Anakmu ?


Anak – Anakmu
 
(Kahlil Gibran)
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok,
yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur tempat anakmu menjadi anak panah yang diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian,
dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur cepat dan jauh
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang,
maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.
 
Sebuah renungan..
Lantas bagaimana kita mempersiapkan anak-anak kita agar mereka siap meluncur melesat ke depan bak anak panah lepas dari busur…?
 
 
Dan siap mengarungi jamannya kelak… ?
Jaman yang kita sendiri tidak mengerti tentangnya…
Karya Kahlil Gibran ini menginspirasi gagasan awal Klub Parenting Indonesia untuk mendiskusikannya di kalangan para orangtua “pemilik anak-anak” secara lebih sistematis.
Hadirnya “Klub Parenting Indonesia” ini adalah sebagai jawaban atas kegiatan “parenting tak sistematis” yakni diskusi dengan para orangtua ketika para orangtua ini berkonsultasi dengan kami, atau setelah mereka menjalani sesi terapi dengan kami, baik mereka sendiri  maupun putra-putri mereka. Dari kebiasaan ini kami mencoba men-sistematiskan- kegiatan “diskusi dengan para orangtua” ini menjadi kegiatan yang umumnya disebut “parenting”.

Banyak hal yang belum kita ketahui terkait dengan “anak-anak kita”.
Bahwa apa yang kita yakini belum tentu seperti yang kita yakini.
Yang kita alami dan saksikan belum tentu seperti yang kita saksikan.
Sungguh memerlukan pendalaman.
Untuk dapat menjadi orangtua yang dikehendaki.
Yang dapat menyiapkan anak-anaknya laksana anak panah yang siap melesat dari busur..
Karena itulah yang semestinya terjadi.
Bukan anak panah yang lunglai disamping busur.
Mari kita diskusikan.
Untuk langkah ke depan yang lebih baik.
Bagi anak panah yang siap melesat dan busur yang tak patah.
Memahami anak dari sudut pandang anak bukan berarti membiarkan anak berkembang menurut ala anak secara bebas tanpa “arahan” orangtua.
Orangtua menyiapkan anak agar mereka mampu melesat dari busur menjemput dunianya…
Dunia yang hanya bisa dipahami oleh pikiran mereka. Bukan pikiran kita.
Kita orangtua “hanya” bisa menyiapkan agar pikiran mereka terisi oleh pikiran mereka. Karena merekalah pemilik pikiran mereka sendiri.
Namun, menyiapkan agar pikiran mereka terisi oleh pikiran mereka, bukanlah berarti membiarkan mereka mengisinya sendiri tanpa kita hiraukan.
Pembiaran berarti penelantaran anak panah, yang hanya meliarkan anak panah.
Menyiapkan “anak panah yang tangguh” dan siap melesat adalah seni “memprogram anak panah”, eh, “anak” dari sisi humanitas-nya. Tamsil “anak panah” ala Gibran bukanlah memperlakukan anak seperti benda mati. Tamsil itu adalah kias untuk “melepas anak panah”. Gibran juga tidak membicarakan “bagaimana merawat dan meraut anak panah” agar siap melesat tanpa patah.
Nah, sebagai “proyek pelesatan anak panah”, karya Gibran cukup relevan.
Namun, bagaimanakah agar anak panah itu mampu melesat tanpa patah? Atau, setidaknya cukup kuat dan tangguh untuk mampu melesat?
Kita-lah yang mempersiapkan anak panah itu  supaya tangguh untuk mampu melesat ke depan tanpa membuatnya patah.
Melesatkan anak panah, tidak sama dengan menyertainya dalam lesatan itu.
“Proyek pelesatan anak panah” dapat terjadi setelah “anak panah itu siap melesat”.
Inilah yang dinamakan proyek “pemrograman anak” oleh orangtua yang siap melesatkan anak panahnya ke dunia masa depan yang kita sendiri sulit memahaminya. Karenanya, “program penyiapan anak panah berkualitas masa depan” untuk mampu melesat adalah program humanis yang memampukan anak.
Nah, sekedar refreshing kecil-kecilan….
Siapakah yang melakukan pemrograman terhadap pikiran anak? Kita-kah? Atau, televisi? Atau yang lain?
 Kapan terakhir kali kita memarahinya dan mengapa?
Rekan orangtua, “memprogram anak” bukan berarti “memasung” mereka, namun memampukan mereka untuk kreatif , imajinatif, merdeka dalam berpikir dan tangguh.
Nah, inilah yang disebut “memprogram anak” yang dilakukan dalam kerangka penguatan aspek humanitasnya dengan tanpa disadari oleh oleh anak dan mereka rela karena itulah yang menurut alam pikir mereka sedemikian adanya.
Namun, bagaimana “memprogram” anak tersebut?
Bagaimana anak menurut orangtua tanpa membuat anak tertekan?
Bagaimana mendefinisikan “anakmu bukanlah anakmu”?
Bagaimanakah menjadikan anak agar kreatif dan bertanggungjawab?
 Benarkah anak harus imajinatif? Bagaimana agar kita tak capek “mengikuti” imajinasi anak?
Merdeka dalam berpikir? Apakah itu liar?
Bagaimanakah kita “memprogram anak” dalam khazanah budaya kita ?
Dan masih banyak lagi…
Kita obrolin yuk…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s