Perbaiki Yang Pernah Rusak, Jadikan Lebih Bernilai


Kintsukuroi, repair with gold, artinya memperbaiki dengan emas, adalah seni memperbaiki barang pecah belah yang sudah rusak atau pecah dengan emas. Hasilnya: barang yang sudah rusak dan seharusnya dibuang, menjadi barang yang lebih bagus, lebih bernilai, dan lebih mahal dari sebelumnya!

Hampir semua orang pernah mengalami hal buruk dalam hidupnya, yang membuat dirinya “retak” atau “rusak”.

Tetapi itu bukan berarti akhir dari segalanya. Kita telah dianugerahi Tuhan dengan kemampuan untuk memperbaiki diri, mengubah diri sehingga kita menjadi manusia yang lebih baik, dan baru. Jika kita MAU memperbaiki diri, niscaya “sepecah dan sehancur” apapun yang kita kira, kita akan bisa berubah menjadi manusia yang jauh lebih baik, lebih bernilai dan lebih mahal dari sebelumnya! Jadi, perbaiki yang pernah rusak, jadikan lebih bernilai!

Pengalaman rekan-rekan kita yang hebat ini mungkin bisa menginspirasi kita… Mereka telah berhasil memperbaiki bagian dirinya yang pernah “retak” dan telah menjelma menjadi insan yang lebih OK.. Untuk ini saya mengacungkan jempol dan mengucapkan selamat… !

Pengalaman beberapa teman kita (klien MiracleWays) ini saya tuliskan berdasarkan masalahnya (bukan orang per orang), untuk memudahkan pembaca dalam hal memetik hikmah dari pengalaman orang lain ketika mengalami masalah yang hampir sama.

Seorang teman kita, sebut saja D, tinggal di  Malang, pernah merasa kehilangan “sebagian dari hidupnya”. Dari pengakuannya, ia mengalami gangguan mengingat angka dan mendadak seperti melihat pintu hitam membuka dan menutup di pikirannya ketika ia berhubungan dengan angka. Ini membuatnya sangat terganggu dan tersiksa apalagi ia bekerja di sektor keuangan. Menurut pengakuannya, sebelum mengalami gangguan tersebut, dia dulunya pernah menjalani hipnoterapi untuk melupakan sebuah peristiwa yang membuatnya tak nyaman (semacam ingin menyembuhkan trauma).  Entah bagaimana, hasil terapi di masa lalunya, menyebabkan ia seperti “kehilangan memori”. Semacam ada “lubang” yang membekas menggantikan penggalan peristiwa hidupnya, yang berubah atau tergantikan menjadi “pintu hitam membuka dan menutup” yang selalu muncul di pikirannya.

Betapa ia tersiksa dengan keadaan ini. Ia merasakan hidupnya “retak” dan serpihannya tercecer entah di mana. Berkat kemauannya untuk sembuh dan berkat pertolongan Tuhan, rekan kita D ini terbebas dari masalahnya. Saya memerlukan 45 menit untuk membawanya ke “zona netral” (terbebas dari gangguan pintu hitam) berlanjut ke “zona plus” yakni pemberdayaan atau penguatan diri.

Masih di area Malang, pengalaman dua rekan kita, sebut saja M dan A, dan seorang teman kita dari Pandaan, Pasuruan, juga berurusan dengan “penggalan kisah masa lalu yang ingin dilupakan”, tetapi kali ini, berkaitan dengan “mantan”. Yah, singkatnya “ingin melupakan sang mantan”…. Emang napa sih… mantan kok dilupakan… kan ndak apa-apa to… hehe… 🙂

Kalimat yang disampaikan kepada saya, singkatnya demikian: ”… pak, saya ingin menghapus memori saya tentang mantan saya… dst.. “… biar saya tidak terganggu dan keluarga saya juga tidak terganggu. Sebelum saya lakukan prosedur terapi kepada ketiga teman tersebut (dalam waktu terpisah dan tidak bersamaan), saya memberi pengertian bahwa, pertama, menghapus memori (seperti yang ia inginkan atau ia duga) adalah tidak mungkin, karena memori tidak bisa dihapus, tetapi ditindih dengan memori baru. Dan urusan “menindih” ini saya memberi pemahaman awal kepada mereka tentang kebutuhan masa sekarang, persepsi tentang masa lalu dan harapan tentang masa mendatang. Eh, kok kayak Kungfu Panda ya… hehe… 🙂 Yaah, supaya teman kita ini punya pemahaman yang pas tentang persepsi dan definisi terhadap diri mereka sendiri. Pemahaman ini penting untuk meletakkan secara benar jenis pemberdayaan personal yang diterapkan, dan ini melibatkan unsur memori dirinya. Memori hidup bersama persepsi, konstruksi, ego, dsb.

Maka jika keliru bermain-main dengan memori, bisa fatal kayak pengalaman teman kita D tadi itu. Pada kasus semacam ini, seorang “penderita” (klien) biasanya mengucapkan kalimat yang menjadi masalahnya atau keinginannya, seperti “saya ingin menghilangkan memori tentang mantan”. Akan konyol dan fatal jika diterjemahkan ke dalam bahasa terapi secara harfiah; bisa berakibat kehilangan memori sungguhan kayak teman kita D tadi. Karenanya, klien jua harus paham masalah ‘memori’, ’emosi’ dsb, supaya lebih memahami perihal dirinya sendiri.

Kedua, dalam kasus ini, ada dua aspek penting yang terjadi, yakni PENGELOLAAN EMOSI DIRI SENDIRI (ingin melupakan mantan; ini urusan diri pribadi) DAN PENGELOLAAN HUBUNGAN SOSIAL (berkaitan dengan keluarga, yang ingin ia jaga agar keluarga tidak terganggu dengan “hadirnya” sang mantan. Padahal “hadir”-nya sang mantan adalah dalam “pikiran” dia sendiri). Nah, ini yang perlu dipilahkan dengan tegas, supaya ia paham sebelum menjalani prosedur hipnoterapi. Hipnoterapi berlangsung di arena PERTAMA yakni yang berkaitan dengan DIRI SENDIRI. Ketika diri sendiri telah beres, maka aspek KEDUA yakni HUBUNGAN SOSIAL  (keluarga, agar keluarga tak terganggu, dsb) dengan sendirinya lebih mudah diatasi oleh yang bersangkutan.

Arena KEDUA adalah di luar wilayah terapi, atau dengan kata lain, saya tidak melakukan hipnoterapi kepada “hubungan sosial dengan keluarga”. Saya melakukan terapi kepada “ORANG yang terganggu karena masih memiliki memori tentang mantan”, inipun bukan dengan cara “men-delete memori” tetapi dengan memberi penguatan atas pengelolaan emosi, memperbaiki struktur emosi terutama pada bagian yang terkait dengan mantan. Saya harus berhati-hati dalam memberi “intervensi” sugesti terapeutik dalam kasus seperti ini. Jika salah, dapat mengakibatkan “hilangnya bagian memori” seperti pada kasus pertama di atas (lubang hitam di pikiran seperti pintu hitam membuka dan menutup). Sedangkan yang terkait “hubungan sosial dengan keluarga” atau dengan orang lain (orang-orang di luar dirinya), saya mengajaknya diskusi, brainstorming, membuka pikirannya, untuk membantu agar dia lebih terbuka cakrawala pemikirannya.

Saya pun selalu mengajak diskusi para klien saya, tentang pengalaman dia berhubungan sosial. Bagaimanapun, kita adalah makhluk sosial, tak lepas dari lingkungan sosial. Bagaimana peran kita selaku ‘diri’, ‘subjek’ dalam lingkungan sosial? Bagaimana konsep ‘kedirian’ kita dalam hubungannya dengan lingkungan sosial? Lingkungan sosial juga termasuk ‘lingkungan politik’. Lho.. kok sampai ke politik juga urusannya? Ya, itu adalah tempat kita hidup, “habitat” kita. Bagaimana kita bisa lepas dari “lingkungan habitat” kita? Bagaimana memerankan diri kita di lingkungan sosial (termasuk politik, dsb), sebagus apapun performa-diri kita?
Ya.. Tentu, semua pembicaraan saya sesuaikan dengan sikon dan kebutuhan klien, atau, yang relevan atau sesuai dengan kebutuhan klien. Intinya, kita hidup bukan dalam ruang hampa, tetapi dalam lingkungan sosial. Apapun ruang sosial-nya klien.

Nah, kembali ke pengalaman ketiga orang teman kita tadi…  Mereka ini memiliki kasus yang mirip, yakni  ingin melupakan mantan  sekaligus ingin lebih memperbaiki hubungannya dengan keluarga tanpa “kehadiran” sang mantan. Ketika kondisi diri-pribadinya “terbebas” dari “pengaruh” sang mantan, atau TEPATNYA terbebas dari “persepsi” atau “ilusi”-nya sendiri atau “permainan pikirannya sendiri” yang diisi dengan unsur mantan, maka diri orang tersebut telah terbebas dari “beban ekstra”  yang dibuatnya sendiri. Ia sadar telah membuat beban ekstra yang tak berguna, namun ia tak kuasa menolaknya sehingga ia makin masuk dalam perangkap pikiran dan perangkap emosi yang diciptakannya sendiri! Di sinilah saya merasa sedih… eh.. 🙂 di sinilah kehadiran seorang terapis dibutuhkan. Berikutnya, terkait hubungan sosial… Jika kondisi diri pribadi telah “selesai”, maka hubungan sosial, termasuk hubungan dengan keluarga otomatis berjalan lebih sulum.. eh, mulus.. hehe… 🙂  Selamat ya teman-teman…. 🙂

Ketiga teman kita ini juga telah sukses memperbaiki bagian hidupnya yang “retak” dengan sulaman emas yakni persepsi dan emosi baru yang lebih berdaya dan memberdayakan!

Pengalaman lain, seorang pengusaha sukses di Araya, Malang, sebut saja AM (49 tahun), yang mengaku kepada saya bahwa ia sering terganggu dengan pikiran-pikiran lama sehingga sering membuatnya memiliki dorongan asing yang tak dikehendakinya, semacam “bisikan aneh” yang menyuruhnya berbuat sesuatu yang tidak baik. Namun ia menahannya sehingga tampak seperti bisa mengalahkan “bisikan aneh” tersebut. Bagusnya, ia tak membiarkan bisikan aneh tersebut menguasainya sehingga ia tidak melakukan “perintah-perintah” yang diberikan oleh “bisikan asing” tersebut. Namun, ia kelelahan karena setiap hari, setiap waktu ia bergulat dengan dirinya sendiri untuk menundukkan dorongan atau bisikan ini. Ia menghubungi saya untuk minta diterapi. Setelah bercakap-cakap cukup lama, rupanya sang bos ini suka bicara yang bagi saya terasa seperti menumpahkan isi hatinya… hehe… silakan saja….. Maka setelah menjalani terapi sekitar 60 menit, puji syukur pada Tuhan… beliau sukses menundukkan dan menata ulang struktur emosi dan pikirannyanya. Dengan kata lain, sukses berdamai dengan “kegelisahan pikirannya” selama ini. Ya, beliau telah terbebas dari bisikan aneh dan dorongan aneh yang sebelumnya menguasai dirinya.

Pengalaman pemberdayaan ini membuat beliau ini ingin mengikutkan putranya untuk memperbaiki belajarnya. Sang putra mengikuti program ‘Life Design and Accelerated Learning’ dan Pemrograman Bahasa Asing, yakni membuat bahasa asing yang dipelajarinya (dalam hal ini Bahasa Inggris) menjadi selancar dan seringan bahasa ibu (Bahasa Indonesia). Program Life Design and Accelerated Learning’ membuat dia menjadi lebih cepat meretas ide bisnis ketika ia mendengar pembicaraan rekan-rekan kerja orangtuanya. Kebetulan anak ini suka sekali berbisnis, yang ia lakukan sambil bersekolah. Dalam konteks ini pun, tetap saya lakukan teknik-teknik hipnoterapi dan aneka teknik lain untuk menyelaraskan pikiran, emosi dan hatinya, yang didahului dengan ‘pembersihan mental’.

Rajutan benang emas akhirnya telah menghiasinya dengan lebih indah….

Pengalaman menarik juga ditunjukkan oleh 6 teman kita yang rata-rata mengalami ketidaknyamanan emosi terkait dengan pengalaman terdahulu bersama orang-orang dekatnya. Efek yang dirasakan, mulai dari merasa tidak nyaman ketika bergaul dengan orang lain, takut bergaul, sulit bicara, bicara tidak nyaman, bahkan di antaranya mengimbas ke masalah fisik yakni menderita sakit fisik (psikosomatis). Dari kondisi psikis yang tidak nyaman menjadi sakit sungguhan. Bagusnya, mereka ini segera menyadari dan ingin segera terbebas dari gangguan yang membelitnya.

Rekatan emas membuat hidupnya kini makin indah dan jauh lebih bernilai, karena mereka telah menemukan kembali kekuatan dirinya yang sempat terabaikan.

Yah, salah fokus yang terpicu dari sikap mental yang mengurungnya (sebelum terapi) sehingga mereka men-delete atau mengabaikan kekuatan dirinya, malah lebih fokus pada “kondisi pikiran negatifnya”.

Banyak orang mengalami galfok atau gagal fokus. Mereka lebih terfokus pada pikiran negatif ketimbang fokus kepada pikiran positifnya.

Mengapa? Karena mereka merasa nyaman dengan kondisi tersebut. Nyaman? Kan super galau? Iya.. namun mereka merasa mendapat “keuntungan lain” (secondary gain) dengan memelihara pikiran negatifnya itu, tanpa disadari! Misalnya nih, merasa terbelenggu dengan peristiwa traumatik yang membuat dia merasa sakit (dan tak jarang sakit fisik sungguhan) dan terganggu tugas-tugasnya, namun ia “lebih suka” atau “lebih memilih memelihara ketidaknyamanan” itu.

Mengapa? Ternyata ia membutuhkan alasan logis untuk dapat meninggalkan tugas atau “lari dari kenyataan untuk sebentar” tanpa merasa bersalah. Nah, satu-satunya alasan logis untuk “meninggalkan tugas tanpa merasa bersalah” atau “lari dari kenyataan sebentar, tanpa merasa bersalah” adalah “jika kondisinya sakit” (di bawah permakluman umum). Maka bawah sadarnya memelihara “persyaratan untuk menjadi sakit” itu; dan sistem tubuh merespons pikiran bawah sadar ini! Jadilah sakit sungguhan. Kasus psikosomatis sering terjadi di arena mental seperti ini.

Dalam kondisi ini, yang sedang terjadi pada orang golongan ini adalah “ia atau mereka mengijinkan tubuhnya berada dalam kondisi yang membuatnya mendapatkan secondary gain (keuntungan kedua)”. Apa keuntungan kedua itu? Yakni, keadaan “nyaman” ketika “terbebas dari beban tugas” (varian “terbebas dari tugas” ini bisa bermacam-macam; prinsipnya ada variabel tertentu yang ikut bermain untuk turut membentuk “rasa nyaman buatan”). Ini yang dipertahankan oleh “bawah sadar” orang yang sedang mengalami kondisi itu. Cukup banyak klien saya yang mengalami kondisi tersebut, diantaranya seperti dialami klien dari Batam, Depok, Solo, Kediri dan Kalimantan ini (nama ada di redaksi 🙂 ). Bagusnya, mereka punya kemauan kuat untuk berubah! Sekali lagi, saya mengucapkan selamat kepada mereka yang hebat-hebat ini!

Kesadaran baru telah memperkuatnya untuk menggeser fokus ke pikiran positif dan menempatkan persepsinya dengan lebih tepat sesuai dengan “yang SEBENARNYA” ia inginkan!

Isilah pikiran Anda dengan apa-apa yang Anda INGINKAN!

“Aku pikirkan apa yang kuinginkan, bukan yang tidak aku inginkan”.

 

#fokus #pikiranpositif #produktivitas #citradiri #TerapiKonsepDiri #TerapiHatidanPikiranPositif

Sumber gambar ilustrasi: https://id.pinterest.com/lbrownfield/kintsukuroi
Keterangan gambar utama: patung ini sebenarnya pecah dan tak layak dipajang. Tetapi dengan sentuhan rajutan emas, terciptalah performa patung yang jauh lebih hidup dan lebih mempesona! Anda pun tak mengira kan.. jika patung itu sebenarnya “daur ulang”.. hehe… 🙂
Catatan:
Semua identitas klien dirahasiakan.

 

 

Klik Gambar Untuk Info Lebih Lengkap dan Link Download PDF

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s