” itu. Karena pada dasarnya dia sama-sama tidak mampu memahami diri si anak.

Akan halnya dengan Pak Guru ini. Ia men-support Ming-Yi dengan pendekatan hati. Bagaimanapun, “anak nakal” tetaplah manusia. Mungkin ia sedang punya masalah yang belum dapat dijangkau dengan nalar kanak-kanaknya. Maka, tugas orang dewasa-lah untuk membimbing mereka yang belum dewasa atau belum mengerti.

Tugas mereka yang memegang suluh lah untuk membantu memberi penerangan kepada mereka yang sedang mengalami kegelapan.

Kegelapan akal pikiran, ketika seseorang belum mampu memahami sesuatu hal, karena akalnya memang belum sampai. Orang-orang yang sedang mengalami “kegelapan” membutuhkan suluh penerang, bukan kalimat hujatan apalagi cemoohan serta makian.

Liang Ming-Yi akhirnya menemukan dirinya, menemukan kemampuannya. Ia telah melampaui ‘proses-menjadi’ pada dirinya, dalam proses yang mungkin berbeda dari orang lain.

Hingga suatu ketika ia berkata……….

“Jika tidak ada Pak Guru, tidak akan ada aku yang seperti sekarang ini”

 

Pertanyaan untuk Guru:

Guru yang seperti apa?

 

Ya.

Dan…

 

Tidak ada murid bodoh.

Yang ada hanya guru yang belum menemukan cara mendidik.

 

Untuk murid:

Pilihlah kehidupanmu, dengan memilih caramu berpikir tentang dirimu.

Guru hanyalah suluh penerang, penunjuk jalan. Selebihnya, kamu sendirilah yang menyusuri jalan itu, hingga kamu menemukan apa yang kamu cari.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s