Creative Thinking Skills Lancarkan Karir

Creative Thinking Skills Lancarkan Karir


berpikir kreatif
creative thinking

Creative thinking skills, atau keterampilan berpikir kreatif, merupakan senjata andalan untuk memperkuat produktivitas, mempertinggi ketangguhan dalam berkarya dan berkompetisi dalam jaman yang semakin tinggi persaingannya ini. Dari pengalaman empiris, bekal pendidikan saja tidak cukup untuk menakhlukkan iklim usaha dan karya. Daya cipta merupakan sumber yang ‘tak ada matinya’ dalam aktivitas apapun.  Apalagi pada era informasi komunikasi dengan teknologi informasi komunikasi (ICT) yang pesat seperti sekarang ini, kemampuan kreatif mutlak diperlukan. Apapun profesinya. Creative thinking skills tidak hanya monopoli pekerja tim kreatif yang kita kenal dalam industri kreatif atau industri berbasis kreasi visual saja, namun creative thinking skills adalah kemampuan yang wajib dimiliki oleh siapa saja.

Baca artikel saya terdahulu: “Creative Thinking Skills”

Sales force, atau armada penjualan. Sudah pasti. Marketer atau pemasar, pasti membutuhkan skills ini. Mereka memerlukan daya pikir kreatif, baru, penciptaan ide dan caru untuk membuka pasar, menemukan user baru, menciptakan cara baru untuk menjalin relasi dan memelihara relasi abadi dan ketergantungan bagi para pengguna produknya.

pelatihan implementasi kurikulum 2013 dan creative thinking
implementasi kurikulum 2013 dengan creative thinking strategy

Karyawan perusahaan, guru atau pendidik, pasti pula. Mereka membutuhkan cara baru untuk menyelesaikan tugasnya dengan efektif, optimal dan memuaskan. Karyawan maupun guru tidak mesti harus bekerja secara rutin-linear seperti anggapan banyak orang, karena dianggapnya profesi karyawan maupun guru adalah profesi statis, yang tak perlu ‘cara baru’ untuk bekerja.  Cara baru akan dianggap sebagai tindak indisipliner yang menyalahi aturan atau SOP perusahaan atau sekolah. “Karyawan mah gak gitu.. Itu mah urusan manajer atau direktur bahkan pemilik perusahaan... Guru juga… sehari-harinya ya gini… materi yang diajarkan kan tetap.. namanya rumus matematika mana ada perubahan…”. Benarkah demikian? Karyawan bukan robot atau mesin yang disetel sesuai program statis. Ia tetap manusia, yang memiliki ‘cipta-rasa-karsa’ dalam bertindak. Setidaknya, ia bisa bosan, jenuh dan stres. Guru pun, memerlukan  cara baru untuk dapat menyampaikan materi pelajarannya dengan utuh, mudah dipahami dan menarik.

Nah, creative thinking skills  setidaknya berperanan di lini ini, untuk menciptakan cara baru agar pekerjaannya dapat terselesaikan dengan efektif, optimal dan memuaskan, tanpa stress yang berarti. Stress, tentu saja ada, namun jika terkendali dalam stat emosi dan pikiran yang kuat, stress akan lebih mudah dikendalikan. Pemikiran yang kuat, hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa berpikir kreatif, creative thinking.

Kreatif, adalah penciptaan!

creative thinkings skills dalam pelatihan
creative thinking skills for social workers and political leaders

Creative thinking skills memunculkan karakter penyebab, artinya, memandang dan memosisikan dirinya sebagai ‘penyebab’, bukan ‘akibat’ dari sesuatu yang lain di luar dirinya. Ini cikal bakal dari karakter pemenang, the winning character. Tentu saja, karyawan boleh, bahkan harus, berpemikiran kreatif, memiliki creative thinking skills, dalam batas tertentu, tentunya. Setidaknya, bermanfaat bagi produktivitas dan kinerja pribadi, lebih lanjut, untuk menjadikan karirnya lancar. Creative thinking skills lancarkan karir bagi karyawan karir. Bagi pekerja mandiri, creative thinking skills lebih tampak menonjol penggunaannya bagi kelancaran karirnya. Upaya melancarkan karir bagi pekerja profesional mandiri, termasuk pendamping masyarakat, tentu berbeda karakter dan target jika dibandingkan dengan karyawan karir. Karena target produktivitasnjya berbeda. Namun, hal yang sama bagi dukungan melancarkan karir keduanya adalah sama, yakni dukungan dan kekuatan creative thinking skills pada mereka.

Profesional mandiri, pekerja mandiri, di sektor apapun, sangat memerlukan creative thinking skills. Pada sektor politik dan pemerintahan pun, lebih-lebih lagi. Walaupun profesi ini tidak memerlukan istilah lancarkan karir, namun mereka berhadapan dengan orang-orang lain yang menambatkan harapan dan karirnya kepada mereka ini. Nah, bisa-bisa kreativitas tingkat dewa yang dibutuhkan oleh profesi politik. Mereka menggenggam nasib orang banyak.

pemikiran kreatif
creative thinking skills for local politics leaders

Pemimpin politik tingkat lokal, yang lebih banyak bersinggungan dengan rakyat, sangat memerlukan  pemikiran kreatif, creative thinking skills, untuk menciptakan program-program kerakyatan agar posisi mereka dapat bermanfaat secara nyata bagi rakyatnya. Kepala desa, misalnya, sebagai elit desa, elit politik di daerahnya, sangat ditunggu ide dan karya nyatanya bagi pembangunan masyarakat desanya. Apalagi, Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, atau umum disebut “Undang Undang Desa”, mengamanatkan tugas bagi kemandirian desa berikut kesejahteraan bagi warga desa dalam iklim demokrasi dan keadilan sosial. Ini membutuhkan ketahanan, ketangguhan dan pemikiran kreatif.

Dalam pelatihan saya terhadap kepala desa se-Jawa Timur, untuk pemahaman menghadapi implementasi “Undang Undang Desa”, sejak tahun 2014 hingga 2015, selalu saya masukkan materi creative thinking skills dengan paduan unsur strategic thinking yang telah saya modifikasi untuk karakter dan orientasi tugas pemimpin lokal desa. Karakter pemimpin seperti kepala desa adalah sebuah karakter tangguh yang sulit dibayangkan oleh penganut teori organisasi modern maupun perilaku organisasi modern. Karakter kompleks untuk mengelola karakter warga masyarakat yang kompleks. Banyak hal tak terduga seperti ajaran linearitas dalam teori-teori modern, terjadi pada arena desa. Arena politik lokal desa mewakili kompleksitas permasalahan sosial, ekonomi, bisnis, pasar dan karakter dalam dunia bisnis modern. Saya pun mendapatkan banyak pembelajaran dari para kepala desa, dalam memahami kompleksitas sosial antara persoalan yang dikenal dalam teori modern, teori perilaku dan organisasi modern berbalut dengan persoalan budaya lokal, ekonomi, karakter masyarakat, dan aneka ‘unpredictable situation lainnya.

Learning about the people berpadu dengan learning from the people. Creative thinking skills membutuhkan penerjemahan gramatikalkontekstual dalam konteks arena tertentu.

Lantas, bagaimana menumbuhkan pikiran kreatif, creative thinking skills ini? Dan dalam kontekstual apa creative thinking skills ini tumbuh?

Makna gramatikal dan kontekstual berjalin dengan terpicunya anasir pikiran kreatif dalam diri.

Bagaimana Memicu Creative Thinking Skills ?

Creative thinking, pemikiran kreatif bisa terpicu oleh beberapa kondisi yang tercipta. Kondisi tersebut adalah antara lain:

  • Terpaksa atau kondisi keterpaksaan. Atau sering dikenal dengan “kepepet”. Karenanya ada istilah “The Power of Kepepet” sebagai strategi untuk memunculkan kesuksesan. Ya, kesuksesan yang dimulai dari keseriusan yang terpicu oleh “kondisi terpaksa”. Banyak kisah sukses berlatar pikiran kreatif yang berawal dari “keterpaksaan” ini.
  • Keterbatasan atau kondisi keterbatasan. Ini mencakup keterbatasan sumberdaya, situasi, waktu, “kesulitan” dan sebagainya.
  • Ketidakpuasan. Perasaan tidak puas, termasuk tidak mudah puas akan suatu situasi dan kondisi sekitar, akan membawa seseorang pada hasrat untuk mencari cara baru, pemikiran baru.
  • Tidak menerima keadaan yang sekarang. Ini menyebabkan seseorang akan bergerak untuk mencari tahu dan mencari cara baru.
  • Protes. Protes adalah ekspresi ketidakpuasan atau ketidakcocokan dengan standard yang diyakini sesuai dengan misi pribadi seseorang.  Karenanya, protes akan membawa pada sikap ‘mencari alternatif’ yang dianggap sesuai dengan standard-nya.
  • Frustrasi dan sakit hati. Frustrasi, yang biasanya berlanjut pada sesi berikutnya yakni ‘sakit hati’ akan memicu gerak libido pikiran yang luar biasa. Ini merupakan energi sangat besar. Keadaan (emotion state)  ‘frustrasi dan sakit hati’ adalah suatu kondisi level lanjut dari “tidak menerima keadaan yang sekarang” bercampur hasrat ingin ‘protes’. Ini akan membuat pikiran bergejolak luar biasa dan ada hasrat “balas dendam”. Emosi ini mendekatkan pada kemauan dan penguatan niat.
  • Perubahan, perubahan sosial, atau situasi yang sedang berubah. Perubahan-perubahan yang terjadi pada kehidupan sosial kita, apalagi saat ini, perubahan sosial terjadi sangat cepat (rapid social change) karena perkembangan teknologi informasi – komunikasi (Information & Communication Technology, ICT). Penggunaan internet, media online, membawa perubahan tersendiri dalam cara menyikapinya, cara hidup manusianya. Kecepatan informasi, kecepatan perubahan, mau tak mau akan “menggiring” manusianya untuk beradaptasi, dan “memaksa” manusianya untuk berpikir kreatif.

Bagaimana menciptakan “kondisi yang memicu creative thinking” ?

Tidak semua orang ketika berjumpa atau mengalami kondisi keterpaksaan, keterbatasan, ketidakpuasan dll tersebut di atas, lantas bisa menerjemahkan secara positif menjadi pemikiran kreatif. Semua tergantung dari cara pandang atau bagaimana mempersepsi suatu kondisi. Kemudian me-utilisasinya!

Geser dan ubah persepsi akan situasi “sulit” menjadi percikan peluang kreativitas untuk menjawab “situasi sulit” tersebut. Jadilah yang pertama sebagai penyebab atau problem solver  atas “situasi sulit” tersebut sebelum orang lain yang melakukannya duluan!

Pikiran kreatif, berpikir kreatif, creative thinking, menciptakan banyak peluang! Perubahan sosial juga “memaksa” manusianya untuk mampu berpikir kreatif, dengan me-utilisasi perubahan sosial. Dan pada era informasi yang berkembang pesat inipun, pikiran kreatif akan muncul “menunggangi” arus kuat kecepatan informasi.

Bagaimana caranya agar mampu mempersepsi suatu kondisi  atau situasi secara produktif?

Dengan melatih persepsi, mengaitkannya dengan misi pribadi dan melihat sisi positif dari suatu kondisi atau situasi tersebut.

Pergeseran pikiran dan emosi ke arah unsur-unsur kreativitas akan semakin menguatkan percikan pikiran kreatif ketika dibarengi dengan sikap open mind dan referensi yang dimilikinya.

Setiap orang tidak selalu berada pada situasi dan kondisi seperti gambaran di atas, yang menyebabkan terpicunya unsur kreativitas dalam pikiran. Lantas, apakah orang yang tidak berada pada situasi di atas, tidak terpicu atau sulit terpicu kreativitasnya atau pikiran kreatifnya?

Pikiran kreatif, creative thinking adalah gerak (aktif). Ia kompatibel dan membutuhkan ruang hidup yang dinamis juga sesuai dengan sifat alami sebuah gerak. Itulah mengapa, seseorang yang berada di zona nyaman (comfortable zone) bahkan menikmatinya, akan sulit kreatif. Namun bukan berarti tanpa berada pada kondisi atau situasi di atas, seseorang tidak bisa kreatif. Bisa, dengan mendaratkan pengalamannya pada situasi atau kondisi yang sama dengan kondisi atau situasi di atas. Pengalaman emosi yang sama. Artinya, orang tersebut membawa dirinya pada emotion state yang sama dengan emotion state pada saat mengalami kondisi atau situasi di atas.

Dan, memicu dan menguatkan anasir kreativitas dalam diri akan makin mudah jika bersama-sama, di mana energi kreativitas akan saling bertemu dan berinterferensi. Pemicuan ini tak hanya berlangsung secara sadar melalui pendekatan kognitif, sosio-kognitif, namun juga secara bawah sadar dan peningkatan kesadaran internal.

Sistem diri manusia termasuk perangkat pemikiran dan pengendaliannya adalah sistem yang hidup dan dinamis.

Change yourself! Be (more) creative and have your creative thinking skills !

________

Soft Skills Training

Mind Map Training

Iklan

Satu tanggapan untuk “Creative Thinking Skills Lancarkan Karir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s