Sejak Pegang Jabatan Baru Saya Tidak Bisa Senyum

Sejak Pegang Jabatan Baru Saya Tidak Bisa Senyum


senyum adalah ekspresi kesiapan
senyum itu mudah kan?

Judul ini saduran dari ungkapan pernyataan peserta pelatihan kami di tahun 2015. Di balik pernyataan tersebut, terkandung makna dan rahasia dalam yang menyangkut pemahaman dan kesadaran diri.

Paling tampak, adalah ekspresi tanggungjawab ketika memangku jabatan baru, yang berarti tugas dan tanggungjawab baru; yang dalam kasus ini terpersepsi menjadi “berat” dan “beban”. Jangkauannya cukup banyak.. Bisa terkait dengan persepsi akan kemampuan diri, tanggungjawab dsb.. Lebih lanjut, tentang sebuah kesadaran! Refleksi kesadaran dari dalam diri !

“Bahkan untuk senyum saja saya ndak bisa pak! Sejak saya jadi kades (kepala desa, pen.), saya jadi ndak bisa senyum!”

Ungkapan “Sejak saya pegang jabatan baru ini saya tidak bisa senyum” ini diucapkan oleh salah seorang pelatihan kami di tahun 2015, seorang kepala desa yang berasal dari kabupaten L, Jawa Timur. Frasa “tidak bisa senyum” mengandung makna beban, tanggungjawab besar yang harus diselesaikan, dll.

Kisah ini menarik, sebagai bahan pembelajaran kita. Di artikel mendatang, saya akan tulis, seorang ibu usia 47-an tahun, yang juga mengeluh tidak bisa tersenyum lagi sejak ia sakit dan memikirkan anaknya yang masih belum lulus kuliah.

Pertama, mengapa senyum? Dalam tulisan ini, juga dalam pelatihan saya, ketika saya temukan seorang bapak kepala desa yang tidak bisa senyum tadi.

Ya. Mengapa senyum?

Senyum, merupakan ukuran termudah (siapapun bisa melakukannya) untuk mendeteksi kondisi atau suasana hati atau emosi seseorang.

Senyum juga merupakan alat pendeteksi “kekuatan” seseorang secara mudah. Kekuatan di sini berarti kekuatan kepribadian, ketahanan, kestabilan emosi. Makanya, ada “senyum manis”, “senyum pahit”, “senyum kecut”, “senyum sinis”, dsb.

Benar. Ketika saya tes senyum, para peserta kebanyakan langsung senyum, bahkan ada yang tertawa keras, sambil nyeletuk, “kok disuruh senyum pak?”. Waktu itu langsung saya jawab santai, “daripada disuruh nangis?” Peserta tambah tertawa keras. Kecuali satu orang. Ya bapak itu tadi.

Nah, ternyata senyum yang tampaknya sepele pun, tak semua orang mampu melakukannya !

Mengapa?

Pada saat kapan anda gampang senyum? Mengapa?

Pada saat kapan anda sulit senyum? Mengapa?

Sudah ada jawabannya?

Itulah makna senyum !

Kembali ke persoalan bapak yang tak bisa senyum sejak memegang jabatan baru tadi. Padahal jabatan kepala desa adalah jabatan yang telah direncanakan, karena melalui pemilihan, yang melibatkan perencanaan dan kesadaran pelakunya. Bapak tadi sadar bahwa ia merencanakan untuk terpilih menjadi kepala desa (jika tidak siap, untuk apa dia ikut pemilihan kepala desa?). Kenyataannya, beban itu tetap ada.

Dia mengaku merasa ada beban berat yang harus ditanggungnya.

Waktu itu saya sempat katakan padanya, “bapak memiliki rasa tanggungjawab yang sangat besar!”. Sejenak dia bingung. Saya katakan, “rasa tanggung jawab itu menjelma dalam bentuk ketegangan dan selalu berpikir keras untuk tugas dalam jabatan baru itu agar lebih baik dan terus lebih baik.”. Dia mengiyakan. “Makanya pak, saya ndak bisa senyum lagi sejak itu..”. “Ndak apa-apa, bapak ndak bisa senyum karena tugas besar agar rakyat bapak bisa senyum!”. “Insya Allah pak”, kata bapak tersebut sambil senyum.. “Lhaa…. tu.. bisa senyum..”, canda saya kepadanya.

Cuplikan dialog ini terjadi di dalam kelas pelatihan. Kalimat-kalimat dialog tidak selalu tepat seperti diucapkan subjek, tetapi memuat makna yang sama.

Jadi, senyum itu ekspresi atau bahasa untuk memberitahu bahwa “saya tidak apa-apa”, “tidak ada masalah dengan diri saya”.

Ada kekuatan luar biasa dibalik sebuah senyuman !

Namun kita tak menyadarinya!

Senyum adalah kekuatan !

Itulah yang diberdayakan dan diutilisasi dalam kesadaran diri.

 

Bacaan lanjutan, yang berkaitan dengan muatan terapi menggunakan daya dalam diri sendiri:

Kesadaran Internal dan Memunculkan Miracle

Inner Peace dan Penyembuhan Diri

“SENYUM adalah ekspresi PERSETUJUAN BATIN yang menandai KESIAPAN kita menjalani hidup dan kehidupan” -MiracleWays-

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s