Stop Merokok: Kebiasaan Merokok 30 Tahun Hilang Dalam 30 Menit


“30 Menit Melepaskan Diri Dari Kebiasaan Merokok Lebih Dari 30 Tahun”

Saya mem-posting artikel Stop Merokok ini setelah mendapatkan bukti nyata dari pengalaman pribadi saya sendiri. Berbeda dari postingan lain, yang berdasarkan pengalaman saya melakukan terapi atas orang lain, yakni para klien saya, postingan Stop Merokok ini saya awali dari pengalaman melakukan terapi terhadap diri saya sendiri! Setelah saya benar-benar yakin efek terapi ini telah permanen sebagaimana yang saya rasakan saat ini (pada saat saya mem-posting artikel ini), barulah saya berbagi informasi ini. Pembuktian ini perlu saya lakukan karena saya (ketika itu) adalah perokok, atau dengan kata lain: saya adalah pasien. 😀

Ini mah seperti testimoni pribadi… hehe… 😀 . Baru kali ini ada terapis merangkap jadi pasien.. hehe… 😀 . Ya iyalah.. terapis, trainer, konsultan, dkk itu juga manusia. Juga punya kelemahan. Bisa sakit. Bisa kena ketergantungan rokok. Bisa galau, dll. Tetapi, ia punya cara untuk mengatasinya. Sebenarnya setiap orang adalah terapis bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya.

Okay kembali ke.. urusan rokok tadi ya….

Mohon dicatat, postingan ini tidak berarti dan bermaksud anti rokok, menyalahkan rokok, menyalahkan orang merokok, apalagi menyalahkan pabrik rokok wa aalihi wa shahbihi ajmain 😀 . Ini sebatas informasi tentang stop merokok (berikut caranya). Sudah.

Kebiasaan merokok, pada sebagian orang malah berupa “ketergantungan”, “kecanduan” (walaupun para perokok akan enggan disebut demikian. Rokok adalah kebutuhan, gitu). Aktivitas merokok ini merupakan hal unik yang terjadi pada sebagian orang. Kebiasaan ini bisa berlanjut, bisa berhenti atau timbul tenggelam (kadang “kumat”)… Terjadi pada Anda? Saya pernah mengalaminya. Saya perlu memastikan bahwa setelah 2 tahun sejak melakukan terapi terhadap diri saya sendiri (terapi stop merokok), efek terapi ini benar-benar ngefek permanen.

Saya telah benar-benar berhenti merokok pasca terapi pada pada 2010 lalu. Mengapa saya membutuhkan waktu 2 tahun untuk memastikan bahwa efek terapi ini benar-benar ngefek permanen? Ada beberapa alasan:

1. Saya (dulunya) adalah perokok. Saya mulai merokok pada usia 10 tahun ketika khitan. Ini adalah korban doktrin ajaran leluhur orang kampung. Ya, tradisi masyarakat di lingkungan masa kecil saya, yang mengharuskan anak laki-laki khitan untuk merokok. Walaupun kala itu tak paham, merokok jugalah, yang kemudian saya tafsiri sebagai sebuah penanda bagi anak laki-laki yang sedang berjuang melampaui masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa: ditandai dengan “ritual” merokok! Asbabun nuzul ritual ini rupanya berasal dari anggapan bahwa ‘merokok’ adalah ‘kelaziman’ orang dewasa, bukan kanak-kanak (pada etape kehidupan berikutnya berubah menjadi ‘kezaliman’ hehe..). Entahlah. Yang pasti, saya telah berkenalan dengan rokok. Tetapi kebiasaan saya merokok ini terhenti begitu saja ketika saya berada di sekolah (waktu itu SD). Saya kan murid baik… ihik..

Khitan sembuh, aktivitas merokok pun selesailah sudah… kecuali jika ketemu kawan-kawan sepermainan dan “berpetualang” di kebun di belakang rumah ortu saya, yang rimbun dengan aneka pohon buah. Merokoklah kami di bawah pepohonan. Sejenis akar-akaran dan tetumbuhan menjalar yang kering jadi sasaran mata liar anak-anak ini.. hehe… Kadang, kami memberanikan diri mencuri gumpalan tembakau dan kertas rokok jatah tukang penjaga kebun yang terdapat di “dangau” di tengah kebun. Bapak saya yang naruh uborampe rokok tukang di situ.

Kelas 3 SMP “kumat” lagi, merokok lagi, di kamar, ndak ada orang lain. Masuk kelas 1 SMA, kebiasaan merokok terhenti. Kelas 2 SMA kumat, merokok lagi, berlanjut hingga lulus SMA dan studi S1. Tak sadar, ternyata saya ini seorang residivis merokok. Ketika kuliah inilah kebiasaan merokok mencapai titik kedahsyatan… 🙂 . Pasca kelulusan, menikah, masih merokok. Aktivitas merokok paused sementara ketika punya bayi. Artinya, kegiatan merokok dilaksanakan (kayak hansip yak, laksanakan…. 🙂 ) di luar jangkauan si bayi, yaitu di lingkungan pergaulan teman-teman, di luar rumah. Kebiasaan merokok (kecuali di area jangkauan bayi) berlanjut hingga saya berusia 37 tahun.

Saya pun berjuang secara konsisten untuk tidak merokok di dalam rumah, karena ada anak-anak saya. Seringkali insiden menghisap kenikmatan terhenti mendadak gara-gara anak sulung saya yang kala itu usia 8 tahunan, ketika memergoki saya sedang merokok, tak segan-segan langsung mencabut rokok itu dari bibir saya seraya berucap dengan nada tinggi “nanti dadanya sakit!”. Tak tahulah ini inisiatif sang bocah atau ada sponsornya… hehe…

Saya sempat berkali-kali menghentikan kebiasaan merokok ini pada usia tersebut setelah mendapat advis seorang ahli nutrisi yang mengatakan nikotin dalam tubuh menghancurkan kalsium sehingga memicu kerapuhan tulang, betapapun bagusnya asupan kalsium kita. Nah. Ini memotivasi saya untuk berhenti merokok. Berhasil. Selama 2 tahun saya berhenti merokok karena takut nutrisi asupan kalsium jadi mubazir dan kebayang tulang rontok! Hehe.. 🙂 . Rugilah saya mengonsumsi supplement food (kadang masih Marxist juga sih hehe..). Namun, sebuah momen kecil membuat saya kumat lagi di usia 39 tahun (saat mengerjakan penelitian S2). Kembali lagi merokok! Duh… 😀 . Inilah uniknya kegiatan merokok… hehe.. 😀 Asyeeekk…

2. Sering kumat merokok walaupun pikiran sadar saya telah memahami dan menyadari (bagi saya) akan bahaya/ efek negatif merokok (memasukkan asap ke dalam tubuh, mengasapi tubuh macam ikan asap). Setidaknya, bagi saya tak ada manfaat kesehatannya. Tak ada vitaminnya, kata seorang kawan perempuan 😀 (laki-laki tak akan menyebut ‘tak ada vitaminnya’ terhadap rokok; percayalah… 😀 ).

Nah, ketika saya telah memahami prosedur terapi dengan menggunakan hipnosis (hipnoterapi) kala itu, saya memulai melakukan percobaan terhadap diri saya sendiri (self hypnosis). Jika terbukti efeknya permanen, saya yakin bahwa kebiasaan (bahkan kecanduan merokok) juga bisa diatasi sebagaimana kondisi psikis/ mental negatif yang lain.

3. Pasca terapi pada tahun 2010 lalu hingga kini (saat posting tulisan ini), saya benar-benar telah berhenti merokok dan tidak ingin lagi merokok, sebagaimana yang telah lalu ketika saya berhasil berhenti merokok selama 2 tahun itu (karena didorong oleh keinginan luhur menyelamatkan diri dari bahaya laten kerapuhan tulang). Namun, sebenarnya, kala itu dalam pikiran diam-diam masih tersimpan kehendak untuk membutuhkan rokok.

Kini, yang saya rasakan adalah: SAYA TIDAK LAGI MEMBUTUHKAN ROKOK. Kondisi pikiran ini berbeda dengan kondisi ketika saya berhenti merokok selama 2 tahun pada waktu sebelumnya. Kala itu, walaupun sama-sama tidak merokok, kondisi tidak (mau) merokok adalah karena pengaruh (tekanan) dari luar (takut rapuh tulang, advis seorang ahli nutrisi), namun alam pikiran yang dalam (bawah sadar) masih tersimpan program “membutuhkan rokok”.

Keputusan “tidak merokok” lebih karena “paksaan”, tertekan oleh stimulus dari luar. Tidak ikhlas. Yakni hanya karena takut asupan nutrisi kalsium mubazir, takut kena osteoporosis, tulang rapuh, dsb. Namun, suatu ketika ketakutan ini akan lenyap hanya dengan “kesadaran baru” yakni misalnya: “jika karena tidak mau asupan kalsiumnya mubazir dan takut kena osteoporosis menyebabkan saya menolak merokok, masih banyak cara untuk mengatasinya..”. Alhasil, aktivitas merokok kumat lagi. Mengapa? Jawabnya sederhana: karena pikiran masih MEMBUTUHKAN (MENGIJINKAN) rokok!

Setelah terapi:

Pikiran telah TIDAK LAGI MEMBUTUHKAN rokok (tepatnya: MENOLAK atau MEMBUANG persepsi kenikmatan rokok dari pikiran). Berbeda. Kini, saya disamping tidak merokok, juga tidak membutuhkan rokok dan menjadi tidak nyaman dengan rokok. Tetapi kalau tengok sales rokok ya ndak apa-apa… hehe… 🙂

Terapi yang saya terapkan pada diri saya (tahun 2010 lalu) adalah selama 30 menit.

Hasilnya: yang saya rasakan, saya telah terbebas dari kebiasaan merokok. Benar-benar free, tanpa tertekan. Ikhlas full untuk kehilangan kenikmatan merokok dan kebiasaan merokok.

Anda yang berkeinginan berhenti merokok (karena alasan apapun), cobalah edukasi (afirmasi) pikiran anda:

“SAYA HENTIKAN MEROKOK DAN MENGHILANGKAN KEBIASAAN MEROKOK YANG SEBELUMNYA SEMPAT SAYA LAKUKAN, KARENA SAYA INGIN KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK YAITU DENGAN MEMBUANG ROKOK SUPAYA HIDUP SAYA LEBIH SEGAR DAN LEGA. KARENA SAYA MEMERLUKAN UDARA SEGAR BAGI PARU-PARU, TUBUH DAN KELANGSUNGAN HIDUP SAYA”

Ucapkan dalam hati dengan sungguh-sungguh dalam keadaan hati dan pikiran tenang (baca: Heart and Mind Intelligence). Insya Allah kebiasaan merokok akan terhenti. Jika belum ngefek, ulangi lagi hingga berhasil. Saya berhasil kok hanya dalam satu kali!… Jika masih membandel, berarti Anda memerlukan bantuan seorang terapis.

Nikmati kehidupan yang segar, bebas asap rokok, inspirasi otak lebih kaya dan fresh dengan oksigen cukup, bukan asap… 😀 .

Anda yang masih merasa “pikiran tidak fresh jika tidak merokok”, sesungguhnya anda telah kehilangan kepercayaan diri dan kehilangan “cara pembuatan keputusan yang otonom”.   Karena anggapan “pikiran tidak fresh jika tidak merokok” yang melekat, itu artinya anda meletakkan “remote diri anda” pada “sesuatu di luar (kendali) diri” anda, yaitu ‘rokok’. Kenapa tidak digeser saja “remote” itu ke dalam diri anda sendiri?

Dengan modus yang sama, teknik menggeser emosi (emotion shifting) ini biasa saya lakukan untuk melakukan terapi pemberdayaan diri pada para klien saya.

 

Oh ya, untuk membantu mempermudah afirmasi tadi, ini saya sediakan AUDIO PENUNTUN untuk STOP MEROKOK. Mau? Silakan download deh…

Audio ini berbatas waktu. Jika ketika men-download, anda tidak mendapati file ini, silakan kontak kami melalui komentar di bawah tulisan iniya… sertakan alamat email aktif anda. File kami email.

Aturan Pakai (jiaah.. kayak tulisan di bungkus obat pilek anak-anak 🙂 ):

Dengarkan dengan menggunakan headset atau earphone ya, biar tetangga ndak ikutan… Lakukan sendiri di dalam kamar, suasana rileks, dan rilekskan pikiran anda… Dahului dengan berdoa yaa.. Kemudian, dengarkan dan ikuti audio ini dengan mantap jiwa….  Hanyutkan perasaan anda bersama audio ini…

 

Epilog

Cuma, kadang saya berpikir, jika semua orang jadi stop merokok, bagaimana kelanjutan pabrik rokok wa aalihi wa shahbihi ajmain ya… (pegawai pabrik rokok, distributor rokok, kios rokok, pedagang asongan rokok, pabrik kertas rokok, petani tembakau, blandong, makelar tembakau, buruh tani ladang tembakau, petani cengkeh, dll…).

Dan jika mereka stop merokok beneran gara-gara tulisan saya ini, apakah saya berdosa pada pabrik rokok wa aalihi wa shahbihi ajmain ya…

Beruntung kita, Tuhan Maha Adil dan Bijaksana… Semua pasti akan berbahagia…

Salaam…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s