Cara Berpikir Positif

Cara Berpikir Positif


IMG_8331Pandanglah segala sesuatu itu dari sisi positif, karena segala sesuatu itu bersifat positif. Pengetahuan, persepsi dan kepentingan-lah yang membuatnya menjadi positif atau negatif!

Berpikir positif adalah memandang peristiwa kehidupan dari sisi positif, yakni bahwa segala sesuatu itu positif (baik, menguntungkan, bermanfaat, dsb) dan mendatangkan kepositifan (kebaikan, keuntungan, kemanfaatan, dsb) bagi dirinya. Mengapa demikian? Karena pada hakikatnya segala sesuatu itu bersifat positif. Menjadi “negatif” ketika terjadi keterputusan dengan nilai manfaat instrinsik, atau dimaknai secara “negatif”.

Pertama, tentang “terjadi keterputusan dengan nilai manfaat instrinsik”. Manfaat instrinsik adalah manfaat yang melekat pada suatu benda, objek atau peristiwa. Manfaat instrinsik ini seringkali kabur karena persepsi kepentingan dari orang yang memandangnya. Misalnya, ular. Binatang berbahaya, menakutkan, mematikan, banyak orang takut terhadapnya, menghindar jika bertemu ular. Nilai: negatif. Ular bernilai negatif, karena mengalami “keterputusan dengan nilai manfaat instrinsik”. Ketika diketahui bahwa ular mengandung manfaat, misalnya kulitnya bisa dibuat sabuk (laku), maka berubahlah posisi negatif sang ular (objek) menjadi positif. Ibu-ibu yang bekerja di sawah, di desa saya (true story), yang semula takut ular, ketika ada sang tetangga yang mau membeli ular hidup dengan harga lumayan, mereka menjadi tidak takut ular lagi. Dan ketika berpapasan dengan ular di pematang sawah atau di kebun, mereka tidak lari, tetapi malah memburunya! Ada ketersambungan dengan nilai manfaat instrinsik pada objek (ular). Ini juga terkait dengan sebab kedua, yakni persepsi.

Persepsi akan manfaat dan keuntungan telah mengubah pikiran (tentang ular) menjadi sesuatu yang bermanfaat dan menguntungkan (positif).

Kedua, tentang dimaknai secara negatif. Dimaknai, mengandung unsur persepsi. Ini tentang persepsi terhadap suatu objek atau peristiwa. Benarkah suatu objek atau peristiwa itu positif atau negatif?

Pemaknaan atau persepsi terhadap objek atau peristiwa-lah yang menjadikannya “seperti apa yang dipersepsikan itu”.

Ini pekerjaan pikiran yang menjadikan sesuatu itu sebagai “positif” atau “negatif”. Contohnya, tentang ular tadi. Persepsi tentang ular (positif, negatif) akan membawa pada tindakan (menghindar, memburu/ mendekat) dan berkorelasi pada hasil: kehampaan atau keuntungan.

“Persepsi menentukan tindakan, dan tindakan menentukan hasil. Jadi, persepsi menentukan hasil”

Maka, bagaimanakah kita “menggembala” pikiran (orang Jawa mengatakan “angon pikiran”) kita untuk membawa kita pada persepsi positif atau negatif, yang kemudian membawa pada realitas yang dihasilkan: positif atau negatif.

Maka, bagaimanakah cara menggembalakan pikiran kita? Menggiring pikiran menjadi positif?

Pertama, menambah pengetahuan akan sesuatu objek atau peristiwa. Tambahlah referensi atas sesuatu itu. Knowledge is power, pengetahuan adalah kekuatan, merupakan sebuah titik awal dari bertumbuhnya pikiran positif. Keliru pikir dimulai dari kemiskinan pengetahuan akan sesuatu.

Kedua, lihatlah nilai manfaat instrinsik dari suatu objek atau peristiwa.

Ketiga, persepsikan positif, setelah mengetahui langkah pertama dan kedua di atas.

Dan, diperlukan latihan mengelola pikiran agar memiliki kemauan menggeser ke pikiran positif.

Pelajarannya adalah: mengelola pikiran, hati dan perasaan, memperkuat pikiran, untuk mengubah pikiran menjadi positif! Karena pikiran positif, memperkuat daya pikiran, menciptakan kreativitas, creative thinking!

#manajemenpikiran

#terapiberpikirpositif

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s