Terapi Konsep Diri Untuk Kasus Asosial dan Hilang Semangat


Kisah F dari Jayapura, Papua ini menarik sebagai pembelajaran yang terkait dengan pendidikan dan konsep diri yang berkaitan dengan lingkungan sosial semisal sekolah, keluarga, orangtua, teman dan juga pada diri si anak itu sendiri. Ada kisah menarik di pada dan sekitar subjek ini.

Dia (F, laki-laki, 15 tahun ) berasal dari Jayapura, Papua, bersekolah (SMP) di Kota Malang, Jawa Timur. Dia tinggal di asrama sekolah. Keluhan yang disampaikan oleh orangtuanya (mereka tinggal di Papua) kepada saya adalah bahwa F ini sangat malas belajar, kerjaan setiap harinya hanya nge-game, tidak suka bicara, jika diajak bicara (biasanya via telepon) selalu marah-marah. Tidak suka bertegur sapa dengan guru maupun teman kecuali teman akrabnya yang hanya 3 orang. Dia juga suka bicara bohong dan bolos sekolah, dan nilai pelajarannya buruk dan terancam tidak naik kelas. Dan F ini, introvert (tertutup), pendiam.

Singkatnya, sang orangtua meminta bantuan saya untuk melakukan terapi untuk anak ini (F). Kemudian kami bikin janji dan pada hari yang diperjanjikan kami bertemu sang papa yang datang dari Jayapura. Pertemuan berlangsung di sebuah hotel di Malang. Saya berkenalan dengan sang papa dan anak tersebut (F).  Langkah awal, saya berkenalan dan berusaha mengenal F lebih dekat untuk bisa menelusuri riwayat anak ini dan menerapkan terapi yang sesuai. Cukup susah pada awalnya karena anak ini benar-benar tidak mau buka mulut. Pertama saya datang ke kamarnya aja saya dicuekin seolah tidak ada seseorang yang datang. Dia tetap asyik dengan laptopnya dan sama sekali tak bergeming seolah hanya dia seorang diri di kamar itu. Wah.. kalau macam begini, agen CIA pun agak repot juga kayaknya untuk membuat anak ini buka mulut… hehe…. 🙂

Kemudian saya mendampingi F selama 2 minggu, sebelum saya kembalikan ke orangtuanya, F telah menampakkan perubahan signifikan dan diakui oleh orangtuanya, yakni: telah berubah cara bicaranya kepada orangtua yakni lebih halus dan tenang, lebih kelihatan mengerti, dengan kesadaran sendiri mau dan lebih rajin beribadah ke gereja, mau belajar, mau menyapa guru yang biasanya ia sangat cuek terhadap lingkungan.

Saya sangat senang mendengar (membaca) pengakuan orangtuanya, dan saya mentransfer metode ini untuk orangtuanya agar dapat melanjutkan dan memelihara dalam pergaulan keseharian untuk lebih memberdayakan putranya melalui komunikasi terapeutik sehari-hari.

Bagaimanapun, peran orangtua sangat menentukan. Peran terapis, trainer, coach,  adalah “membuka jalan”, selanjutnya orangtua bersama anak-lah yang melanjutkan dan memeliharanya.

Dalam kasus F ini, ia menciptakan dunianya sendiri, ia menciptakan persepsi atas dunianya menurut standard kenyamanan bagi dirinya, yang jika dilihat dari luar, adalah unik dan terlihat seperti seorang anak yang “asosial” (tak peduli lingkungan sosial, tak memiliki lingkungan sosial). Ini sebenarnya sangat menyiksa pada seseorang yang sedang mengalaminya.

Lingkungan sosial, termasuk orangtua dan keluarga, dipersepsi sebagai objek atau situasi yang tak berarti, yang dalam kasus ini dipersepsi sebagai penyebab ketidaknyamanannya. Padahal belum tentu demikian fakta sebenarnya. Dalam situasi ini, yang terjadi secara berlarut-larut,  F tenggelam dalam persepsinya sendiri terhadap lingkungan sosialnya termasuk orangtuanya, dan orangtuanya juga demikian, terjebak pada persepsinya sendiri atas anaknya yang membawa perserpsi tersebut. Secara sederhana, dapat dikatakan, “sama-sama salah persepsi” atau “sama-sama memiliki persepsi masing-masing yang belum tentu sesuai fakta sebenarnya.

Nah, situasi seperti ini yang dialami oleh F yang membuatnya malas belajar dan lebih memilih asyik dengan dunianya yang ia anggap “membahagiakannya”, dan ia memilih mengasyikkan diri dengan main game hingga melupakan tugas dan kewajibannya, dan tidak naik kelas.

Dalam contoh kasus F ini, juga terdapat fenomena miskomunikasi, atau komunikasi yang tidak nyambung sehingga positioning  orangtua juga salah tempat.

Saya juga berbahagia mendengar kabar perubahan diri yang bagus pada diri F. Saya berterimakasih pada orangtuanya yang telah merevolusi anaknya.

Bagaimanapun, orangtua lebih berperanan, sedangkan peran terapis hanyalah membantu membukakan gerbang, yakni gerbang kesadaran internal, dan klien sendirilah yang memasuki gerbang tersebut dan menemukan KONSEP DIRI-nya secara otonom.

#terapikonsepdiri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s