Creative Thinking Skills

Creative Thinking Skills


Apa itu Creative Thinking Skills ?

human factor for creativity
creative thinking skills training

Creative thinking, berpikir kreatif, merupakan skills, atau keterampilan, atau kecakapan, yang perlu dibentuk, ditumbuhkan, dibina dan dikembangkan. Modal dasar yakni pikiran, boleh sama, namun menjalankan pikiran secara kreatif, berpikir secara kreatif, untuk memunculkan tindakan dan penciptaan akan sesuatu yang baru dan belum ada dalam garis kehidupan dan karir, belum tentu ada dan sama pada tiap orang. Mengapa? Karena penciptaan hal baru kadang dianggap tidak perlu. Mengapa? Karena dalam kesehariannya ia tidak memerlukan sesuatu yang harus baru tersebut. Mengapa? Karena ia telah merasa cukup dengan apa yang ia dapatkan dan tidak merasa membutuhkan kebaruan karena baginya menuntut kebaruan sama dengan ribet, dan mencari perkara saja. Tambahan, di titik ini orang biasanya mempertukarkan dengan tafsir atas doktrin falsafah hidup yang menganggap “menerima apa adanya” adalah sikap ikhlas yang menandakan keluhuran budi pekerti. Tafsir yang keliru penempatan ini telah menjadi program dalam dirinya, menjadi mental block yang menghalangi daya kreasi dan progresivitas serta kemauan untuk berpikir tentang kebaruan dalam hidupnya, atau berpikir kreatif, creative thinking. Anggapan ini, telah menyandera daya cipta dan daya kreativitasnya. Karena “sikap kreatif” dan “menerima konsekuensi hasil dengan sabar dan ikhlas” adalah hal yang berbeda, keduanya berada pada ruangan yang berbeda. Yang pertama (kreatif) harus ada dulu, sehingga point kedua (sikap sabar dan menerima) dapat muncul sebagai hasil dari point pertama. Okay, tulisan ini tidak hendak membahas mental block  penyandera daya kreatif, tetapi pada penumbuhan daya kreatif, pikiran kreatif, creative thinking skills pada diri seseorang.

Mengapa Creative Thinking Skills

creative thinking skills training
Pelatihan Creative Thinking Skills dan Motivasi Kerja Bagi Pendamping Sosial (PNPM)

Berpikir tentang kebaruan, hasrat untuk mencipta hal baru, produk baru, cara baru, yang mana dengan kebaruan tersebut bisa mempermudah kehidupan dan karirnya, itulah kreativitas. Berpikir kreatif, creative thinking,  adalah berpikir tentang kebaruan, penciptaan hal baru, cara baru. Mengapa ini dibutuhkan? Bukankah dengan ‘hidup begini saja’ sudah cukup? Mungkin benar, tetapi hidup ini tidak linear, tidak dapat diprediksi dan tidak ada jaminan musti lurus, lempeng tanpa hentakan, belokan, tikungan atau tanjakan, turunan bahkan jalan berkelok-kelok dan mungkin jalan buntu. Karenanya musti ada kreativitas. Dimensi kehidupan dan karier tidak hanya berorientasi eksternal yakni apa-apa yang dihadapi dan dikerjakan, tetapi juga berorientasi internal, berurusan dengan pengelolaan diri sendiri. Kreativitas adalah penemuan cara baru, jalan baru. Berpikir kreatif, creative thinking adalah aktivitas berpikir dengan cara baru untuk mencari cara baru. Dan, creative thinking adalah sebuah skills.

“Pekerjaan saya rutin, itu-itu saja yang saya kerjakan, dan dengannya saya digaji cukup untuk hidup, jadi saya  tidak perlu kreatif biar gak repot dan nambahi pekerjaan”

“Yakin, dengan ‘itu-itu saja’ bisa mengelola pekerjaan tanpa menurunkan semangat dan produktivitas?”

Kreativitas, berpikir kreatif, creative thinking, tidak hanya berurusan dengan pengelolaan pekerjaan, namun juga pengelolaan dalam diri. Berpikir dan bertindak yang ‘itu-itu saja’, memandegkan pikiran, menyempitkan pandangan, rentan terhadap tekanan atau stres.

Berpikir kreatif, creative thinking, membawa pada tindakan kreatif, outputnya adalah mampu melakukan pekerjaan dengan cara-cara baru, jalan baru, lebih mudah menemukan solusi atas masalahnya karena terlatih menempuh jalan baru. Bagi pikiran kreatif, jalan selalu tampak luas dan terang. Jika bertemu masalah, ia hanya “bingung” sekilas, namun segera menemukan cara baru. Tuiiing…! Cliiiing…. !

Berpikir kreatif, creative thinking tidak hanya terkait pekerjaan yang menuntut kreativitas tinggi semacam marketer, sales person, tim kreatif maupun sektor-sektor lain yang membutuhkan cara-cara baru dalam berbisnis atau bekerja, namun juga pada jenis-jenis pekerjaan rutin bahkan mereka yang tidak bekerja pun membutuhkan pikiran kreatif atau creative thinking ini! Yakni bagaimana ia melalui hari-harinya yang sarat pekerjaan rutin itu dengan ‘cara yang tidak membosankan’, cara baru, sehingga tidak membuat jenuh. Atau, melalui hari-harinya yang (katanya) tanpa kerjaan itu dengan ‘cara baru’, sehingga nganggur-nya lebih asyik dan menantang sehingga gak bosenin. Yakin, menganggur itu asyik dan gak bosenin? Tetap perlu kreativitas cuy…. hehe… Jadi, berpikir kreatif atau creative thinking itu digunakan dalam kondisi apa saja tanpa kecuali! Menganggur dengan kreatif! Keren kan…. 😀 Point ini akan saya bahas pada tulisan tersendiri.

pelatihan bagi pendidik
melatih berpikir kreatif

Kreatif dalam pekerjaan dan karir, kreatif dalam “kesendirian” (pekerja mandiri), kreatif dalam pengejaran karir yang belum tuntas atau belum tergenggam. Tidak ada “pengangguran” dalam kamus saya. Yang ada hanyalah “berproses dalam pengejaran karir dan penciptaan”. Karir yang direncanakan dan penciptaan yang dirancang untuk produktivitas diri ada kalanya tidak selalu selaras dengan kondisi dan situasi lingkungan. Jika belum selaras, maka proses pencarian akan terus berlanjut, dan ini mutlak perlu kreativitas! Creative thinking seeking new ways.

Pekerjaan rutin, yang sekilas dianggap tidak memerlukan kreativitas, juga memerlukan cara kreatif untuk melakukannya tanpa jenuh dan tanpa mengeluh. Apalagi pekerjaan yang membutuhkan kebaruan terus-menerus. Creative thinking adalah sebuah cara hidup menarik dan menantang. Ia bukan sesuatu yang given, terberi, takdir, tetapi suatu jenis kecakapan, keterampilan, skills yang perlu dan bisa dipelajari.

Creative thinking skills adalah suatu kecakapan hidup untuk membuat hidup lebih hidup, dalam kondisi apapun. Creative thinking skills adalah basic life skills yang merupakan dasar (basic) dari aktivitas apapun.

Bagaimana Membina Creative Thinking Skills ?

Creative thinking skills pada diri seseorang dapat dibina sejak kecil, dalam pendidikan yang membuatnya kreatif dan mampu berpikir kreatif, dibina melalui pergaulan keluarga, pergaulan sosial teman sebaya, teman sepermainan dan aktivitas kelompok edukatif.

Dalam konteks ini, kreativitas, pikiran kreatif, mutlak harus dibina sejak usia dini. Ini tantangan bagi keluarga dan lembaga pendidikan usia dini!

Pada level pendidikan usia dini ini, baik di keluarga maupun di lingkungan lembaga pendidikan, bahkan di lingkungan sosial, anak-anak harus sesering mungkin mendapat rangsangan yang memicu pikiran kreatifnya. Pendidikan usia dini bukanlah pendidikan miniatur orang dewasa, yang membawa anak pada alam pikir yang dipahami orang dewasa. Secara khusus, akan saya tulis tersendiri.

Creative Thinking Skills pada ORANG DEWASA dapat dibina dan diperkuat melalui suatu bentuk rangsangan atau stimulus andragogi yang bersinggungan dengan hasrat pencarian cara baru.  Kuncinya adalah open mind, mau menerima perubahan, menyadari kekurangan diri dan memerdekakan pikiran.

Kemerdekaan berpikir adalah suatu bentuk keadilan sejak dalam pikiran, baik untuk diri sendiri dan orang lain, termasuk untuk anak-anak kita.

Creative thinking skills juga dapat dibina melalui keseharian kita di rumah, lingkungan sosial, lingkungan pendidikan maupun  lingkungan kerja. Creative thinking skills dibina dan ditumbuhkembangkan dalam iklim komunikasi yang memberdayakan.

Creative thinking skills tumbuh subur pada pribadi yang memiliki suasana emosional yang relatif stabil (bukan berarti harus tanpa masalah), bersifat open mind, dan bersedia atau membuka diri secara sadar untuk berubah ke arah lebih baik.

Saya selalu memasukkan unsur creative thinking skills pada setiap pelatihan saya, karena creative thinking skills adalah jenis keterampilan generik, yang harus dimiliki oleh setiap orang. Pelatihan bagi guru, pendamping sosial (social workers) dan pada pelatihan bagi pelajar.

Creative thinking skills menciptakan positive thinking dan sebaliknya. Creative thinking skills juga menyemai soft skills dan sebaliknya. Powerful bagi seseorang yang memilikinya!

Bagaimana Memicu Creative Thinking Skills ?

Creative thinking, pemikiran kreatif bisa terpicu oleh beberapa situasi atau kondisi yang tercipta. Sutuasi atau kondisi tersebut adalah antara lain:

  • Terpaksa atau kondisi keterpaksaan. Atau sering dikenal dengan “kepepet”. Karenanya ada istilah “The Power of Kepepet” sebagai strategi untuk memunculkan kesuksesan. Ya, kesuksesan yang dimulai dari keseriusan yang terpicu oleh “kondisi terpaksa”. Banyak kisah sukses berlatar pikiran kreatif yang berawal dari “keterpaksaan” ini.
  • Keterbatasan atau kondisi keterbatasan. Ini mencakup keterbatasan sumberdaya, situasi, waktu, “kesulitan” dan sebagainya.
  • Ketidakpuasan. Perasaan tidak puas, termasuk tidak mudah puas akan suatu situasi dan kondisi sekitar, akan membawa seseorang pada hasrat untuk mencari cara baru, pemikiran baru.
  • Tidak menerima keadaan yang sekarang. Ini menyebabkan seseorang akan bergerak untuk mencari tahu dan mencari cara baru.
  • Protes. Protes adalah ekspresi ketidakpuasan atau ketidakcocokan dengan standard yang diyakini sesuai dengan misi pribadi seseorang.  Karenanya, protes akan membawa pada sikap ‘mencari alternatif’ yang dianggap sesuai dengan standard-nya.
  • Frustrasi dan sakit hati. Frustrasi, yang biasanya berlanjut pada sesi berikutnya yakni ‘sakit hati’ akan memicu gerak libido pikiran yang luar biasa. Ini merupakan energi sangat besar. Keadaan (emotion state)  ‘frustrasi dan sakit hati’ adalah suatu kondisi level lanjut dari “tidak menerima keadaan yang sekarang” bercampur hasrat ingin ‘protes’. Ini akan membuat pikiran bergejolak luar biasa dan ada hasrat “balas dendam”. Emosi ini mendekatkan pada kemauan dan penguatan niat.
  • Perubahan, perubahan sosial, atau situasi yang sedang berubah. Perubahan-perubahan yang terjadi pada kehidupan sosial kita, apalagi saat ini, perubahan sosial terjadi sangat cepat (rapid social change) karena perkembangan teknologi informasi – komunikasi (Information & Communication Technology, ICT). Penggunaan internet, media online, membawa perubahan tersendiri dalam cara menyikapinya, cara hidup manusianya. Kecepatan informasi, kecepatan perubahan, mau tak mau akan “menggiring” manusianya untuk beradaptasi, dan “memaksa” manusianya untuk berpikir kreatif.

Bagaimana menciptakan “kondisi yang memicu creative thinking” ?

Tidak semua orang ketika berjumpa atau mengalami kondisi keterpaksaan, keterbatasan, ketidakpuasan dll tersebut di atas, lantas bisa menerjemahkan secara positif menjadi pemikiran kreatif. Semua tergantung dari cara pandang atau bagaimana mempersepsi suatu kondisi. Kemudian me-utilisasinya!

Geser dan ubah persepsi akan situasi “sulit” menjadi percikan peluang kreativitas untuk menjawab “situasi sulit” tersebut. Jadilah yang pertama sebagai penyebab atau problem solver  atas “situasi sulit” tersebut sebelum orang lain yang melakukannya duluan!

Pikiran kreatif, berpikir kreatif, creative thinking, menciptakan banyak peluang! Perubahan sosial juga “memaksa” manusianya untuk mampu berpikir kreatif, dengan me-utilisasi perubahan sosial. Dan pada era informasi yang berkembang pesat inipun, pikiran kreatif akan muncul “menunggangi” arus kuat kecepatan informasi.

Bagaimana caranya agar mampu mempersepsi suatu kondisi  atau situasi secara produktif?

Dengan melatih persepsi, mengaitkannya dengan misi pribadi dan melihat sisi positif dari suatu kondisi atau situasi tersebut.

Pergeseran pikiran dan emosi ke arah unsur-unsur kreativitas akan semakin menguatkan percikan pikiran kreatif ketika dibarengi dengan sikap open mind dan referensi yang dimilikinya.

Setiap orang tidak selalu berada pada situasi dan kondisi seperti gambaran di atas, yang menyebabkan terpicunya unsur kreativitas dalam pikiran. Lantas, apakah orang yang tidak berada pada situasi di atas, tidak terpicu atau sulit terpicu kreativitasnya atau pikiran kreatifnya?

Pikiran kreatif, creative thinking adalah gerak (aktif). Ia kompatibel dan membutuhkan ruang hidup yang dinamis juga sesuai dengan sifat alami sebuah gerak. Itulah mengapa, seseorang yang berada di zona nyaman (comfortable zone) bahkan menikmatinya, akan sulit kreatif. Namun bukan berarti tanpa berada pada kondisi atau situasi di atas, seseorang tidak bisa kreatif. Bisa, dengan mendaratkan pengalamannya pada situasi atau kondisi yang sama dengan kondisi atau situasi di atas. Pengalaman emosi yang sama. Artinya, orang tersebut membawa dirinya pada emotion state yang sama dengan emotion state pada saat mengalami kondisi atau situasi di atas.

Dan, memicu dan menguatkan anasir kreativitas dalam diri akan makin mudah jika bersama-sama, di mana energi kreativitas akan saling bertemu dan berinterferensi. Pemicuan ini tak hanya berlangsung secara sadar melalui pendekatan kognitif, sosio-kognitif, namun juga secara bawah sadar dan peningkatan kesadaran internal.

Sistem diri manusia termasuk perangkat pemikiran dan pengendaliannya adalah sistem yang hidup dan dinamis.

Change yourself! Be (more) creative and have your creative thinking skills !

__________________________

Artikel lain tentang Creative Thinking Skills:

Creative Thinking Skills Lancarkan Karir

Iklan

2 tanggapan untuk “Creative Thinking Skills

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s