Penguatan Energi Belajar: Menyikapi Cacat Bawaan Praktik Pendidikan Persekolahan

Penguatan Energi Belajar: Menyikapi Cacat Bawaan Praktik Pendidikan Persekolahan


Cara belajar yang terlalu menghabiskan waktu anak bersama kertas, mencetak “anak pintar” namun rentan, kurang tangguh, kurang percaya diri dan kurang kreatif. Praktik pendidikan persekolahan, dengan tolok ukur prestasi berdasarkan kecakapan menjawab soal, memproduksi “anak pintar kertas”, “anak bodoh” dan “anak rata-rata” (tidak pintar dan tidak bodoh). Dan kita sulit menghindar dari dekapan rezim pendidikan seperti ini. Cara belajar pun di-setting untuk memenuhi tuntutan dan tagihan kurikulum berbasis kecakapan menjawab soal dan tidak terlalu menganggap penting muatan fundamental seperti ketangguhan personal, kekuatan karakter, kecakapan komunikasi dan kecakapan sosial, dsb. Alhasil, pengejaran prestasi berbasis soal ujian dengan “bintang penghargaan” berupa angka nilai dan modus pe-ranking-an menjadi sakral dan modus utama untuk menentukan “prestasi dan sukses belajar” anak dalam ritus pendidikan persekolahan. Kemudian, untuk itu, waktu anak tersita habis untuk urusan mengejar angka dan ranking ini.

Dan untuk mengejar “prestasi” ini, tak jarang orangtua mengikutkan anak-anaknya pada kegiatan bimbingan belajar (bimbel), les, kursus atau semacamnya, disamping pelajaran di sekolah. Karena amat susah menghindari rezim pendidikan model ini, maka boleh saja melakukan semua itu, jika itu diyakini bisa membantu anak-anak. Namun permasalahannya, benarkah anak-anak bisa menyerap aneka pelajaran tambahan dari les atau bimbel dsb itu dengan efektif setelah menerima berbagai macam pelajaran di sekolah? Tidakkah anak-anak itu malah makin jenuh dan lelah rohani? Dan aneka aktivitas ini makin mempersempit ruang anak-anak untuk mengasah soft skills-nya, padahal soft skills itu menentukan 85% kesuksesan seseorang!

Memang dilematis, dan terasa sulit menentukan pilihan yang pas buat men-support dan membentuk kualifikasi anak-anak yang akan mengantarnya pada kualifikasi yang dibutuhkan zamannya kelak, atau, kualifikasi yang dibutuhkan agar anak kelak mampu survive pada  zamannya kelak (10 – 20 tahun ke depan!). Kualifikasi zaman ini (abad 21) membutuhkan kualitas personal yang tak hanya cerdas akademik, namun juga cerdas sosial, emosional dan spiritual yang antara lain didapat melalui penguatan soft skills. Ini sejalan banget dengan amanat UU Sisdiknas, bahwa “fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”.

Namun ruang dan peluang untuk menajamkan soft skills beserta kecerdasan sosial, emosional dan spiritual untuk menguatkan “kualifikasi personal abad 21” (bahasa UU-nya adalah “berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”) membutuhkan arena dan pendekatan pembelajaran yang memampukan anak untuk berkembang secara KREATIF, ANALITIK, MANDIRI, BERTANGGUNGJAWAB dan TANGGUH. Yang mana arena ini berebut dengan arena yang berisi misi pencetakan murid yang sekedar terampil menjawab soal-soal ujian saja. Karena mahir menjawab soal hasilnya adalah angka nilai yang tinggi, berujung ranking, dan itu idaman hampir semua orangtua dan anak! Konsekuensinya, cara belajar yang dipakai adalah cara belajar yang menjejali anak dengan soal-soal dan menghabiskan sebagian besar waktu anak bersama kertas! Sebenarnya telah terjadi pereduksian makna pendidikan dan tujuan pendidikan menjadi sekadar terampil menjawab soal dan pengejaran angka nilai saja, namun apa boleh buat. Kesalahkaprahan telah terjadi! Kesalahkaprahan yang merupakan cacat bawaan praktik pendidikan persekolahan (untuk tidak mengatakan ‘malpraktik’ pendidikan), namun mendapat pembenar secara masif!

Tulisan ini hendak mengajak “kembali kepada misi pendidikan yang sebenarnya” untuk menciptakan kualitas personal yang sesungguhnya bagi anak-anak Indonesia tanpa mengubah tradisi praktik pendidikan persekolahan yang telah berlangsung dan menjadi mainstream ini. Kualifikasi personal dimaksud adalah kualifikasi personal yang membuat anak-anak Indonesia menjadi TANGGUH, BERDAYA PIKIR ANALITIK, KREATIF, MANDIRI dan BERTANGGUNGJAWAB, bukan sekedar pandai menjawab soal (kepandaian kertas) namun rentan pada bidang-bidang penting lainnya yang justru bidang itulah yang menentukan 85% kesuksesannya kelak! Sebagai contoh bukti, saya memulainya dari pengalaman pribadi saya sendiri, yang saya lanjutkan dengan pengalaman pada anak-anak saya dan pengalaman  melakukan pendampingan terapeutik pada orang lain (para klien saya) sejak tahun 2010.

Saya Menyesal Menjadi Anak Pintar!

Dari pengalaman, saya berkesimpulan bahwa jika sebagian besar waktu anak habis untuk aktivitas jejalan materi kertas seperti ini, saya sangat meragukan kualifikasi anak yang terbentuk dengan cara tersebut. Memang tampak pintar, namun rapuh di dalam. Saya menyebutnya “pintar kertas”.

Pengalaman pribadi saya dulu (sebelum saya merevolusi diri) menunjukkan betapa saya “menyesal menjadi anak pintar”, karena waktu saya habis bersama kertas! Sejak SD hingga SMA saya terlatih menundukkan materi-materi pelajaran dan saya tidak ada masalah dengan pelajaran apapun bahkan yang dianggap sulit seperti matematika, fisika, kimia dan bahasa Inggris. Saya selalu berada pada ranking teratas sejak SD – SMA! Bahkan saya memerlukan waktu hanya 2 bulan untuk belajar di kelas 1 SD langsung naik ke kelas 2. Ini karena waktu masuk SD saya terlambat, sekolah sudah dimulai dan dekat kenaikan kelas. Orangtua saya mengistilahkan “titip anak ini” supaya ada temannya, daripada di rumah. Sekolah menerimanya. Maklum di desa. Begitulah.. saya tidak mengalami masalah dengan pelajaran, bahkan kelas 4 – 5  SD saya sering dimintai tolong guru untuk merangkum buku yang saya lakukan di ruang guru (merangkap ruang koleksi buku), sambil diperbolehkan meninggalkan pelajaran. Kalau mengingat itu, saya sering merasa heran. Prestasi akademik seolah telah menjadi merk yang menempel yang saya sendiri seolah tak merasakannya lagi, demikian terus hingga SMP saya tetap cemerlang hingga SMA. Seng ada lawan…

Walaupun kemudian ketika di SMA kelas 2 saya merasa aneh dengan “keahlian dan kecemerlangan” saya tersebut. Saat itu saya menyadari bahwa selama itu (SD hingga SMA awal kelas 2) waktu saya habis bersama kertas dan ternyata saya GAGAP BERHADAPAN DENGAN SESAMA MANUSIA. Walaupun saya dianggap jago di sekolah dan bahkan saya pernah didaulat mengajar teman-teman di kelas saat kelas 2 SMA karena guru pelajaran Bahasa Inggris mangkir satu bulan, mengajar teman-teman di kelompok-kelompok belajar untuk pelajaran matematika, fisika, kimia dan bahasa Inggris, dsb, dan saya sempat belajar bahasa Jepang secara otodidak sejak kelas 1 SMA, saya tetap merasakan ADA HAL PENTING YANG KURANG pada diri saya! Yakni saya merasa sulit bergaul dengan teman, sulit sekali memulai pembicaraan jika bertemu orang baru, sulit bekerjasama (mungkin  karena merasa bisa dan sudah bisa sendiri), kurang taft (tangguh), dsb. Bahkan bicara dengan teman perempuan pun sulit, cari pacar juga gagap total… hehe….

Kalau urusan mengajari mata pelajaran tidak ada masalah, namun jika bergaul di arena sosial, nah, dalam diri yang hebat ini diam-diam terjadi KEBINGUNGAN dan KEBODOHAN akut yang sulit sekali dikontrol dengan “kepandaian yang saya miliki”. Di sinilah saya merasa bodoh! Mulailah di kelas 2 SMA saya mengubah “gaya belajar” saya yakni tidak lagi tergantung buku pelajaran (sebagiannya mungkin karena bosan bergaul dengan buku sejak SD – kelas 1 SMA), tetapi saya memperbanyak aktivitas sosial bersama teman-teman (baca: nglayap melulu) hehe…. Tujuan mulia hanya satu: melatih kecakapan sosial dan ketangguhan diri belajar dari lingkungan! Saya masih mau membaca buku, namun buku-buku yang saya baca bukanlah buku pelajaran sekolah, namun buku-buku tentang motivasi, pengembangan diri, kisah sukses, psikologi, spiritualitas, dsb. Pernah suatu ketika saya terpergok kepala sekolah ketika saya sedang asyik membaca buku-buku “bukan pelajaran sekolah” di perpustakaan sekolah, beliau menegur saya dengan nada larangan. Saya waktu itu mengatakan “…saya jenuh membaca buku pelajaran… dan ingin refreshing…”. Ujungnya, saya diskors satu minggu. Dan ketika saya membaca “buku bukan pelajaran” di kelas, saya diskors lagi oleh guru pengajar di kelas kala itu, selama ia mengajar.

Beruntung, walau “tidak pernah belajar”, nilai rapor dan ijazah saya tidak mengecewakan, dan tetap tertinggi… Dan saya tetap berprinsip: “angka nilai di kertas tidak utama dan tidak penting, namun isi kepala dan tindakan saya yang lebih utama dan penting!”. Semboyan seperti ini di jaman sekarang mungkin menjadi berbahaya.. hehe…

Begitulah…. Saya memerlukan waktu yang amat panjang dan berisiko, untuk “menyembuhkan diri” dari “penyakit asosial dan kurang tangguh” yang menjadi cacat bawaan cara belajar yang terlalu menghabiskan waktu bersama kertas ini! Dan sekolah tidak mau tahu masalah murid seperti ini! Seolah mereka hanya peduli dengan “gaya belajar kertas”, dan hanya menginginkan muridnya “pintar menjawab soal”!  Masih adakah yang mengidam-idamkan cara ini? Mereka yang belum pernah mengalami mungkin masih mengira bahwa inilah yang disebut “kepandaian idaman”!

Pengalaman saya menunjukkan: cara belajar yang terlalu menghabiskan waktu bersama kertas menghasilkan  pribadi yang tidak tangguh ! Cara ini hanya menghasilkan “ilusi kepandaian” (pintar kertas doang). Karenanya, setelah saya menyadari, saya segera merevolusi diri, dan saya memerlukan waktu yang amat panjang untuk “menyembuhkan diri”! Waktu yang panjang, berisiko, dan berbiaya mahal! Sejak kelas 2 SMA (sejak saya menyadari ada “keanehan” dan “kekurangan yang menyiksa” pada diri saya) hingga kuliah S1, sebagian besar waktu saya alokasikan untuk “penyembuhan diri”. Tak terhitung biaya yang saya keluarkan untuk ini, mulai berburu buku-buku motivasi, pengembangan diri, psikologi, filsafat, agama, berguru pada orang-orang yang saya anggap ahli di bidang pengembangan diri (dengan referensi kala itu), hingga masuk pondok pesantren, ikut seminar, pelatihan pengembangan diri, mulai yang berbasis motivasi verbal hingga non-verbal seperti aktivasi bio-energi dalam tubuh, energi dalam diri (chi, qi), energi alam semesta (lun), spiritualitas modern, spiritualitas tradisional, dsb. Semua saya lakukan dalam pengalaman keseharian saya berbarengan dengan aktivitas harian saya selama bertahun-tahun, hingga saya menemukan dan merasa berubah menjadi pribadi yang lain, berbeda dari sebelumnya, pribadi baru yang jauh lebih tangguh.

Pada kasus saya, ada satu hal penting yang terlupakan dalam pendidikan: bahwa dalam membentuk kualitas diri (dengan menempuh pendidikan, bersekolah), kecakapan soft skills dan kecakapan sosial tidak boleh ditinggal, apapun keminatan studi dan profesi seseorang. Padahal ketika itu (SD – SMA) saya sama sekali tidak terpikir untuk menjadi “ranking 1”, tidak pernah dituntut orangtua untuk harus di atas, dsb. Bahkan saya sendiri pun tak peduli dengan ranking, angka nilai dan tak paham apa itu persaingan haha…. (bodoh ya…. ). Bahkan ketika kelas 2 SMP saya pernah dibuat taruhan (pakai uang) oleh teman saya yang agak “bongol” (namanya AR). Tahu saya dipakai taruhan, waktu itu ada lomba cerdas cermat, saya tidak suka taruhan, saya tahu AR “megang saya”, kemudian saya sengaja ngaco agar tim saya kalah. Benar, kalah sungguhan. Saya dimaki-maki AR sambil ia menyorong (Jawa: njulekno) kepala saya sambil mengumpat (ndak enak kalau ditulis).. hehe… karena ia kalah taruhan dalam jumlah yang lumayan… hehe…. Kalau ingat itu saya suka senyum-senyum sendiri. Begitulah, saya suka-suka aja, tidak menganggap prestasi atau predikat itu sangat penting walaupun saya memilikinya. Kalau tidak suka bisa saya tinggal.

Nah, cuplikan pengalaman pribadi ini, menegaskan bahwa “cakap dan pandai mata pelajaran” (saya telah mengalaminya) ini TIDAK CUKUP! Ingat: saya TELAH mengalaminya!

Cukuplah pengalaman saya ini sebagai pelajaran bagi putra-putri rekan-rekan sekalian. Jangan sampai mengulangi kekeliruan yang saya tempuh. Jarum jam tak bisa diputar ulang, saudara… Jangan terbuai oleh pengejaran ilusi prestasi anak yang berupa angka nilai saja dengan mengabaikan kecakapan sosial dan ketangguhan pribadi anak!

Jika anak memang mampu meraih angka nilai tinggi bahkan tertinggi, bagus itu.. Biarkan ia meraihnya, termasuk ranking atas, jika ia mampu. Tak usah “dipaksa” untuk itu, dan tak perlu dijadikan ukuran prestasi dan sukses belajar. Dan yang tak boleh dilupakan: tetaplah membina ketangguhan diri si anak! Jika anak tak mampu meraih angka nilai tinggi dan ranking atas, biarkan, jangan paksa dia untuk hal yang tak mampu ia raih. Mampukan ia pada bidang yang ia mampu kembangkan. Dorong dan motivasi ia untuk bidang yang menjadi “passion”-nya! Tentang angka nilai, cukuplah pada lolos KKM saja (di atas KKM juga lebih baik), selebihnya, cari bidang keminatan dan passion si anak dan kembangkan di situ. Dan, jangan lupa: bina ketangguhan diri si anak! (pada bagian bawah, ada kisah anak yang “lemah” pada pelajaran sekolah, namun cerdas dan canggih di bidang lain, dan ini yang dikembangkan dan di-support oleh orangtuanya. Hasilnya… mencengangkan..!).

INGAT !!!

Cara belajar yang terlalu banyak menghabiskan waktu anak bersama kertas, sudah pasti merampas waktu untuk belajar sesuatu pelajaran yang mampu mengembangkan ketangguhan pribadi dan kecakapan sosial! Yang justru kecakapan di bidang-bidang yang disebut terakhir inilah yang berkontribusi pada kesuksesan anak kelak hingga 85%!

PENTING!!!

Berhati-hatilah dan waspadalah terhadap cara belajar yang terlalu menghabiskan waktu anak bersama kertas !

Kerawanan 1: pikiran anak jenuh; lelah rohani; emosi tertekan; menjadi lebih labil; jika anak tidak takut  mengekspresikan, maka suka uring-uringan, jika takut mengekspresikan maka ia memendam emosi namun diam-diam jadi stress.

Kerawanan 2: mungkin bisa membantu anak dalam mengejar ketertinggalan pelajaran di sekolah, atau mendahului teman-temannya, terampil menjawab soal sehingga menjadi “anak pandai”, menduduki ranking teratas, tetapi ini hanya pandai di atas kertas, namun rawan terjadi “kerapuhan di dalam”, rentan terkena stress.

Kerawanan 3: Ungkapan “too much schooling will kill you” itu benar. Terlalu lama bergaul dengan kertas bisa membunuhmu (pengalaman saya telah membuktikan, untung saya segera sadar).

Kerawanan 4: Kehilangan waktu belajar dan berlatih soft skills yang menurut riset, berkontribusi dan berpengaruh pada 85% kesuksesan!

Kerawanan 5: Kerentanan pribadi yang terpicu dari kerawanan 1 hingga 4, berpotensi memunculkan kerawanan jangka panjang, yakni ‘kerapuhan mental’, dalam jangka panjang “memandulkan” kemampuan survivalitas, bisa memicu inferior complex syndrome atau sindrom merasa rendah diri walaupun memiliki kemampuan.

Gambar di atas ini mungkin sekedar lelucon, namun  ‘kepandaian kertas’ yang membentuk seseorang selama bertahun-tahun sangat memungkinkan menjadikan seseorang menjadi ‘gagap sosial’ dan kurang kreatif, sehingga kurang cakap memanfaatkan keahliannya.

Di sekitar kita : berapa banyak orang-orang yang berpendidikan tinggi dan ahli dalam suatu bidang keilmuan dan sanggup menulis buku-buku tentang ilmu yang dikuasainya, akan tetapi mereka gagap dan gagal mempraktikkannya sendiri? Ilmunya untuk apa? Hanya untuk tampak gagah? Ada karakter yang hilang dari proses pendewasaan bersama ilmu yang dipelajari selama menempuh pendidikan!

Nah.. jangan sampai investasi waktu selama menjalani sekolah menjadi sia-sia…. Menghabiskan waktu, hasilnya, lulus sekolah hanya pandai kertas doang… pribadi lemah, tidak tangguh, gagap sosial, tidak kreatif dan bingung…. kepandaiannya seolah tak berguna…

Nah, pada tulisan  ini saya ingin memfokuskan bahasan pada upaya membentuk pribadi tangguh dan cakap sosial pada anak.

Pribadi tangguh dan cakap sosial menjadi satu kesatuan yang saya sebut saja “pribadi tangguh”. Nah, pribadi tangguh ini berisi ketangguhan berpikir (mampu berpikir analitik, kritis), berpikir kreatif, ketangguhan emosional, sosial dan spiritual.

Pada pengalaman saya di atas, setelah “pertobatan” saya, saya pun menerapkan metode belajar revolusioner pada kedua anak saya. Saya tidak mau anak saya hanya menjadi pintar kertas seperti bapaknya jaman dulu sebelum tobat.. Mereka saya ajari DASAR BERPIKIR ANALITIK, KETANGGUHAN BERPIKIR, BERPIKIR KREATIF dan KRITIS (secara sosial), dan KETANGGUHAN EMOSI, sehingga mereka memiliki ENERGI BELAJAR yang KUAT serta tumbuh menjadi PRIBADI TANGGUH. Apapun yang mereka pelajari, apapun keminatan mereka, mereka mampu mencernanya tanpa lelah bahkan tetap dapat melakukan aneka aktivitas non akademik untuk mengasah soft skills tanpa mengganggu prestasi akademiknya!

Ini saya lakukan bersama istri, terhadap kedua anak saya sejak mereka telah mulai mengerti komunikasi (sebelum masuk TK), terus hingga mereka masuk TK, SD, SMP hingga SMA. Misi pertama saya pada mereka adalah: jangan sampai mereka meniru kecelakaan bapaknya yakni kecelakaan menjadi anak pandai yang menghabiskan waktunya bersama kertas doang!

Jika melihat konteks praktik pendidikan sekarang… sebenarnya sama saja dengan konteks praktik pendidikan pada jaman kedua anak saya ketika TK (antara tahun 1999 – 2000-an), SD (sekitar 2002 – 2008), SMP (sekitar 2009 – 2012), SMA (sekitar 2012 – 2015). Yaitu iklim pendidikan yang terlalu mengejar “kepandaian kertas”. Anak mengejar kepandaian kertas, dengan restu orangtua yang juga mengira bahwa kepandaian kertas dan ranking atas adalah sebuah sukses belajar yang membanggakan dan menjadi idaman, di bawah bimbingan guru-guru yang juga ditarget oleh sistem untuk mencetak murid agar terampil menjawab soal ujian sehingga sekolah dianggap berhasil dan tidak disalahkan oleh instansi pemerintahnya! Inilah paradoks pendidikan!

Alhasil…. pendidikan  di-setting sehingga anak didik menghabiskan waktu bersama kertas untuk target pintar menjawab soal ujian saja! Aktivitas non-akademik, ekstra kurikuler (ekskul) termasuk olah raga dan kesenian menjadi “mata pelajaran yang tak penting”, menjadi “pelarian” bagi anak-anak yang “tidak pandai”. Karena “kepandaian” dan predikat “anak pandai” diukur dari kecakapan menjawab soal ujian akademik! Dan, “anak pandai” pun kehilangan gairah dan waktunya untuk aktif di ekskul karena energinya tidak mencukupi atau menganggap ekskul tidak berguna.

Sedangkan “anak tak pandai”, yang “terbuang dari arena akademik”, lebih memilih aktif di ekskul yang non akademik karena di situ mereka merasa eksistensinya dihargai! Mereka menemukan dunianya! Masih untung jika mereka ini menemukan penghargaan dan eksistensinya di arena “ekskul”, jika tidak, maka “anak-anak tak pandai” ini akan “terbuang” dan terpuruk dalam kesepian dan kehilangan kepercayaan  diri!

Berapa banyak anak-anak murid yang seperti ini?

Inilah cacat bawaan dari praktik pendidikan persekolahan (untuk tidak mengatakan ‘malpraktik” pendidikan)!

Sebenarnya pendidikan itu dimaksudkan untuk menghidupkan harga diri manusia yang sedang belajar, memanusiakan manusia, yang beriringan dengan proses pendewasaannya melalui aktivitas akademik dan non-akademik, sesuai dan selaras dengan minat dan potensi khasnya!

Karena inilah, saya tidak setuju dengan istilah “ekstra kurikuler” untuk aktivitas semacam kesenian, olahraga (selain pelajaran olahraga) dan aktivitas unjuk karya yang melibatkan keaktifan anak, sebaiknya aktivitas ini masuk rumpun kurikuler (masuk kurikulum resmi) karena justru aktivitas-aktivitas inilah yang berkontribusi besar pada pembentukan karakter, bahkan 85% menentukan kesuksesan seseorang!

Namun faktanya, dalam praktik, tidaklah demikian…

Dan, dalam praktik pendidikan persekolahan kita, sangat jarang terjadi, anak yang aktif dan maju di bidang akademik dan non akademik (ekskul) sekaligus dan dua-duanya tidak ada yang terkorbankan.

Praktik pendidikan persekolahan kemudian terbelah dalam dua kutub arena yaitu “arena anak pandai” (arena akademik)  dan “arena anak tak pandai” (arena non-akademik atau ekskul).

Praktik pendidikan persekolahan juga terbelah dalam dua kutub orientasi yang dilematis yaitu orientasi “kualifikasi pribadi tangguh” (amanat UU Sisdiknas yang terabaikan) dan orientasi “pintar kertas” (inilah yang sedang dan terus dikejar dan diamalkan oleh praktik pendidikan persekolahan kita hingga kini).

Praktik pendidikan model begini ini melahirkan 3 tipe atau 3 kasta anak murid dengan ciri khas dan karakter masing-masing, yaitu:

  • Kasta 1: Anak Pandai. Predikat “Anak Pandai”, ciri khas: “pintar kertas”, karakter: terampil, cakap dan pandai menjawab soal, kepribadian tidak tangguh, emosi-mental rapuh, kurang pergaulan (kuper), kurang apdet (kudet) sosial.
  • Kasta 2: Anak Bodoh. Predikat “Anak Bodoh”, ciri khas: “tidak pintar menjawab soal”, karakter: rendah diri di lingkungan akademis (karena tidak terampil dan tidak pandai menjawab soal), memiliki ketangguhan sosial (namun tidak terperhatikan karena iklim sekolah yang terlalu berpihak kepada karaker dan kebutuhan “Kasta 1”), memiliki ketangguhan pribadi dan sosial secara potensial (belum menampak karena kurang mendapat tempat).

Selebihnya adalah “anak rata-rata” (“Kasta 3”), yang tidak begitu jelas identitas kecakapannya, “tidak pintar dan tidak bodoh”, sehingga kemudian setelah lulus guru pun melupakannya begitu saja. Guru hanya ingat pada anak “Kasta 1” dan “Kasta 2” saja (dan anak Kasta 2 ini sering pula mendapat predikat tambahan: “anak nakal”.. haha…. Karena biasanya, “anak bodoh” mengekspresikan eksistensi dirinya dengan tindakan-tindakan yang dibilang “nakal” itu… hehe… ).

Praktik pendidikan persekolahan kita memproduksi 3 kasta anak seperti itu tadi. Inilah cacat bawaan praktik pendidikan persekolahan kita (untuk tidak mengatakan ‘malpraktik pendidikan’!).

Lantas bagaimana….?

Menghindari praktik pendidikan persekolahan dalam ‘rezim pendidikan pintar kertas’ yang telah menjadi mainstream, jelas tidak mungkin, kecuali move on secara radikal misalnya bersekolah di sekolah-sekolah tertentu yang mempraktikkan konsep pendidikan holistik dengan memperhatikan dan memfokuskan pada ketangguhan personal berbasis potensi unik peserta didik, dsb, yang biasanya berbiaya sangat mahal! Atau, merevolusi sistem pendidikan nasional! Wuik…. bakal perang nih ntar…. hehe…

Sebagaimana kata-kata bijak yang telah banyak di-share orang, bahwa lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan, maka, menyikapi kondisi seperti ini, saya tidak bermaksud “mengutuk kegelapan” dari (mal)praktik pendidikan persekolahan yang sudah terlanjur mendapatkan pembenaran dan menjadi mainstream ini, dan memang sulit pula mengubah secara sistemik, maka melalui tulisan ini, saya ingin “menyalakan lilin” sebagai tawaran solusi, dengan metode PENGUATAN ENERGI BELAJAR yang bertujuan untuk MELENGKAPI KUALIFIKASI DIRI anak-anak Indonesia agar:

  • Anak “Kasta 1” agar memiliki KETANGGUHAN PERSONAL, emosi dan mental yang lebih kuat agar LEBIH KUAT dalam MENCERNA ANEKA MATERI yang dijejalkan kepadanya tanpa kelelahan, membina daya pikir analitik dan kreatif, serta mampu berpikir dan bertindak kolaboratif (tidak selfish karena terbiasa merasa bisa sendiri) ditambah dengan penguatan percaya diri (walaupun pintar, tetap memiliki kelemahan, yang bisa memicu lemahnya percaya diri, takut-takut dan “gagap” jika menghadapi orang, dsb).
  • Anak “Kasta 2” dan “Kasta 3”, agar memiliki KECAKAPAN BERPIKIR ANALITIK, SOLUTIF, KREATIF, tangguh personal, emosi dan mental yang lebih kuat, dan mampu berpikir dan bertindak kolaboratif sambil memperbaiki percaya diri. Intinya, mengeksplorasi potensi dirinya untuk didayagunakan. Karena, anak yang “di-cap tidak pandai” (karena diukur dengan kecakapan menjawab soal di kertas), PASTI MEMILIKI KECAKAPAN LAIN!

Penguatan Energi Belajar ini merupakan fundamental skills yang mendasari bangunan pendidikan anak. Ibarat membangun rumah, kita seharusnya membangun fundasi dulu, baru membangun pilar dan mengisi perabotan. Fundasi bangunan pendidikan  anak adalah ketangguhan personal, ketangguhan berpikir, berpikir analitik-kritis, kreatif dan kekuatan emosi-sosial-spiritual. Sedangkan mata pelajaran itu adalah pilar dan perabotan!

Sudahkah anda membangun dan memperkuat fundasi?

Belum terlambat…! Jika segera kita perbaiki, belum terlambat untuk “menyelamatkan kualitas generasi” sekaligus untuk membina anak agar memiliki Kualifikasi Abad 21.

Dalam pengalaman saya, “materi ajar” saya pada anak-anak saya sejak pra-TK, TK (PAUD), SD, SMP, SMA adalah: DASAR BERPIKIR ANALITIK, KETANGGUHAN BERPIKIR, BERPIKIR KREATIF (CREATIVE THINKING) dan KETAHANAN EMOSI – MENTAL – SPIRITUAL.

Masing-masing jenjang tersebut memiliki materi dan strategi pembelajaran tersendiri, sesuai dengan kemampuan dan alam pikir anak-anak. Referensi saya adalah pengalaman pribadi (yang saya analisis terus dengan mengupas buku-buku motivasi, psikologi, filsafat, dan pengembangan diri yang saya baca sejak SMP, 1984), pengalaman sosial (1984 – sekarang), pengalaman bekerja bersama UNICEF (tahun 2000 – 2004; dalam hal ini saya memperoleh pencerahan tentang dunia anak dari Prof. Irwanto Universitas Atmajaya Jakarta. Terimakasih Prof.. ), pengalaman kerja di sektor pendidikan praktis (2005 – sekarang), mengikuti aneka seminar, training di bidang personal development, hipnoterapi, NLP, penyelarasan energi semesta (sejak 1991 – sekarang), pengalaman melakukan terapi dan pendampingan terapeutik serta observasi (sejak 2010 – sekarang), dsb.

Secara umum, pada setiap jenjang atau level pendidikan anak (PAUD, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi), yang pokok adalah BUDAYA CERDAS. Penerapan budaya cerdas pada masing-masing level pendidikan, berbeda strategi penerapannya.

Penerapan Metode Penguatan Energi Belajar untuk mendukung Kualifikasi Abad 21*) ini disesuaikan dengan alam pikir dan kemampuan anak (diselaraskan dengan jenjang studi) yaitu:

 

Pra-TK, TK (PAUD), pada level usia dini, dilakukan dengan komunikasi kreatif dan memberdayakan dengan target ketangguhan personal, empati dan cinta kasih dan tanggungjawab; dan permainan edukatif untuk target logical thinking dan creative thinking; Okika Games (Otak Kiri-Kanan) dan pembiasaan. Pada level ini fokus pada pembentukan karakter dasar, sehingga belum perlu mengajari anak dengan keterampilan literasi aktif  baca tulis (kadang ‘baca – tulis – hitung), cukuplah mengenal konsep dasar “membaca” dengan memahami stimulus untuk merangsang pikiran kritisnya, dan konsep hitungan, bukan mengenal angka sebagai ‘simbol bilangan’. Level ini adalah membangun fundasi, bukan perabotan. Mengajari anak PAUD dengan literasi aktif baca tulis hanya akan menyita dan merampas waktu anak untuk membangun karakter dasar! Pemaksaan yang sedang terjadi adalah karena kemalasan pengelola pendidikan formal pada level SD dan selera pasar, yang keliru akut!

SD, dengan komunikasi kreatif dan memberdayakan, permainan, Okika Games (Otak Kiri-Kanan), Pemetaan Pikiran Level 1, Intuitive Decision Making Level 1, Creative Thinking Level 1, Mental Reading Level 1, Collaborative Learning Level 1, HEAL-P Level 1.

SMP, dengan komunikasi kreatif dan memberdayakan, permainan, Okika Games (Otak Kiri-Kanan), Pemetaan Pikiran Level 2, Intuitive Decision Making Level 2, Creative Thinking Level 2, Goal Setting & Timeline Programming Level 1, Mental Reading Level 2, Collaborative Learning Level 2, HEAL-P Level 2.

SMA, dengan komunikasi kreatif dan memberdayakan, permainan, Okika Games (Otak Kiri-Kanan), Pemetaan Pikiran Level 3, Intuitive Decision Making Level 3, Creative Thinking Level 3, Goal Setting & Timeline Programming Level 2, Mental Reading Level 3, Collaborative Learning level 3, HEAL-P Level 3.

Perguruan Tinggi, dengan komunikasi kreatif dan memberdayakan, permainan, Okika Games (Otak Kiri-Kanan), Pemetaan Pikiran Level 2, Intuitive Decision Making Level 4, Creative Thinking Level 3, Goal Setting & Timeline Programming Level 3, Mental Reading Level 4, Collaborative Learning Level 4, HEAL-P Level 4.

Catatan: untuk jenjang sebelum SD, boleh diistilahkan TK, pra-TK, PAUD, dsb, saya tidak mau terikat pada label formal birokratis untuk menyebut jenjang pendidikan anak. Saya lebih suka penjenjangan ini lebih bermakna penanda level alam berpikir anak.

*) Penerapan metode di atas, adalah sebagai suplemen atau penguat bagi anak-anak (Penguat Energi Belajar), bukan menggantikan metode belajar yang sedang digunakan di sekolah.

Siapa yang melakukan pendekatan pembelajaran tersebut? Orang-orang dekat anak, yakni: orangtua, guru, maupun pengasuh atau pendamping anak.

Orangtua adalah pendamping anak, bahkan guru pertama bagi anak. Lengkapilah dan perkuatlah pendidikan persekolahan yang diterima oleh anak, dengan praktik pendidikan keluarga yang memberdayakan anak, memunculkan self-esteem (kebanggaan dan harga diri) anak, kepercayaan diri anak, penghargaan pada anak, dsb., yang berujung pada ketangguhan pribadi pada anak.

Saya (bersama istri) pun melakukannya pada anak-anak saya, sebagaimana saya singgung di bagian depan tulisan ini. Kini (2017) kedua anak saya tersebut telah studi di perguruan tinggi, dan saya pun tidak lagi membimbing atau melatih strategi berpikir dan pemberdayaan diri pada mereka, karena disamping secara fisik mereka telah jauh dari saya. Si sulung, Nikko Akbar, studi kedokteran di Tiongkok berbeasiswa pemerintah Tiongkok, sekarang semester 6 (gambar atas, Team A, paling kiri; mantel putih sedang presentasi, dan pegang panji-panji PPI Tiongkok). Sedangkan adiknya, Nikkolai Ulyanov, IT Games Development di Malaysia, semester 2). Mereka kini telah mampu mengembangkannya secara mandiri dan ‘ilmu’ itu telah menyatu dalam dirinya. Saya hanya mengingatkan mereka tentang urgensi “Kualifikasi Abad 21” yang telah mereka pelajari dan praktikkan sejak pra-TK, TK, SD, SMP dan SMA. Cukuplah fundasi itu, kini mereka telah mampu terbang mandiri karena mereka telah kuat mengepakkan sayapnya. Bahkan si kakak pada 2016 terpilih menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) Cabang Chongqing (tempat kuliahnya) dan kini (2017) sedang mempersiapkan pemilihan kepengurusan di tingkat pusat/ nasional (PPI Tiongkok), dan tetap menyabet nilai rata-rata 9 dan bertengger di urutan atas di kelas internasional.

Si adik baru menginjak semester 2, masih sibuk di laboratorium games di kampusnya, Multimedia and Computer School, KDU, Selangor, dengan IPK (Cummulative GPA) 3.62. Uniknya, kedua anak saya ini juga berminat pada kajian-kajian sosial dan politik!

Kualifikasi Abad 21

DASAR BERPIKIR ANALITIK, KETANGGUHAN BERPIKIR, dan BERPIKIR KREATIF ini merupakan dasar-dasar pembentukan KETANGGUHAN PERSONAL, KREATIVITAS, KEMAMPUAN KOMUNIKASI dan COOPERATIVE WORKING, yang dikenal dengan sebutan “Kualifikasi Abad 21!”

Kualifikasi Abad 21, dan ini didukung oleh hasil riset, adalah kualifikasi KETANGGUHAN PERSONAL, KREATIVITAS, KEMAMPUAN KOMUNIKASI dan COOPERATIVE WORKING, untuk mengalirkan kepandaian diri. Pandai saja tidak cukup. Ia akan kalah dengan orang yang tidak pandai namun memiliki banyak relasi. Memiliki banyak relasi dimulai dari kecakapan komunikasi, ketangguhan personal dan kreatif!

World Economic Forum 2016 “The 10 Skills You Need to Thrive in the Fourth Industrial Revolution” memaparkan bahwa “kreativitas” adalah salah satu skills yang akan in demand (banyak dicari) di tahun 2020!

Maka, kini saya ingin membahas pembentukan PRIBADI TANGGUH dan KREATIF pada anak-anak, untuk memberi dan menguatkan kualifikasi sebagai fundasi belajar-nya. PRIBADI TANGGUH dan KREATIF dibentuk melalui DASAR BERPIKIR ANALITIK, KETANGGUHAN BERPIKIR, dan BERPIKIR KREATIF. Yakni Kualifikasi Abad 21!

Berpikir analitik, ketangguhan berpikir dan berpikir kreatif dan kolaboratif. Kolaboratif, atau collaborative learning menjadi ciri ketangguhan berpikir dan bekerja dalam alam kerja modern sekarang ini. Berpikir dan bertindak kolaboratif, pra-syaratnya adalah kualifikasi personal dengan ciri mampu berpikir analitik, tangguh dan kreatif. Kualifikasi ini tidak mungkin bisa ditempuh jika anak hanya belajar dengan gaya belajar menghabiskan hampir seluruh waktunya bersama kertas, menjawab soal-soal!

Bagaimana Menerapkan Metode Belajar Kualifikasi Abad 21?

Untuk membentuk pribadi tangguh, mampu berpikir analitik dan kreatif serta kolaboratif, disesuaikan dengan kemampuan dan alam pikir anak. Mudahnya, disesuaikan dengan jenjang atau level pendidikannya.

Kurikulum Metode Belajar MiracleLearning Kualifikasi Abad 21 Penguat Energi Belajar (disesuaikan dengan kondisi atau level usia/ pendidikan anak ketika mengikuti metode ini):

Pra-TK, TK (PAUD), pada level usia dini, dilakukan dengan komunikasi kreatif dan memberdayakan dengan target ketangguhan personal, empati dan cinta kasih dan tanggungjawab; dan permainan edukatif untuk target logical thinking dan creative thinking; Okika Games (Otak Kiri-Kanan) dan pembiasaan.

SD, dengan komunikasi kreatif dan memberdayakan, permainan, Okika Games (Otak Kiri-Kanan), Pemetaan Pikiran Level 1, Intuitive Decision Making Level 1, Creative Thinking Level 1, Mental Reading Level 1, Collaborative Learning Level 1, HEAL-P Level 1.

SMP, dengan komunikasi kreatif dan memberdayakan, permainan, Okika Games (Otak Kiri-Kanan), Pemetaan Pikiran Level 2, Intuitive Decision Making Level 2, Creative Thinking Level 2, Goal Setting & Timeline Programming Level 1, Mental Reading Level 2, Collaborative Learning Level 2, HEAL-P Level 2.

SMA, dengan komunikasi kreatif dan memberdayakan, permainan, Okika Games (Otak Kiri-Kanan), Pemetaan Pikiran Level 3, Intuitive Decision Making Level 3, Creative Thinking Level 3, Goal Setting & Timeline Programming Level 2, Mental Reading Level 3, Collaborative Learning level 3, HEAL-P Level 3.

Perguruan Tinggi, dengan komunikasi kreatif dan memberdayakan, permainan, Okika Games (Otak Kiri-Kanan), Pemetaan Pikiran Level 2, Intuitive Decision Making Level 4, Creative Thinking Level 3, Goal Setting & Timeline Programming Level 3, Mental Reading Level 4, Collaborative Learning Level 4, HEAL-P Level 4.

Metode Penguat Energi Belajar Kualifikasi Abad 21 ini bernama MiracleLearning, diterapkan pada anak sesuai level alam pikirnya atau level pendidikannya, merupakan suplemen PENGUATAN ENERGI BELAJAR, bekerja di wilayah struktur pikiran, bertujuan untuk memperkuat otak dan pikiran anak berikut emosi dan mental anak agar anak lebih mudah mencerna aneka pelajaran yang diterimanya (di manapun), lebih terstruktur pikirannya sehingga memudahkan anak untuk menuangkan kembali berupa gagasan tertulis maupun lisan.

Manfaat Metode Belajar MiracleLearning Kualifikasi Abad 21 Penguat Energi Belajar

  • Menyiapkan emosi menjadi lebih stabil dan kuat.
  • Membangkitkan energi belajar untuk lebih memahami tujuan dan target belajar, serta mengeliminasi rasa malas.
  • Membangkitkan energi belajar untuk menguatkan otak, pikiran (dan emosi) sehingga dapat mencerna pelajaran dengan lebih baik tanpa lelah (bukan paksaan).
  • Alur pikir menjadi lebih baik dan lebih mampu berpikir logis.
  • Meningkatkan daya pikir analitik.
  • Meningkatkan pemikiran kreatif.
  • Secara otomatis fungsi otak kiri dan otak kanan menjadi lebih seimbang.
  • Memperbaiki fokus dan konsentrasi belajar.
  • Lebih mampu mempelajari isi buku (membaca buku) dengan lebih mudah dan cepat, dan mengingatnya dengan lebih baik.
  • Lebih mudah memahami penjelasan guru, dsb.
  • Memperbaiki kemampuan menulis dan presentasi dari aspek penguasaan materi, penstrukturan dan pengorganisasian ide tulisan yang diambil dari buku dsb (bukan dari aspek teknis penulisan atau teknis presentasi).
  • Memperbaiki kemampuan pemecahan masalah (problem solving) dan pembuatan keputusan (decision making).
  • Memperkuat percaya diri.
  • Menumbuhkan dan memperbaiki kemampuan bekerja kolaboratif.
  • Menumbuhkan rasa empati dan “loving intelligence”.
  • Memperbaiki kemampuan berbahasa, berkomunikasi dan performa personal.

Metode ini mengajari anak-anak untuk berproses dalam pembelajaran formalnya agar selaras dengan pembentukan Kualifikasi Abad 21: tangguh, analitik, kreatif, kolaboratif ! Metode belajar revolusioner ini tidak untuk menggusur metode belajar yang sudah ada, tetapi memperkuatnya! Sebagai Penguat Energi Belajar!

Kehadiran metode ini untuk MEMPERKUAT BANGUNAN BERPIKIR dan MEMBANGKITKAN serta MEMPERKUAT ENERGI BELAJAR anak agar lebih kuat dan mudah mencerap dan mencerna aneka pelajaran yang diterimanya baik di sekolah maupun di tempat lain tanpa kelelahan serta mampu menuangkannya kembali secara lisan dan tulisan secara runtut.

Penerapan metode ini dilakukan terhadap:

  • Anak, secara personal dan secara group (collaborative learning).
  • Orangtua/ wali/ pengasuh, supaya nyambung, karena komunikasi harian orangtua/ wali dengan anak dan kondisi emosi orangtua/ wali diperlukan bagi dan berpengaruh pada anak.

Penerapan Metode MiracleLearning Kualifikasi Abad 21 Penguatan Energi Belajar

Metode MiracleLearning: Kualifikasi Abad 21 Penguatan Energi Belajar dilakukan dengan cara perorangan dan learning group dengan 5 atau 7 anak per group. Anak-anak akan dikenalkan dan langsung mempraktikkan, materi belajar MiracleLearning: Kualifikasi Abad 21 Penguatan Energi Belajar secara perorangan dan group.

Pada level perorangan, anak-anak akan diajari cara berpikir logis, analitik, kreatif: pemetaan pikiran, creative thinking, goal setting & timeline programming, mental reading (sesuai jenjang anak), dan diberikan terapi emosi dan HEAL-P untuk men-stabilkan dan installing penguat energi belajar untuk menstabilkan emosi anak, memperkuat percaya diri, membangkitkan semangat belajar dan motivasi internal (motivasi diri, self-motivation).

Pada level group, anak-anak diajari collaborative learning (pembelajaran kolaboratif) untuk pemecahan masalah efektif (effective problem solving) secara team-work.

Komunikasi yang digunakan adalah komunikasi pemberdayaan (terapeutic communication) untuk menggugah keberdayaan anak (komunikasi kreatif dan pemberdayaan).

Pada orangtua/ wali/ pengasuh, diajarkan komunikasi pemberdayaan (terapeutic communication) untuk menggugah keberdayaan anak (komunikasi kreatif dan pemberdayaan), dan diberikan terapi emosi dan HEAL-P untuk lebih men-stabilkan emosi orangtua dan lebih menyambungkan tali-emosi antara orangtua dan anak.

 

Berbagai “variasi” yang muncul pada dunia anak….

 

Mengapa terjadi “anak bodoh”….?

Sebentar… bodoh sungguhkah? Bodoh, ataukah “kualifikasi anak tidak sesuai dengan ukuran prestasi belajar di sekolah yang diukur dengan kecakapan menjawab soal?

Setiap anak memiliki kekhasan dan keunikan dalam kemampuan, keminatan dan kecenderungan, atau potensinya, tidak sama satu sama lain. Adanya “anak bodoh” karena  kemampuan, keminatan dan kecenderungan, atau potensi anak tidak dihiraukan dan hanya “dipaksa” dan diukur dengan standard “kepintaran kertas” atau diukur dengan menggunakan standard anak lain. Sehingga, kalau “tidak cakap mengerjakan soal”, disebut “anak bodoh”. Dan “anak bodoh” tidak mendapat ranking. Maka, semakin terpinggirkanlah “si anak bodoh” ini dalam pergaulan akademik yang menggunakan standard ukuran yang sama sekali tidak selaras dengan potensinya. Makin habislah ia…

Padahal yang sesungguhnya terjadi tidaklah demikian… Potensi anak ini tidak mendapat penyaluran yang pas… Bahasa kerennya, “salah asuhan”.. hehe… Macam monyet diikutkan sekolah renang, ikan ikut sekolah memanjat… haha… Bodohkah si monyet atau si ikan…. Terus, siapa yang bodoh… haha…

Munculnya sebutan “anak bodoh” adalah karena intervensi atau sentuhan pendidikan yang tidak sesuai atau tidak pas dengan potensi dan karakter yang dimiliki oleh anak-anak. Atau, karena kemiskinan metode pendidikan, yang hanya menerapkan standard “kecakapan kertas” saja.

Untuk “anak (yang di-cap) bodoh”, jika memang tidak sesuai dengan cara belajar dan cara ukur kepandaian berbasis menjawab soal, sebaiknya lakukan eksplorasi potensi dan keminatannya. Setiap anak PASTI memiliki kecakapan masing-masing yang khas, tidak sama dengan anak lain. Anak ini tidak bisa disamaratakan dan diperlakukan sama dengan anak lain, apalagi dengan model belajar menjawab soal. Potensi dan keminatan anak inilah yang diperkuat, dilatihkan. Anak pasti suka karena memang itulah “passion” dan dunianya!

Sebagai contoh, V*n*, seorang pelajar SMP di Malang, Jawa Timur. Jika diukur dengan “kecakapan menjawab soal”, anak ini bisa tergolong anak kurang pandai. Namun ternyata anak ini sangat berbakat di bidang penjualan. Bahasa kerennya, bakat berbisnis. Sejak kelas 1 SMP ia “dilatih” berbisnis oleh orangtuanya, yakni berjualan puding kelor kemasan, yang dibuatnya sendiri. Ternyata ia pun berminat untuk memproduksi. Produknya bagus, layak jual (saya pernah mencicipinya sambil ngobrol dengan sang “produsen sekaligus pemasarnya”, yakni V*n* sendiri!) Teman-teman sekolahnya adalah sasaran dan pasar bagi jualannya. Bahkan sekolah lain dan kolega orangtuanya tak luput dari incaran indera bisnisnya! Laris manis! Dan juga, ternyata ia memiliki kecakapan komunikasi yang bagus, tidak canggung berbicara dengan orang baru, dan terkesan memiliki kepercayaan diri yang baik. Sepertinya ia lupa bahwa ia “bukan anak pandai” di sekolah! Saya sangat kagum dibuatnya! Saya yakin, sekolah tidak akan mampu menemukan potensi ini dan tetap menganggap V*n* sebagai “anak tidak pandai”, menempati ranking bawah, akhirnya terpinggirkan, anak jadi minder dsb! Berapa banyak kira-kira anak seperti V*n* dengan tanpa “pelatihan” orangtuanya? Dan berapa banyak orangtua yang “menemukan sisi kekuatan” pada anaknya dan melatihnya untuk memunculkan kecakapan unik anaknya?

Saya juga punya banyak teman yang memiliki eksistensi bagus secara sosial dan ekonomi (bahkan secara politik), yang ketika saya telusuri latar belakang riwayat pendidikannya, mereka ini rata-rata semasa sekolah (SMP – SMA) tergolong anak “Kasta 2” dan “Kasta 3”, hanya saja mereka “matang di jalan” setelah menemukan “keahliannya”. Saya juga  mempunyai teman yang lulusan SD (tidak tamat SMP) namun memiliki sebuah company dengan kru para sarjana, dan ia membawahi orang-orang yang berpendidikan jauh lebih tinggi darinya! Nah!

Kiranya benarlah pengalaman seorang tokoh besar dalam video ini. Jika saja orangtuanya tidak telaten mengamati “kekuatan” sang anak, maka jatuhlah sang anak dalam vonis bodoh yang dijatuhkan oleh sekolah! Silakan lihat video ini.

Maka, jika sekali lagi menilik praktik pendidikan persekolahan yang hanya mengejar angka nilai dan menjadikan “ranking” sebagai tolok ukur “kepandaian” dan sukses belajar”, sungguh, pendidikan kita hanya menghasilkan generasi rapuh!

Berapa banyak sih “anak pandai” dan “anak ranking” yang diproduksi oleh sekolah? Lantas, bagaimana nasib anak “Kasta 2” dan “Kasta 3” atau “anak yang tidak ranking”? Mereka “tercampakkan” dalam pergaulan akademik di sekolah! Potensi rendah diri, tidak percaya diri dan dendam akan menjangkiti anak-anak ini! Berapa jumlah anak-anak yang seperti ini?

[di titik ini saya ingin menggugat praktik pendidikan persekolahan! Inilah cacat bawaan yang mengarah pada malpraktik pendidikan!].

 

Kenapa anak malas dan “gak niat” belajar atau melakukan tugasnya?

Karena ia tidak punya tujuan dan target yang membawanya pada persepsi manfaat jelas baginya! Atau, karena fokusnya bukan di situ! Cari tahu dulu: apa tujuannya, apa fokusnya.  Jika ketemu, definisikan dan operasionalkan! Goal setting dan timeline programming membantu menemukenali kecenderungan dalam diri anak, motivasi internal dan membangkitkannya. Ketika ia lebih memahami tujuan dan target belajarnya, dan berhimpitan dengan persepsi kemanfaatan konkrit bagi dirinya, saat itulah energi semangatnya timbul untuk segera direalisasikan (kita tidak lagi bicara tentang “kemalasan” dan sejenisnya).

Atau, anak memiliki persepsi dunianya sendiri…. sehingga ia terkesan cuek dan tak peduli lingkungannya termasuk keluarganya sendiri….

Pendekatan yang lebih berpihak kepada anak dengan memahami dunia anak akan lebih bermakna dan memberdayakan anak, ketimbang pendekatan yang “memaksa anak untuk memahami dunia orangtua”.

Contoh kasus klien saya, seorang anak bernama F, yang cerdas, tetapi ia mempersepsi dunianya secara unik dan mempersepsi orangtuanya menurut ukurannya (demikian pula orangtuanya), jadi  singkatnya, gak nyambung… F yang cerdas malah menjadi malas belajar dan lebih memilih asyik dengan dunianya (ia memilih mengasyikkan diri dengan main game) hingga tidak naik kelas. Salah satu “pengakuan bawah sadar” F adalah, “ia hanya membutuhkan pengakuan orangtua”.

Dalam contoh kasus F ini, cara komunikasi dan positioning orangtua menjadi penting sehingga tidak dipersepsi lain oleh anak, atau bahasa kerennya, “ndak nyambung jack…”.

Saya mendampingi F selama 2 minggu (dengan menerapkan metode ini), sebelum saya kembalikan ke orangtuanya, F telah menampakkan perubahan signifikan dan diakui oleh orangtuanya, yakni: telah berubah cara bicaranya kepada orangtua yakni lebih halus dan tenang, lebih kelihatan mengerti, dengan kesadaran sendiri mau dan lebih rajin beribadah ke gereja, mau belajar, mau menyapa guru yang biasanya ia sangat cuek terhadap lingkungan.

Saya sangat senang mendengar (membaca) penuturan orangtuanya, dan saya mentransfer metode ini untuk orangtuanya agar dapat melanjutkan dan memelihara dalam pergaulan keseharian untuk lebih memberdayakan putranya melalui komunikasi terapeutik sehari-hari.

Bagaimanapun, peran orangtua sangat menentukan. Peran terapis, trainer, coach,  adalah “membuka jalan”, selanjutnya orangtua bersama anak-lah yang melanjutkan dan memeliharanya.

Kenapa anak tidak nurut atau membangkang orangtua?

Anak memiliki persepsi dan dunia yang berbeda dari persepsi dan dunia orangtua. Harapan dan alam pikir mereka tidak selalu sejalan dengan harapan dan alam pikir orangtua. Gaya komunikasi orangtua – anak berpengaruh ada penerimaan dalam alam persepsi dan alam pikir anak. Keadaan “tidak nurut atau membangkang” adalah miss-leading efek komunikasi yang diterima oleh anak.

Persoalan anak terkait belajar dan pembelajaran dan dunia anak secara umum pada konteks berproses membentuk kualifikasi diri-nya, sangat terkait dengan peran orangtua/ wali/ pengasuh/ guru. Dalam hal ini, kondisi emosi anak bersinergi dengan kondisi emosi orangtua/ wali/ pengasuh/ guru. Komunikasi orangtua/ wali/ pengasuh/ guru dengan anak berpengaruh pada hasil belajar anak.

Mengapa Metode ini dilengkapi dengan Terapi Emosi?

Terapi emosi, emotion energizing, adalah menstabilkan emosi orangtua dan emosi anak dan menyambungkan tali-emosi antara orangtua dan anak, untuk lebih membina sambung-rasa, sambung emosi yang menyambungkan komunikasi terapeutik orangtua kepada anak.

HEAL-P, Heart Equilibrium Awareness Language Programming atau Bahasa Pemrograman Kesadaran dan Keseimbangan Hati, adalah terapi emosi dengan cara menyelami kesadaran batin sendiri untuk mencapai keadaan (state) emosi dalam hati yang seimbang dengan menggunakan bahasa khusus untuk mempengaruhi sistem diri (tubuh lahir batin) agar selaras dengan getaran alam semesta. Pendekatan ini bukanlah “cara instant” untuk mengolah diri, akan tetapi mendasarkan diri pada kinerja normal sistem tubuh dan sistem pikiran, hanya saja diperkuat dengan energi berlipat-lipat untuk hasil yang lebih baik.

Selengkapnya lihat HEAL-P.

 

Pengalaman Mengikuti Penguatan Energi Belajar Kualifikasi Abad 21 MiracleLearning

Berikut adalah beberapa klien yang telah mengalami penerapan metode Penguatan Energi Belajar Kualifikasi Abad 21 MiracleLearning (disingkat “MiracleLearning”) bersama kami. Beberapa diantaranya juga menghasilkan efek terapeutik di luar urusan belajar, walaupun secara prinsip tetap beroperasi di “arena pembelajaran”, karena belajar memerlukan kondisi emosi yang baik. Sebagian klien tidak ada fotonya karena tidak memungkinkan ketika penerapan metode ini.

Beberapa nama klien dilengkapi link profil blog dan facebook untuk mempermudah komunikasi untuk sharing pengalaman.

Nikko Akbar, mahasiswa Kedokteran (MBBS) Chongqing Medical University, Chongqing, Tiongkok. Secara efektif mengikuti program ini pada waktu ia SMP kelas 3 (2010), terus berlanjut hingga SMA, di Probolinggo. Praktik pendidikan keluarga berbasis prinsip MiracleLearning (saat itu bernama “Smart Learning”) telah kami praktikkan terhadap anak ini sejak ia di TK, yakni dengan pola komunikasi pemberdayaan, permainan edukatif, SD dengan creative thinking dan analytical thinking, SMP dengan Intuitive Decision Making, goal setting & timeline programming, Smart Learning, mental reading, pemetaan pikiran, HEAL-P  berlanjut hingga SMA.

Berikut penuturan Nikko terkait dengan perubahan dirinya seusai mengikuti metode ini:

“Pertama kali saya mencoba cara belajar dengan Metode Smart Learning ini ketika sedang mempersiapkan untuk OSN Tingkat Nasional saat SMP dulu. Semenjak itu, entah mengapa saya menjadi lebih cepat menangkap dan memahami materi apapun yg saya terima, baik itu materi yg dijelaskan oleh guru di dalam kelas, materi yg diajarkan oleh kakak kelas saya maupun ketika saya membaca sendiri materi pelajaran tsb.. rasanya dengan sekali baca dan dengar, seketika langsung ‘nyanthol’ di otak saya dan saat itu pula saya langsung paham.. mempelajari materi-materi pelajaran kini menjadi sangat mudah.. tentu saja hal ini tetap harus diiringi dengan latihan dan belajar yg terus menerus agar hasil yg didapatkan menjadi optimal dan tidak terbuang percuma.. memang benar, daripada berupaya utk terus study hard, lebih baik jika energi digunakan utk study smart”.

Setelah di perguruan tinggi, Nikko mengalami pengalaman spiritualitas (pemikiran dan kondisi emosi) yang luar biasa, sebagaimana ditulisnya di blog pribadinya http://nikkoakbar.blogspot.com.

Berikut penuturannya:

“Entah kenapa, akhirnya saya merasa telah menemukan keindahan dan kenikmatan tersendiri dalam belajar. Sebuah perasaan yang sudah lama saya cari-cari. Sebuah perasaan yang sempat menjadi bagian dari diri saya dahulu namun tiba-tiba menghilang. Dan sepertinya, kini saya telah menemukan salah satu kepingan dari diri saya yang sempat hilang dan terserak tercerai berai entah di mana. Sebuah perasaan yang sangat fantastis dan menakjubkan. Saya merasa dapat melakukan apa pun. Sebuah perasaan percaya diri yang sungguh berbeda dengan apa yang biasanya saya alami.“

Ya, sesuai dengan apa yang ia tulis, Nikko kini telah ‘menjadi’, setelah berproses secara alami bersama metode ini.  Dan selama “berproses” itu yakni selama menjadi murid SMP dan SMA, Nikko tak hanya berprestasi akademik dengan bukti nilai bagus dan banyaknya piala dan piagam penghargaan dari aneka lomba mata pelajaran yang ia ikuti di luar sekolah, tetapi juga aneka egiatan non akademik juga ia ikuti, dan prestasi akademiknya tetap terjaga. Dan ketika ia kuliah Kedokteran (2015), ia merasakan suatu pengalaman perubahan diri sebagaimana yang ia tulis di atas. Jika memperhatikan capaian prestasi Nikko ketika kuliah pada kurun waktu 2014 – 2017: nilai rata-rata semua mata kuliah pada peringkat 3 besar di kelasnya, peringkat I (First Winner) team pada Academic Research Competition 2014, The Best Presenter (Perorangan) pada Academic Research Competition 2014, dsb. Ia juga aktif berkegiatan sosial, dan pada 2016 ia terpilih sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok Cabang Chongqing.

Nikkolai Ulyanov, mahasiswa Multimedia and Computer School, Games Development (Hons), KDU, Selangor, Malaysia. Mulai mengikuti program ini pada waktu ia kelas 6 SD (2011), berlanjut pada saat ia kelas 3 SMA (2016) di Probolinggo. Walaupun secara resmi, pemrograman diri dimulai pada saat kelas 6 SD dan kelas 3 SMA, namun pembelajaran berprinsip metode ini  telah kami “ajarkan” sejak ia mulai dapat berkomunikasi (sebelum TK) dengan komunikasi terapeutik dan pembiasaan. Kelas 6 SD itu Nikkolai mengikuti program singkat personal changing, emotion shifting dan aura modelling (bagian dari HEAL-P) untuk menerapi persepsi diri yang keliru sehingga walaupun pandai ia terjangkiti perasaan kurang percaya diri. Baca kisahnya di sini. Ketika awal kelas 3 SMA, ia mengikuti goal setting dan timeline programming, Intuitive Decision Making dan HEAL-P Level 4.

Berikut kesan Nikkolai Ulyanov:

“Saya merasa lebih memahami apa tujuan belajar saya, apa arah belajar saya untuk saya kembangkan. Dari pencerahan ini saya merasa lebih bersemangat dalam belajar dan lebih mudah memahami persoalan”.

Patut diketahui, sejak SD (bahkan sejak TK) Nikkolai Ulyanov menunjukkan potensi dan bakat kepemimpinan yang baik, disamping prestasi akademiknya yang baik hingga SMA. Lulus SMP dengan nilai 5 besar terbaik, dan pada kelas 2 SMA ia terpilih sebagai ketua Dewan Perwakilan Anak (DPA) Kota Probolinggo, dengan tetap berprestasi di bidang akademik. Kini ia mahasiswa IT Games Developing di Multimedia and Computer School, KDU, Selangor, Malaysia.

 

Nurul Lathiifa (Ifa), Probolinggo. Mulai mengikuti program ini pada saat ia kelas 3 SD (2010), berlanjut pada saat ia kelas 2 SMP (2017). Ifa mengikuti “Basic Smart Learning” (kini program ini telah melebur pada MiracleLearning) pada saat ia kelas 3 SD. Kecakapan akademik Ifa tergolong rata-rata. Setelah mengikuti “Basic Smart Learning”, mamanya menyatakan bahwa Ifa mengalami kemajuan cukup signifikan dalam belajar, mengaji dan main bridge. Nilainya membaik dan memiliki motivasi diri dan semangat belajar yang lebih baik. Kini Ifa adalah atlet bridge andalan sekolahnya, SMP Negeri 1 Probolinggo dan berkali-kali team-nya menjuarai turnamen bridge tingkat kota dan provinsi Jawa Timur.

At**k, Probolinggo. Mulai mengikuti program ini pada saat ia kelas 2 SD (2010). Penerapan metode “Basic Smart Learning” pada At**k dipadu dengan terapi emosi (emotion shifting) untuk menerapi hiperaktif-nya, tepatnya menggeser emosi yang membuatnya aktif pada persepsinya sendiri (orang bilang “hiperaktif”) ke kondisi emosi yang menuntunnya pada aktivitas produktif. Perkembangan At**k cukup menggembirakan, dengan pendampingan seminggu anak ini menunjukkan perkembangan bagus. Baca kisahnya di sini.

F*o, Jayapura. Mulai mengikuti program ini pada waktu ia kelas 2 SMP (2015). Ia anak yang cukup cerdas, tetapi cenderung introvert dan lebih suka menghabiskan waktunya untuk main game di laptop. Semangat belajar menurun, malas termasuk malas bicara, kalau bicara dengan orangtua (pengakuan orangtuanya) cenderung kasar, dan bicara singkat seolah enggan, malas bicara dengan teman dan guru. Tampak bahwa anak ini ada permasalahan yang memerlukan pendampingan, pemahaman dan keterbukaan.

Kemudian saya mendampingi F selama 2 minggu (dengan menerapkan metode ini), sebelum saya kembalikan ke orangtuanya, F telah menampakkan perubahan signifikan dan diakui oleh orangtuanya, yakni: telah berubah cara bicaranya kepada orangtua yakni lebih halus dan tenang, lebih kelihatan mengerti, dengan kesadaran sendiri mau dan lebih rajin beribadah ke gereja, mau belajar, mau menyapa guru yang biasanya ia sangat cuek terhadap lingkungan.

Saya sangat senang mendengar (membaca) penuturan orangtuanya perihal anak ini, dan saya mentransfer metode ini untuk orangtuanya agar dapat melanjutkan dan memelihara dalam pergaulan keseharian untuk lebih memberdayakan putranya melalui komunikasi terapeutik sehari-hari.

Bagaimanapun, peran orangtua sangat menentukan. Peran terapis, trainer, coach,  adalah “membuka jalan”, selanjutnya orangtua bersama anak-lah yang melanjutkan dan memeliharanya.

A*r*n, Jayapura. Mulai mengikuti program ini pada waktu ia kelas 5 SD (2015). A*r*n tipe anak cerdas, cenderung pendiam namun memperhatikan. Pemahamannya bagus. Jika sudah berbicara, maka ia aktif dan menjadi lawan bicara yang baik dan menyenangkan, nyambung, untuk anak seusianya. Tidak ada masalah khusus pada A*r*n, ia mengikuti program MiracleLearning tingkat dasar, untuk memperkuat energi belajarnya. Aktivasi Basic MiracleLearningIntuitive Decision Making sehari dan pendampingan selama 3 hari. Dalam 1+3 hari itu ia mengaku merasakan perubahan dalam dirinya yakni lebih terang dalam berpikir, ketika berpikir tentang sesuatu, maka seketika langsung ada gambaran jawabannya (solusinya). Anak ini lebih menonjol dalam problem solving dan sedang terasah kemampuan dan kecepatan berpikirnya (fast learner).

Halimatus Sa’diah (Ima), Probolinggo. Mulai mengikuti program ini pada waktu ia kelas 3 SMA (2017). Ima juga mengikuti program MiracleLearning tingkat dasar (Basic MiracleLearning) dan Intuitive Decision Making, untuk memperkuat energi belajarnya sembari memperkuat percaya diri dan setting tujuan belajarnya untuk menumbuhkan self-motivation (motivasi diri) yakni motivasi belajar dan semangat belajar yang tumbuh dari dalam diri karena kesadaran. Ima menyesuaikan waktu pelatihan MiracleLearning dengan aktivitasnya karena ia memiliki cukup banyak kegiatan. Selama menerapkan metode MiracleLearning, Ima mengaku merasakan perbaikan dalam hal menentukan pilihan, memutuskan sesuatu pilihan berdasarkan intuisinya, yang kemudian ia merasakan bahwa keputusan intuitifnya itu sejalan dengan pikirannya. Ia mengatakan, “aku tu dulu sering bingung kalau milih, termasuk ngerjain soal pilihan ganda, sering salah krn milih jawaban yg keliru. Aku sering ninggalin pilihan yang awalnya aku pikir itu benar terus aku tinggalin untuk milih yang lain, eh ternyata malah salah..  Sekarang aku ngerasa keyakinanku mulai tumbuh baik.. Gak bingung lagi”.

Salah satu manfaat metode ini adalah memperkuat kepercayaan diri (kemantapan hati) dalam membuat keputusan, melalui proses daya nalar intuitif  yang secara alami telah dimiliki oleh setiap orang. Tinggal membangkitkan saja. Daya nalar intuitif mempermudah meneguhkan keputusan dan keyakinan, serta memperkuat kepercayaan diri.

 

Penutup

Sebagai penutup, kiranya dapatlah kita renungkan, pertama, tentang fundasi pada bangunan pendidikan anak-anak kita, yang kelak akan menghuni jaman baru, jaman yang bukan jaman kita. Jaman itu menuntut kualifikasi yang sulit kita bayangkan. Maksimal kita hanya sanggup membayangkan kondisi minimalis jaman itu: adanya kompetisi yang makin ketat, kemampuan bertahan hidup yang mumpuni, dsb. Kondisi tersebut membutuhkan kualitas pribadi tangguh! Kualifikasi Abad 21!

Sudahkah kita membangun fundasi tersebut? Masihkah kita terbuai mimpi indah dan ilusi “kepandaian semu”? Berapa lama sih kebanggaan akan “ranking” itu bertahan? Sadarkah akan “bahaya laten” dibalik ranking?

Memang, kita tidak mungkin lari dari sistem dan model pendidikan yang seperti sekarang ini. Dan, angka nilai kertas masih diperlukan. Namun, yang jauh lebih penting adalah kualifikasi dan ketangguhan personal! Ini yang harus dimiliki oleh anak, baik itu anak tergolong “Kasta 1”, “Kasta 2”, maupun “Kasta 3”, seperti apapun angka nilai kertas (rapor atau ijazahnya)!

Kedua, tentang (mal)praktik pendidikan persekolahan, yang memproduksi lulusan dalam 3 kategori atau 3 kasta yakni “Kasta 1”, “Kasta 2” dan “Kasta 3”. Perlakuan yang tepat terhadap anak “Kasta 1”, “Kasta 2” dan “Kasta 3” agar mereka memiliki kecakapan dan kualifikasi tangguh, Kualifikasi Abad 21, adalah sangat penting dan jauh lebih penting ketimbang hanya mengejar predikat “anak pandai”, “anak ranking” dan semacamnya.

 

Selamat berproses bagi anak-anak dan adik-adik.. Selamat mengantar putra-putri tercinta untuk berproses, bagi rekan-rekan sekalian…!

 

Salaam,

W. Edi Kuswandoro, M.Si, C.Ht

PersonalEdification Coach, Pencipta Metode MiracleLearning Kualifikasi Abad 21 Penguat Energi Belajar

Email: wkuswandoro@gmail.com

HP/ WA: 08123476361

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s