Mengatasi Menunda Pekerjaan


Menunda pekerjaan berkerabat dekat dengan malas. Salah satu penyebab seseorang menunda pekerjaan adalah ‘malas’. Dan ‘malas’ itu pun bermacam jenis, ada ‘malas insidental’, ‘malas berkelanjutan’ dan ‘malas terencana’. Malas insidental adalah ketika anda tiba-tiba saja malas mengerjakan sesuatu tanpa diketahui penyebabnya secara jelas, akibatnya: menunda pekerjaan. Malas jenis ini karena terserang rangsangan tiba-tiba misalnya mood tiba-tiba tidak nyaman, teringat sesuatu yang tidak menyenangkan, terbentur sesuatu yang mengingatkan pada memori yang tak menyenangkan, dsb. Intinya, terpicu oleh sesuatu kondisi eksternal dan tak bisa mengendalikannya. Malas berkelanjutan adalah malas jenis pertama yang menemukan sikon yang cocok pada diri seseorang dan dia tak tahu harus berbuat apa untuk mengusir si rasa malas itu. Malas terencana adalah malas jenis kedua yang memperoleh pembenar dari pikirannya sendiri. Pikiran menyetujui untuk tindakan malas ini sedari awal. Malas jenis ini adalah sebuah keputusan.

Umumnya ketiga jenis malas tersebut terkait dengan kondisi eksternal yang ia tidak mampu mengelolanya. Kondisi eksternal terkait dengan objek yang dihadapi atau dikerjakan. Sesuatu pekerjaan yang mengandung kerapuhan rencana kerja sistematis, ketidakjelasan target, desain  dan goal setting dapat memicu ketidakjelasan pada diri seseorang yang kemudian memicu kemalasan terutama malas jenis kedua dan ketiga. Ujung-ujungnya: menunda pekerjaan.

Ketika seseorang bersinggungan dengan ketidakjelasan rencana kerjanya sendiri, ia akan cukup memiliki alasan untuk bingung mau ngapain, akhirnya menghamburkan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat atau di luar tugas utamanya hingga dirinya low-batt. Nah, semakin cukup alasan buat dia untuk “ntar dulu deh, masih capek nih…”. Pernah ngalamin kayak begini? “Ntar dulu”, “masih capek” adalah kondisi pembenar tindakan untuk menunda pekerjaan. Faktanya benar: memang capek beneran. Karena ia sendiri yang membuat capek dirinya!

Mengerjakan hal-hal lain di luar pekerjaan terdorong oleh 2 faktor yakni, pertama, karena mengira ‘ada hal lain yang lebih menarik’ (lebih menguntungkan, lebih menyenangkan, dsb), kedua, karena tidak memahami benar apa yang dikerjakannya, sehingga sekedar mencari pelarian yang tidak jelas atau sekedar hiburan. Kedua factor ini berujung sama: me-lowbatt-kan diri sendiri, mencapekkan diri sendiri, yang menghasilkan: penundaan pekerjaan!

Mengapa mencapekkan diri di luar tugas utama atau pekerjaan yang harus ia selesaikan? Ada 3 kondisi yang menyebabkannya.

Kondisi kesatu, adalah karena ketidakjelasan desain pekerjaan, yang meliputi: target hasil, waktu, sistematika rencana kerja. Ini juga terjadi tak hanya di dunia kerja, di dunia pendidikan persekolahan dan perkuliahan juga sering terjadi. Kemalasan mengerjakan tugas (kerja, kuliah, sekolah) berawal dari ketidakjelasan desain pekerjaan.

Dan, ketiadaan desain pekerjaan ini menyebabkan ketidakyakinan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan dan kekurangan pemahaman akan apa-apa yang dikerjakannya. Ini memicu ketidakyakinan bahwa apa-apa yang dikerjakannya bisa mendatangkan sesuatu manfaat yang dapat dipersepsi secara jelas dan dipahaminya dengan baik. Ini kondisi kedua. Ketidakyakinan ibarat orang berjalan dalam gelap dan ingin mengambil sesuatu benda dalam kegelapan. Akan bermanfaatkah benda yang kuambil ini? Jangan-jangan mubazir ntar… tapi aku harus mengambilnya. Gamang bin galau. Hasilnya: “ntar aja deh ngerjainnya…”.

Berjalan atau bekerja atau mengerjakan sesuatu dalam ketidakyakinan dan kegamangan, sangat melelahkan jiwa raga. Hanya karena berpikir tanggungjawab dan berpikir “jika tak kulakukan, aku akan susah” (“keterpaksaan”) –lah yang membuatnya tetap mengerjakan pekerjaan itu. Jadilah sebuah rutinitas yang monoton, di bawah tekanan keterpaksaan, menjemukan, tidak happy ngerjainnya. Bekerja laksana mesin: datar, tetap, mekanis, tak berseni. Dalam waktu tertentu, ia akan jenuh. Sementara itu, kekurangan pemahaman menyebabkan kebingungan bertindak: mau melangkah, bingung (benar apa salah ya…), tidak melangkah, tambah merasa salah… Nah. Akhirnya: “ntar aja deh ngerjainnya…”.

Ketidakyakinan dan kegamangan ini menyebabkan pula cepat jenuh dan (mulai) berpikir “mungkin ada hal lain yang lebih baik dari ini”. Akibatnya tidak focus, sibuk mencari alternatif lain yang belum jelas (kondisi ketiga), sementara itu pekerjaan utamanya belum ada kemajuan yang berarti. Sebenarnya, alternatif lain, boleh dan perlu dilakukan, yakni untuk menambah referensi dalam aspek teknis, bukan untuk mengacaukan aktivitas utama. Kondisi ketiga ini kadang juga berisi “sibuk mencari aktivitas lain yang tidak jelas” hanya sekedar pelarian dari kejenuhan dalam pekerjaan. Merasa jenuh biasanya terjadi pada jenis aktivitas yang mengandung rutinitas, monoton, datar, ritme pekerjaan terjadi secara mekanis (itu-itu saja). Apalagi jika dilandasi dengan ketidakpahaman sebenar-benarnya paham, hanya “yang penting kerja” (gak ada kerjaan lain kok, disuruh bos, gimana lagi.., dll). Di titik ini, tidak ada “kecintaan pada pekerjaan” (cinta berawal dari paham) dan rentan hilang motivasi.

Nah, ketika tidak focus dan sibuk mencari alternatif lain yang belum jelas (masih kondisi ketiga), ia akan terdorong untuk mencari informasi tentang hal-hal lain yang DIKIRANYA lebih baik, maka ia akan semakin terperosok ke kubangan informasi yang melelahkannya. Sementara itu, ia makin jauh dari pekerjaan utamanya. Ketika berpikir tentang pekerjaan utamanya (ada target, dll), mulailah ia sedikit berkenalan dengan ‘stress’. Kembali ke aktivitas tugas utama begitu berat. Kombinasi antara kebuntuan (bersumber dari kekurangpahaman) dan kelelahan adalah sebuah alasan logis yang termaafkan. Begitu kata-hati memberi petuah. Petuah yang membelenggu.

Biar segera bangkit dari kebuntuan dan kelelahan seperti ini, sebagian orang kadang berpikir untuk menggunakan “dopping” untuk (katanya) “mengencerkan otak dan meningkatkan stamina”. Untuk ini, hadirlah pilihan-pilihan aktivitas lain yang tersodor dalam benaknya, yang justru semakin menjauhkan dari focus pada pekerjaan dan tugas utamanya. Sensasi ‘encer otak dan stamina’ hanyalah ilusi, yang membunuh perlahan-lahan. Oke, yang bagian ini tidak saya lanjutkan, walaupun titik ini membuka peluang ke arah penggunaan obat-obatan pemuncul sensasi “kuat dan bisa mikir” itu.

Lantas, gimana dong caranya untuk…

Mengembalikan diri pada FOKUS KE PEKERJAAN, ada kecintaan pada pekerjaan dan tumbuh motivasi, untuk TIDAK LAGI menunda pekerjaan sekaligus menghilangkan malas?

Caranya:

PERBAIKI kondisi kesatu, kondisi kedua dan kondisi ketiga di atas! Kecintaan pada pekerjaan dan motivasi akan tumbuh dengan sendirinya. Motivasi muncul karena cinta, cinta muncul karena jelas dan paham akan sesuatu (objeknya jelas). Sebenarnya, kalau sudah cinta (dan termotivasi), masih relevankah membahas “menunda pekerjaan dan malas”? Memang berkaitan. Bahasan menghilangkan “tindakan suka menunda pekerjaan dan malas” memang erat kaitannya dengan “menumbuhkembangkan cinta dan motivasi-diri pada pekerjaan”.

Ndak usah bingung, kita fokus aja ke “Mengembalikan diri pada FOKUS KE PEKERJAAN untuk TIDAK LAGI menunda pekerjaan sekaligus menghilangkan malas” ya….

Okay, kita refresh dulu ya….

Kondisi Kesatu: ketidakjelasan desain pekerjaan. Diperbaiki dengan menyusun desain pekerjaan secara sistematis beserta goal setting. Desain ini memuat: target hasil, target waktu, sumberdaya personal (internal, primer), sumberdaya eksternal (sekunder), apa-apa yang akan dikerjakan dengan skala prioritas berikut pengaturan waktu yang sesuai, serta cara melakukannya sesuai dengan sumberdaya. Evaluasi tiap penggalan waktu diperlukan dalam tahap ini, untuk memantau, mengukur dan memperbaiki capaian (progress) pada tiap-tiap penggalan waktu yang dirancang untuk melakukan pekerjaan.

Target harus jelas dan spesifik, terukur dan dapat dipahami dengan baik dan benar. Target ini terkait dengan pemahaman tentang “apa yang sedang dikerjakan”. Demikian pula dengan sumberdaya, harus diidentifikasi dengan cermat, untuk dapat menopang target. Tindakan, dirancang mengikuti target (ada prioritas di sini).

Rangkaian tindakan pun, berikut asupan informasi dan piranti lain yang diperlukan, menjadi focus dan tidak melebar ke mana-mana.

Penuntasan pada tahap ini adalah separuh dari seluruh pekerjaan. Kejelasan dan pemahaman ada tahap ini merupakan modal dasar yang akan membawa pada kejelasan langkah dan pemahaman akan tindakan yang dilakukan. Tidak lagi berjalan dalam kegelapan. Sudah ada suluh penerang jalan, yang membimbingnya.

Di Miracle Ways, bahkan suluh penerang jalan ini, tak hanya dilakukan secara material (dalam level sadar), akan tetapi juga dilakukan pada level bawah sadar, yang berlanjut ke level “kesadaran yang lebih tinggi”. Langkah ini untuk menancapkan desain program positif yang telah di-setting (goal setting) ke dalam bawah sadar dan kesadaran-mendalam agar menjadi menyatu dalam diri.

Dalam level “biasa” (material, sadar) pun,  pemahaman pada tahap ini cukup bisa membawa seseorang pada pemahaman dan kejelasan akan apa-apa yang sedang dikerjakannya. Hal ini membawa pada keyakinan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan.

Maka, kondisi kedua, yakni “ketidakyakinan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan dan kekurangan pemahaman akan apa-apa yang dikerjakannya”, telah terperbaiki.

Sehingga dengan sendirinya, pemahaman, kejelasan, keyakinan akan apa-apa yang dikerjakan, membuat seseorang menjadi FOKUS pada pekerjaannya dan tak mungkin pindah ke lain hati…. Eh.. tak mungkin melirik yang lain… 🙂

Maka, kondisi ketiga yakni “tidak focus, sibuk mencari alternatif lain yang belum jelas”, dengan sendirinya juga telah teratasi.

Mungkin muncul pertanyaan begini, “lha sudah jelas kok desain programnya, kok masih males ya…”

Okay, cek lagi….

Aspek material: target. Sudahkah spesifik, jelas dan terukur? Sehingga bisa ‘dipahami’ dengan baik dan benar?

Aspek sumberdaya internal: sumberdaya personal (modalitas sumberdaya personal). Bagaimana sumberdaya personal bisa support pada desain program atau pekerjaan atau tugas yang ada, bisa dicek pada modalitas sumberdaya-nya. Modalitas sumberdaya personal meliputi: basic skills (kecakapan atau kebisaan) dan kesiapan diri. Dua hal ini berkaitan dengan elemen emosi, mental, fisik, dan kebiasaan (kebiasaan produktif atau sebaliknya: ‘kebiasaan buruk’). Seringkali factor ketahanan personal menjadi factor penguat atau pelemah. Memang setiap orang memiliki ketahanan masing-masing, baik fisik maupun mental – psikis.

Menjaga kondisi psikis – emosi – mental tetap stabil – terkontrol adalah sangat baik untuk menunjang produktivitas dan mengurangi elemen penyebab sikap  menunda pekerjaan.

Kunci aspek sumberdaya internal: kesiapan personal (fisik, mental, pemahaman, kemampuan, kebiasaan).

Cek pula aspek sumberdaya eksternal: modal kerja, alat perlengkapan kerja, suasana kerja, relasi social antar kolega, mitra kerja atau dengan staf/ anggota tim.

Kunci aspek sumberdaya eksternal: ketercukupan piranti kerja berpadu dengan kenyamanan suasana kerja akan membentuk perilaku produktif pada individual.

Namun, yang paling berpengaruh dominan adalah aspek sumberdaya personal. Mentalitas “aku adalah penyebab dari apa yang ada” perlu ditumbuhkan. Inilah mental subjek, mental penyebab (membangun persepsi diri ini sangat penting, ada tanggungjawab), bukan mempersepsi diri sebagai objek atau efek. Ini berkaitan dengan ‘ego’. Jadi ‘ego’ itu produktif, tangguh. Mentalitas subjek ini diimbangi dengan “sikap penerimaan” akan ‘hadirnya ego lain’ (kan orang lain juga demikian), atau inter-subjektivitas, untuk bisa saling menerima dan menguatkan, sekaligus introspeksi kekurangan diri (ini memicu produktivitas lanjut, mengurangi  ‘perfeksionis’ atau sok sempurna). Ingat, main sepak bola pun harus memperhatikan pemain lain (inter-subjektivitas), namun jika diri sendiri tak bisa main bola, ya mengacaukan kerja tim (subjek, personal).

Dalam suatu tim, kelompok atau komunitas, terdapat nilai-nilai, belief, identitas dan perilaku, yang kemudian menjadi struktur yang mendominasi sehingga siapa saja dalam kelompok atau komunitas tersebut akan tunduk dan mengikuti nilai-nilai, belief, identitas dan perilaku kelompok. Terdapat proses belajar sosial dalam kelompok itu. Proses saling belajar ini terjadi karena adanya pertukaran unsur energi antar individu dalam kelompok tersebut. Bagaimana ketika kita sendiri atau orang lain dalam kelompok itu, saling memodel (meniru, mencontoh, meng-copy)? Siapkah kita menjadi model bagi orang lain dalam kelompok/ komunitas kita? Siapkah Anda?

Kesimpulannya, kejelasan dan pemahaman akan sesuatu pekerjaan menumbuhkan kemauan untuk mengerjakannya, sehingga timbullah cinta, hasrat mendekati dan melakukan apa-apa yang diperlukan (motivasi diri). Dia yang terliputi oleh cinta akan senantiasa termotivasi untuk melakukan pekerjaan (focus) karena di situlah ia menemui kebahagiaan (target). Tiada ada lagi kata ‘menunda’ ataupun ‘malas’. Karena ia telah bergerak, dan terus bergerak… Ada bayangan jelas, bayangan kebahagiaan dan harapan yang membayanginya dan menuntunnya. Maka, tumbuhkan rasa bahagia dalam hati, untuk gairah kerja yang menyamankan.

Semoga bermanfaat.

Salam Miracle!

Klik Gambar Untuk Download PDF

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Mengatasi Menunda Pekerjaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s