Bahaya Salah Mendefinisikan Diri dan Situasi


Hampir setiap orang akrab dengan ujaran “you are what you think”, “kamu adalah apa yang kamu pikirkan”. Maknanya pun diketahui, yakni pikiran kita tentang diri kita sendiri mempengaruhi kehidupan kita: perjalanan hidup, rejeki, nasib, dsb. Contoh, jika kita berpikir kita tidak mampu melakukan atau mengerjakan ‘sesuatu’, maka kita pun menjadi tidak mampu sungguhan. Mengapa? Sedari awal kita telah mengunci pikiran kita sendiri: bahwa kita tidak mampu. Selesai. Hasilnya bisa ditebak dengan mudah yaitu: tidak melakukan ‘sesuatu’ itu, tidak berusaha untuk bisa melakukan ‘sesuatu’ itu. Lain halnya jika kita mengatakan: “ini memang tidak mudah, tetapi saya mungkin bisa melakukannya”. Efek dari kalimat ini adalah: orang tersebut ada kemungkinan berusaha melakukan sesuatu itu. Ada peluang. Pikirannya menciptakan peluang untuk dirinya.

Ini adalah mendefinisikan diri sendiri, memberi makna kepada diri sendiri, memberi label kepada diri sendiri. Definisi, makna, label tersebut adalah: ‘mampu’, ‘mungkin mampu’, ‘tidak mampu’, ‘tidak mau mampu’, dsb. Pilih sendiri. Masing-masing pilihan, membawa konsekuensi dan efek masing-masing.

Mendefinisikan diri sendiri ini, berkaitan dengan ‘mendefinisikan situasi’. Apa artinya? Dari contoh di atas, jika seseorang menganggap dirinya ‘tidak mampu’ melakukan sesuatu, pasti akan melihat apa-apa yang dihadapinya (situasi) menjadi ‘hal yang mustahil dilakukan’. Ada bayangan banyak kesulitan di situ, ruwet, berat, dsb.

 

Baca tulisan saya terdahulu:

Bagaimana Anda Mendefinisikan Diri Sendiri

Setiap Situasi Adalah Baik

Manajemen Persepsi

 

Lain halnya jika menganggap dirinya ‘mampu atau mungkin mampu melakukan sesuatu’, maka apapun yang dihadapinya (situasi) mengandung berbagai kemungkinan kemudahan untuk bisa dilakukan. Pikiran menjadi lebih terbuka untuk mengundang kreativitas baru untuk dapat menghadapi aneka situasi itu.

Okay.. dari sini.. apakah ada jaminan bahwa jika berpikir “saya mampu melakukannya”, maka akan terus dapat mempertahankan keyakinan itu sehingga bisa terus mampu? Situasi baru, yakni situasi yang akan datang, adalah menjadi “situasi sekarang” ketika kita telah sampai pada titik itu. Artinya, kapanpun situasi itu berlangsung, akan menjadi “situasi sekarang”. Kalau “sekarang” kita menganggap diri kita “mampu”, apa bedanya dengan “situasi sekarang yang lain”.

Situasi yang akan datang adalah “situasi sekarang yang berada pada waktu lain”.

Mendefinisikan DIRI SENDIRI dan SITUASI ini banyak cakupannya, menyebar ke segala arah, dan menjadikan orang yang mendefinisikan mendapatkan sesuai dengan apa yang didefinisikan itu. Ada yang berkaitan dengan SITUASI yang didefinisikan menjadi ‘mencemaskan’, ada pula yang mendefinisikan DIRI SENDIRI sebagai ‘sesuatu yang layak dicemaskan’ atau ‘mencemaskan diri sendiri’. Ada yang berkaitan dengan KEMAMPUAN DIRI dan SITUASI yang membuatnya ‘tak berdaya’, ‘terpuruk’. Dan sebagainya.

Ini juga berkaitan dengan pendefinisian diri: menganggap DIRI SENDIRI sebagai SUBJEK atau sebagai OBJEK. Bagian ini akan saya tulis tersendiri aja, biar tidak menumpuk di sini.

 

Kita lanjut bagian yang ini saja… Pendefinisian diri sendiri dan situasi.

Berkaitan dengan SITUASI, seringkali orang mencemaskan ‘situasi yang akan datang’, bahkan menjadi bahan kecemasan yang patut dicemaskan. Lho.. Iya, “bahan kecemasan” itu adalah pikirannya tentang bayangan yang belum terjadi namun dipikiri terus. Sedangkan “patut dicemaskan” itu adalah pikiran sadar orang tersebut ketika berada pada “situasi yang dianggap mencemaskan”. Nah, kecemasan kuadrat ini yang tak jarang menjelma menjadi gangguan pada seseorang. Nanti, di bawah, akan saya tuliskan. Bagaimana orang kena gangguan kecemasan ini dan apa efeknya dan bagaimana ia menjadi sembuh.

Nah.. gimana dong… “jika saya mengalami cemas”?

Kembali pada “aturan tentang situasi” tadi ya…

“Saya mengalami cemas” sama artinya dengan “saya berada pada situasi yang mencemaskan” Setuju?

Okay…

Berarti: “saya berada pada situasi yang MENCEMASKAN”.

Ada dua unsur di sini:

Pertama, “saya berpikir bahwa saya sedang cemas” (berpikir tentang diri sendiri).

Kedua, “situasi yang saya hadapi adalah pantas untuk dicemaskan” (berpikir tentang situasi).

Hmm.. benarkah demikian?

Benarkah anda benar-benar sedang cemas?

Benarkah anda benar-benar sedang cemas akan situasi itu?

Benarkah SITUASI itu memang benar-benar mencemaskan? Atau:

Benarkah SITUASI itu memang benar-benar pantas dicemaskan?

Jangan-jangan pikiran anda sendiri yang sedang diliputi angan-angan yang berlawanan atau berbeda dengan kenyataan yang sedang dihadapi itu?

Pikirkan sekali lagi sebelum menghakimi DIRI SENDIRI: saya sedang cemas.

Pikirkan sekali lagi sebelum menghakimi SITUASI: ini mencemaskan.

Dengan UKURAN apa? Cari referensi tentang “apa-apa yang pantas dicemaskan”, tentang “dalam situasi apa seseorang wajar menjadi cemas”.

Jika anda mengaku sedang cemas, coba lakukan hal di atas. VERIFIKASI-lah ‘kecemasan’ itu: DIRI SENDIRI maupun SITUASI-nya.

Jika anda TIDAK LAYAK UNTUK CEMAS, sedangkan pikiran anda lebih memilih “saya cemas”, segera revolusilah pikiran anda!

Nah.. kasus-kasus cemas, kecemasan, seringkali berlanjut kepada gangguan lain: tidak bisa tidur (insomnia) dan psikosomatis. Gampangnya gini alurnya: cemas – gelisah – tidak tenang – tidak bisa tidur. Kadang alurnya bergeser ke wilayah lain: menjadi sakit karena kecemasan tentang sesuatu yang dianggap ‘sakit’ atau ‘berasosiasi dengan sakit’. Jadilah ‘psikosomatis’ yaitu sakit fisik yang disebabkan karena factor psikis.

Kasus-kasus seperti ini pada beberapa bulan terakhir sejak penghujung tahun 2018 hingga awal-awal tahun 2019 banyak muncul. Saya banyak menerima keluhan-keluhan kecemasan, resah dan gelisah (kayak lagu jadul ya…), insomnia dan psikosomatis. Dan kecemasan tersebut ujung-ujungnya juga insomnia, walaupun sang subjek (“penderita”) lebih menekankan pada “cemas”. Kasus insomnia yang dialami oleh para klien ini rata-rata memiliki latar belakang yang hampir sama: cemas, kepikiran sesuatu yang tidak dikehendakinya (pikiran nyelonong masuk tanpa diundang).

Sebagian klien yang tidak mengalami insomnia, tetapi mengalami suatu kondisi yang dia sendiri mengaku tidak tahu dan bingung. Merasa hidupnya tidak beres, kacau, dan berbagai perasaan lain yang sulit dijelaskan. Ini mengganggu pikirannya sehingga merasa tidak tenang. Dia juga mengaku seingkali kedatangan pikiran-pikiran yang tak diundangnya; nyelonong begitu saja.

Pengakuan “nyelonong sendiri tanpa diundang” sebenarnya adalah ungkapan awam, yang sebenarnya terjadi adalah “pikirannya telah (sengaja) mengundangnya” tanpa disadari!

Ini semua hanya efek yang berada di wilayah hilir. Hulunya adalah pada “PENDEFINISIAN terhadap DIRI SENDIRI dan SITUASI.

Pada sesi terapi, saya mengembalikan state (kondisi) emosi dan pikirannya pada kondisi netral, kondisi asali dari si subjek tersebut. Karena sejatinya, emosi adalah ‘netral’. Pikiran akan hal-hal yang berasosiasi dengan ‘harapan’ dan ‘referensi tertentu’- lah yang membuat ‘state emosi’ ini menjadi ‘terbebani’ dan kemudian menjadi: bermasalah. Zona netral emosi ini di-“energisasi” dengan “elemen keberdayaan diri” untuk memperkuat mental si subjek sambil membuang elemen negatif dalam dirinya.

Nah, jika tiba-tiba anda merasa mengalami hal-hal tersebut di atas, segera lakukan AUTO-CHECK:

Pertama, tanyakan pada diri sendiri: benarkah aku mengalami hal INI?

Kedua, Benarkah aku adalah orang yang seperti INI?

Ketiga, benarkah SITUASI INI benar-benar seperti yang kukira INI?

Jangan keburu-buru menghakimi DIRI SENDIRI dan SITUASI ya…

 

Dan….

Ada baiknya membuat diri anda senang… senyumlah…… 🙂 whehehe…. 🙂

Semoga anda adalah orang yang senantiasa POSITIF dan BAHAGIA… 🙂

#SmilenHappy

Sehingga SEMESTA pun berselaras dengan anda…

#BecauseWeAreConnected

 

“Aku berada pada PERSANGKAAN hamba-Ku”, begitu Tuhan berfirman.

Dengan kata lain: “you are what you think” (kamu adaah apa yang kamu pikirkan), you are what you belief (kamu adalah apa yang kamu yakini), you become what you think (kamu menjadi apa yang kamu pikirkan). You achieve what your mind believe (kamu mendapatkan apa yang pikiranmu percayai). Nah….

Berselaras bukan, dengan firman Tuhan: “Aku berada pada PERSANGKAAN hamba-Ku”? Tuhan muncul dan berada pada pikiran mana kita berada.

“Aku berpikir, maka aku ADA”, kata Rene Descartes. Filsuf ini juga mengajari kita tentang hubungan antara BERPIKIR dan ADA (‘ada’, memiliki makna yang luas dan dalam: tak sekadar ‘ada’ wujudnya, tapi ‘ada’ dalam ‘keberadaannya memiliki makna’). Nah, kapan-kapan juga saya perdalam khusus bagian ini….

Mungkin masih tersisa sebuah pertanyaan: “bagaimanakah menyelaraskan dengan kehendak Tuhan, agar pikiran dan PERSANGKAAN kita berada pada garis Tuhan” ?

Kapan-kapan aja kita bahas yang ini ya…. Biar ndak numpuk di sini….

 

Ini dulu…

Amit mundur….

Semoga bermanfaat…

🙂

Salam miracle…

 

Iklan

4 pemikiran pada “Bahaya Salah Mendefinisikan Diri dan Situasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s