Tabir Yang Menyelimuti Pikiranku Telah Hilang

Tabir Yang Menyelimuti Pikiranku Telah Hilang


 

Pengalaman klien, bernama CP di Malang (Jawa Timur), perempuan, 32 tahun, seorang aktivis sosial profesional, menarik untuk dijadikan pelajaran. Dia seorang yang terbuka, berpergaulan luas, banyak teman, dan disukai teman. Punya pekerjaan bagus dan bertanggungjawab. Secara umum tidak ada masalah dengan pekerjaannya. Juga dengan aktivitas sehari-harinya. Akan tetapi dia merasakan ada tekanan dalam pikirannya dan merasa ada tabir yang menyelimuti pikiran yang membuatnya merasa kurang fokus dalam berpikir. Dia merasa terganggu dengan hal ini, walaupun tidak sampai mengganggu pekerjaannya secara serius. Tetapi beban psikis yang dia rasakan bertambah berat karena harus “memaksa diri” menetralkan tabir yang menyelimuti pikirannya itu tak urung juga membuatnya sangat tidak nyaman.

Dia menghubungi saya karena referensi dari pimpinan lembaganya yang sebelumnya pernah saya bantu masalahnya.

Singkatnya, kami pun bertemu untuk mendiskusikan masalahnya. Saya katakan pada Sdri. CP, bahwa apapun masalahnya, saya tidak ingin tahu secara detil. Cukup mengatakan apa yang ia rasakan saja dan ingin membuang beban itu atau yang dianggap sebagai masalah itu. Saya juga meminta CP untuk tidak memikirkan masalahnya dan memfokuskan pada apa yang ia inginkan. Kemudian, saya meminta Sdri. CP untuk “tidak mengharapkan apa-apa” termasuk menargetkan sesuatu, termasuk keinginan untuk “membuang sesuatu”. Saya mengajak Sdri. CP untuk menuju ke zona “kosong” dalam dirinya. Benar-benar masuk ke dalam dirinya. Kali ini saya tidak menerapkan “terapi verbal” seperti biasanya, tetapi saya “mengajak”-nya untuk berdialog dengan dirinya sendiri, memanggil “unsur internal” dalam dirinya untuk membimbingnya. Jadi, bukan saya yang membimbingnya, melainkan DIRINYA SENDIRI.

Dalam KONSEP DIRI yang murni, terdapat KEBIJAKSANAAN INTERNAL yang sering disebut sebagai “guru pribadi”, “pelindung diri”, “pemelihara diri” dsb, yang bersifat MURNI. Karenanya untuk mengaksesnya dan “menyatu dalam diri” sehingga mengenali dirinya sendiri, mampu menjadikannya sebagai “pembimbing”, diperlukan cara yang juga MURNI, TANPA HARAPAN APA-APA. Dialah”guru sejati” yang ada dalam diri setiap orang. Dalam kasus CP ini, “Sang Guru Sejati” bahkan mampu membantu membersihkan “sampah mental” dari manusianya.

Setelah berdiskusi tersebut, saya membimbing Sdri. CP selama 20 menit. Break. Kita berdiskusi lagi. Sdri. CP menyatakan bahwa beban tabir yang menyelimuti pikirannya berkurang kira-kira 40%. Dia merasakan jauh lebih ringan dan terang. Setelah break saya lanjutkan sesi 2 selama 20 menit. Seusai sesi, kita berdiskusi lagi. Sdri. CP merasakan sensasi seperti melepaskan sesuatu dari dalam dirinya kemudian dia merasakan “plong” dan tabir yang menyelimuti pikirannya pun telah hilang.

Seusai sesi ke 2, sesi “terapi” Konsep Diri selesai. Saya menyarankan Sdri. CP untuk mengikuti sesi Distance Therapy untuk memelihara dan menguatkan mental dan suasana hati dan pikirannya, hingga ia tidak membutuhkannya lagi.

Ternyata, ujar-ujar kuno Tiongkok “yang kosong itu berisi” ada benarnya .. hehe… 🙂

Yang penting, seorang anak manusia lagi terbantu..

Puji syukur kepada Tuhan…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s