Anak Kecanduan Game atau Gadget


Anak kecanduan game atau gadgetYang tampak seperti ‘kecanduan game atau gadget‘ itu tidak pasti mengalami ‘kecanduan’ dalam arti sebenarnya. Terdapat beberapa kondisi yang mendorong perilaku ke arah penguatan untuk “kecanduan game” tersebut. Bisa terjadi karena pelarian dari suatu kondisi yang tidak menyamankan, sedangkan dirinya tidak cukup kuat untuk mengelola diri mengatasi kondisi itu. Ungkapan “daripada stress aku main game aja…”  sering menjadi pembenar tindakan tersebut. Kondisi lingkungan tak menyamankan ini terpicu dari kondisi lingkungan sosial yang dihadapinya. Ini kondisi kesatu.

Kondisi kedua, terkait objek masalah yang sedang dihadapi. Biasanya anak-anak memiliki masalah dengan pembelajaran di sekolah atau kampus. Anak malas belajar di sekolah atau di kampus bisa memicu pada ‘pelarian’ ini. Terdapat persepsi ‘ada aktivitas lain yang lebih menarik dan menantang’, atau ‘ada aktivitas lain yang lebih dipahami atau lebih masuk ke otak’ daripada aktivitas sekolah atau kuliah.

Pada kondisi kedua ini terkadang menyebabkan efek lain: Menunda Pekerjaan.

Kondisi ketiga, masalah internal dirinya. Kondisi ketiga ini seringkali juga berkaitan dengan kondisi satu dan kondisi dua.

Pada umumnya, anak-anak suka nge-game itu biasa. Tak perlu dicemaskan. Menjadi masalah apabila aktivitas nge-game ini keterusan, terjadi lebih sering daripada aktivitas lain, menyita lebih banyak waktu dan menjadi kebiasaan. Pasti ada ‘sesuatu hal yang membuatnya demikian’.

Apa yang disebut “kecanduan game atau gadget pada anak-anak”, adalah efek. Efek dari sesuatu kondisi, bisa internal maupun eksternal.

Klien ini disebut dan dikenal (sebagaimana keluhan awal yang disampaikan orangtuanya) mengalami ‘kecanduan game‘. Disebut demikian karena sehari-harinya yang ia tampakkan adalah main game, baik itu game di HP maupun laptop. Perilaku nge-game ini bahkan telah menjadi “pekerjaan sehari-hari” dari anak yang bernama F ini, hingga ia malas belajar, malas sekolah, malas bicara dengan orangtua, dan malas yang lain-lain. Singkatnya: ia tidak naik kelas. Dia (F) kelas 1 SMP (saat masalah ini disampaikan kepada saya).

F, laki-laki, 15 tahun, berasal dari Jayapura, Papua, bersekolah (SMP) di Kota Malang, Jawa Timur. Dia tinggal di asrama sekolah. Keluhan yang disampaikan oleh orangtuanya (mereka tinggal di Papua) kepada saya adalah bahwa F ini sangat malas belajar, malas ngapa-ngapain, kerjaan setiap harinya hanya nge-game, tidak suka bicara, jika diajak bicara (biasanya via telepon) selalu marah-marah. Tidak suka bertegur sapa dengan guru maupun teman kecuali teman akrabnya yang hanya 3 orang. Dia juga suka bicara bohong dan bolos sekolah, dan nilai pelajarannya buruk dan terancam tidak naik kelas. Dan F ini, introvert (tertutup), pendiam.

Singkatnya, sang orangtua meminta bantuan saya untuk melakukan terapi untuk anak ini (F). Kemudian kami bikin janji dan pada hari yang diperjanjikan kami bertemu sang papa yang datang dari Jayapura. Pertemuan berlangsung di sebuah hotel di Malang. Saya berkenalan dengan sang papa dan anak tersebut (F).  Langkah awal, saya berkenalan dan berusaha mengenal F lebih dekat untuk bisa menelusuri riwayat anak ini dan mengenalinya untuk menerapkan terapi yang sesuai. Cukup susah pada awalnya karena anak ini benar-benar tidak mau buka mulut. Pertama saya datang ke kamarnya aja saya dicuekin seolah tidak ada seseorang yang datang. Dia tetap asyik dengan laptopnya dan sama sekali tak bergeming seolah hanya dia seorang diri di kamar itu. Wah.. kalau macam begini, agen CIA pun agak repot juga kayaknya untuk membuat anak ini buka mulut… hehe…. 🙂

Singkatnya, saya kemudian mendampingi F selama 2 minggu, sebelum saya kembalikan ke orangtuanya, F telah menampakkan perubahan signifikan dan diakui oleh orangtuanya, yakni: telah berubah cara bicaranya kepada orangtua yakni lebih halus dan tenang, lebih kelihatan mengerti, dengan kesadaran sendiri mau dan lebih rajin beribadah ke gereja, mau belajar, mau menyapa guru yang biasanya ia sangat cuek terhadap lingkungan.

Saya sangat senang mendengar (membaca pesan WA) dari orangtuanya tentang kemajuan F, dan saya mentransfer metode ini untuk orangtuanya agar dapat melanjutkan dan memelihara dalam pergaulan keseharian untuk lebih memberdayakan putranya melalui komunikasi terapeutik sehari-hari.

Bagaimanapun, peran orangtua sangat menentukan. Peran terapis, trainer, coach,  adalah “membuka jalan”, selanjutnya orangtua bersama anak-lah yang melanjutkan dan memeliharanya.

Apa yang dialami oleh F ini, menarik sebagai pembelajaran yang terkait dengan pendidikan dan konsep diri yang berkaitan dengan lingkungan sosial semisal sekolah, keluarga, orangtua, teman dan juga pada diri si anak itu sendiri. Ada kisah menarik pada dan sekitar subjek.

Dalam kasus F ini, ia menciptakan dunianya sendiri, ia menciptakan persepsi atas dunianya menurut standard kenyamanan bagi dirinya, yang jika dilihat dari luar, adalah unik dan terlihat seperti seorang anak yang “asosial” (tak peduli lingkungan sosial, tak memiliki lingkungan sosial). Ini sebenarnya sangat menyiksa pada seseorang yang sedang mengalaminya.

“Cara seseorang berperilaku adalah cara ia merespons lingkungannya, dan di situlah kadar kekuatan dirinya”. (MiracleWays)

Lingkungan sosial, termasuk orangtua dan keluarga, dipersepsi sebagai objek atau situasi yang tak berarti, yang dalam kasus ini dipersepsi sebagai penyebab ketidaknyamanannya. Padahal belum tentu demikian fakta sebenarnya. Dalam situasi ini, yang terjadi secara berlarut-larut,  F tenggelam dalam persepsinya sendiri terhadap lingkungan sosialnya termasuk orangtuanya, dan orangtuanya juga demikian, terjebak pada persepsinya sendiri atas anaknya yang membawa persepsi tersebut. Secara sederhana, dapat dikatakan, “sama-sama salah persepsi” atau “sama-sama memiliki persepsi masing-masing yang belum tentu sesuai fakta sebenarnya.

Baca: “Manajemen Persepsi”

Nah, situasi seperti ini yang dialami oleh F yang membuatnya malas belajar dan lebih memilih asyik dengan dunianya yang ia anggap “membahagiakannya”, dan ia memilih mengasyikkan diri dengan main game hingga melupakan tugas dan kewajibannya, dan tidak naik kelas.

Dalam contoh kasus F ini, juga terdapat fenomena miskomunikasi, atau komunikasi yang tidak nyambung sehingga positioning  orangtua juga terpersepsi salah tempat.

Saya juga berbahagia mendengar kabar perubahan diri yang bagus pada diri F. Saya berterimakasih pada orangtuanya yang telah merevolusi anaknya.

Bagaimanapun, orangtua lebih berperanan, sedangkan peran terapis hanyalah membantu membukakan gerbang, yakni gerbang kesadaran internal, dan klien sendirilah yang memasuki gerbang tersebut dan menemukan KONSEP DIRI-nya secara otonom.

#terapikonsepdiri

 

Pengalaman serupa:

Varian Lain Anak Kecanduan Main Game.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s