Peristiwa Alam dan Kesadaran Semesta

Peristiwa Alam dan Kesadaran Semesta


manusia dan alam semesta
relasi manusia dan alam semesta

“Fenomena gerhana, membawa pada memori pengetahuan tentang triliunan benda langit dan peredarannya dalam hukum keseimbangan semesta”

Ini membawa pada kesadaran tentang keseimbangan alam semesta, dan bahwa kita hanyalah sebutir debu yang melayang-layang dalam hamparan semesta tak berujung.  Apa tujuan hidup kita dalam konteks semesta?

Mengenang fenomena alam gerhana matahari 9 Maret 2016, mengingatkan lagi akan peristiwa serupa di tahun 1983, gerhana matahari total. Memang berbeda perlakukan kita terhadap fenomena ini di tahun 1983 dan 2016, namun hal ini makin mengajari kita pada keingintahuan lebih lanjut tentang peredaran benda-benda langit, mengapa mereka harus ada dan berjumlah sangat banyak, mungkin triliunan jumlahnya, yang tersebar di miliaran galaksi, yang mana masing-masing galaksi memiliki sistem tata surya. Mereka beredar dalam keteraturan maha dahsyat yang sulit dibayangkan, dengan luasan yang tak terkira. Dengan ilustrasi sederhana bahwa jarak matahari yang kita lihat tiap hari ini dengan sebuah benda langit terjauh di galaksi yang sama adalah sebanding dengan perjalanan dengan menggunakan pesawat ulang alik NASA berkecepatan maksimum yakni 28.000 mil/ jam dalam waktu lebih dari 8000 tahun ! Baru dua titik bintang, dalam satu galaksi. Dan, ada miliaran galaksi di alam semesta ini !

Untuk apa semua itu harus ada jika hanya BUMI yang satu ini yang dihuni oleh manusia ? Jika dibandingkan dengan miliaran bintang lainnya, maka planet bumi ini nyaris tak berarti. Hanya sebutir debu di alam raya…

Apakah miliaran bintang di miliaran galaksi itu saling terikat dalam hukum gravitasi antar planet dan antar galaksi? Tarik menarik di antara mereka menyebabkan keseimbangan dan perputaran abadi? Sehingga, keseimbangan dalam galaksi lain berpengaruh pada galaksi Milky Way atau Bhima Shakti tempat tinggal sistem tatasurya kita?

Pertanyaan yang memerlukan analisis astronomi yang mumpuni. Namun, kesadaran internal kita memiliki jawaban, yakni, sebuah kesadaran baru: kita ini kecil. Hanya sebutir debu di antara belantara ratusan milyar atau triliunan benda langit yang tersebar di alam semesta yang beredar menurut hukum semesta keseimbangan.

Sebutir debu yang boleh diabaikan dalam perbincangan semesta !

Apa artinya?

Andai bumi hancur karena tabrakan dengan sesama benda langit, tidak akan berpengaruh pada sistem besar miliaran galaksi di alam semesta !

Kita hanyalah sebutir debu kosmik yang terombang-ambing di alam semesta! Akankah kita mengombang-ambingkan diri lagi untuk hal-hal yang tak perlu?

Bukankah keseimbangan yang menjadikan alam semesta berisi triliunan bintang dan benda langit itu tetap ada dan berada?

Mengapa kita tidak memilih keseimbangan dalam hidup dan kehidupan kita sebagaimana sistem besar alam semesta?

Mengenal keseimbangan dan berlaku dalam keseimbangan, akan mengenalkan pada tujuan hidup yang sebenarnya.

 

Keterangan artikel:

Tulisan ini merupakan repost artikel saya pada http://www.MiracleWay.web.id pada tanggal 10 Maret 2016 bertepatan dengan momen gerhana matahari (9 Maret 2016), dengan judul “Gerhana, Benda Langit, Kesimbangan dan Tujuan Hidup”.

Pelajarannya adalah: menguak rahasia alam semesta, menyaksikan keajaiban penciptaan alam dan manusia, untuk menumbuhkan kesadaran diri. Diri yang sadar, memudahkan upaya pemberdayaan diri!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s