Uangmu Adalah Milikmu Tapi Sumberdaya Adalah Milik Umat Manusia

Uangmu Adalah Milikmu Tapi Sumberdaya Adalah Milik Umat Manusia


efisiensi bahan pangan adalah penghormatan kepada kehidupan
makanlah sesuai kebutuhan perutmu, bukan kebutuhan matamu

Makan secukupnya dengan tidak memubazirkan makanan, adalah cerminan Hati Yang Penuh Kasih Sayang pada sesama dan penghormatan pada kehidupan”

Kita mungkin mampu membelinya, tetapi kita tidak akan mampu mengadakannya !” Boleh jadi kamu kaya, banyak uang dan mampu belanja apa saja sesukamu. Mampu membeli makanan apa saja sesukamu yang kemudian kamu makan atau kamu buang. Itu adalah uangmu. Tapi jangan lupa bahwa “apa-apa yang kamu belanjakan dan kamu terlantarkan” itu adalah cadangan makanan bagi seluruh penduduk bumi. Bukan kamu saja yang berhak menggunakannya, tapi seluruh manusia. Jika nanti cadangan bahan makanan di bumi menipis, saat itu uang tak ada artinya!

Menyia-nyiakan bahan makanan adalah tindakan memalukan. Kamu pikir kamu bisa tampak hebat dengan membuang-buang makanan? Video ini menunjukkan tindakan pemborosan bahan makanan dan tindakan penyelamatan, walaupun dalam skala kecil. Semua kejadian besar berawal dari kejadian kecil. Kebocoran kecil dapat menenggelamkan kapal yang besar ! (pepatah Jepang).

Tentang menghargai bahan makanan, sumber kehidupan ini, masyarakat Jawa telah menunjukkan dalam kearifan lokal mereka. Mereka mengajari anak-anak untuk menghabiskan makanan di piring makan mereka, dengan ungkapan “Mangan kudu dientekna, yen ora, mengko pitike mati” (Jika kamu makan, habiskan makanan itu. Jika tidak, ayammu akan mati). Kemudian anak-anak cerdas itu kini (kini sudah dewasa) dengan semangat kritis, mengkritisi ujaran nenek moyangnya dengan mengatakan “Lha kalau dihabiskan, ayamnya justru mati karena tidak kebagian” . 😀

Ungkapan kuno Jawa itu memang terkesan memaksa dan mengancam dengan ancaman yang sekedarnya. Mungkin hanya untuk memberi pelajaran kepada anak-anak. Bahwa inti ajaran mereka itu sebenarnya adalah “jangan menyia-nyiakan makanan”, “makanlah secukupnya menurut ukuranmu” telah jelas. Sumber daya alam memang tidak untuk kita kuasai sendiri, tetapi kita musti ingat bahwa sumberdaya alam itu untuk dan hak semua umat manusia termasuk anak keturunan kita.

Hati yang baik tentu tak merelakan anak keturunannya menjadi susah karena ketamakan leluhurnya (di zaman mendatang, kita yang hidup saat ini adalah leluhur bagi mereka). Dan jangan sampai mereka kelak menyumpahi leluhurnya… hehe… 🙂

 

Kita mulai dari hal kecil ya….

Makan secukupnya, pesan makanan secukupnya, sesuai kebutuhan perut, bukan kebutuhan mata kita… hehe… 🙂  Ya! Kita mungkin mampu membelinya, tetapi kita tidak akan mampu mengadakannya !

Makan secukupnya adalah sikap peduli orang lain, peduli umat, peduli kelangsungan hidup di bumi.

Tumbuhkan rasa kasih sayang di hati untuk sesama dan untuk kehidupan ini, dengan memulainya dari hal-hal kecil dan konkret.

Menghargai makanan, sama halnya dengan menghargai alam semesta, yang di dalamnya kita hidup, karena manusia dan alam semesta adalah bersama, mereka harmoni kehidupan semesta, yang terekatkan oleh energi hati semesta. Cinta kasih pada alam, adalah kesadaran semesta, di situlah kekuatan yang sesungguhnya yang dimiliki oleh manusia.

#damaidihati

damidibumi

#kasihsayang

#cintakasihsesamaumatmanusia

#menghormatibumi

#terimakasihbumi

#terimakasihsemesta

#terimakasihpadaTuhan

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s